Penyelam Ini Mati Syahid

Klik untuk perbesar
Syachrul Anto

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di tengah pencarian jenazah korban Lion Air JT610, kabar duka datang. Seorang penyelam tim SAR gabungan tewas lantaran mengalami dekompresi. Syachrul Anto, penyelam hebat itu, mati syahid. Kabar duka ini pertama kali muncul di akun media sosial Facebook milik Yosep Safrudin, rekan Syachrul pada dini hari kemarin.“Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Pahlawan kemanusiaan yang sangat mulia. Terlibat beberapa kali evakuasi korban pesawat (Lion, Air Asia) dan Kapal Pelni. Harus berakhir jatah rezekinya di alam fana ini di perairan Karawang, saat mengevakuasi beberapa paket jenazah JT610,” tulis Yosep.

Syachrul Anto adalah anggota Indonesian Diver Rescue Team. Dia menjadi relawan Basarnas dalam pencarian jenazah korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610. Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi menjelaskan, tim kehilangan jejak Syachrul di dalam laut saat mereka menyelam pada Jumat (2/11) sore, sekitar pukul 17.00 WIB. “Ternyata saat dicari, sudah ada di atas,” ungkap Syaugi di Posko JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok, kemarin. Saat ditemukan, Syachrul sudah tidak sadarkan diri. Tim kemudian melakukan pertolongan pertama. Syahrul yang disebut Syaugi merupakan penyelam dengan kualitas tinggi, militan, senior, dan memiliki jam selam yang cukup tinggi itu dimasukkan ke dalam chamber atau bilik untuk dekompresi. Namun, upaya itu tak berhasil.


“Ternyata Tuhan menghendaki lain. Kita bawa tadi malam secepatnya ke Jakarta, kemudian ke RS Koja,” beber Syaugi. Informasi yang diterima wartawan, Syahrul dibawa ke RS Koja pukul 22.10 WIB. Saat itu Syahrul sudah dalam kondisi tidak sadar, tidak ada respons, tidak ada denyut nadi, dan tidak ada napas. Kemudian pukul 22.30 WIB setelah dilakukan pemeriksaan, dia dinyatakan meninggal oleh dokter jaga. Dokter pun menyarankan untuk melakukan proses otopsi ke RSCM. Namun, pihak keluarga dan Basarnas menolak karena hendak langsung dibawa ke rumah duka di Surabaya, Jawa Timur. Syaugi pun menyampaikan duka cita. Dia menyebut Syachrul sebagai pahlawan kemanusiaan. “Saya sebagai Kabasarnas turut berduka sedalam-dalamnya atas gugurnya pahlawan kemanusiaan, tim relawan kita, demi tugas negara dan bangsa,” tuturnya.

Baca Juga : Pidato Jokowi Di Visi Indonesia, Yunarto: Lebih Berani

Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Laut Isswarto mengatakan, Syachrul meninggal karena mengalami dekompresi. Dekompresi muncul ketika tubuh merasakan perubahan tekanan air atau udara yang terlalu cepat, sehingga nitrogen dalam darah membentuk gelembung yang menyumbat pembuluh darah dan jaringan organ. “Diduga dekompresi, karena tekanan, bekerja tidak tahu waktu,” bebernya. Menurut Isswarto, Syachrul menyelam lebih lama dari jadwal yang ditentukan. “Almarhum menyelam lebih lama dari seharusnya. Sesuai jadwal, para penyelam naik jam 16.00 WIB, tetapi dia naik 30 menit lebih lam. Kita tutup jam empat karena cuaca gelap. Tapi kok masih ada yang menyelam,” katanya.

Terpisah, Pimpinan Indonesia Rescue Diver Team, Bayu Wardoyo mengatakan, korban dievakuasi dari laut menggunakan kapal Victory milik Pertamina. Kemudian, sekitar pukul 21.30 WIB, menuju dermaga JICT 1. “Habis itu langsung dibawa ke RSUD Koja, tapi dinyatakan meninggal pukul berapa tepatnya, kita nggak ada data. Terus dibawa ke rumah duka di Surabaya,” tutur Bayu.


Jenazah lelaki yang bertempat tinggal di Komplek DPR Jalan Garuda 1 Cakung dibawa ke Surabaya, kemarin pagi sekitar pukul 5.00 WIB dan tiba pukul 08.00 WIB. Syachrul kemudian dimakamkan pukul 11.30 WIB di TPU Bendul Merisi.  Tempat peristirahatan terakhirnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah duka, Jalan Bendul Merisi Gang VIII, Nomor 41, Kecamatan Wonocolo, Surabaya. Almarhum Syachrul kerap terlibat dalam misi kemanusiaan. Tahun 2015, Syachrul ikut dalam penyelaman untuk mencari korban pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata. Kemudian, saat gempa dan tsunami mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September lalu, Syachrul juga jadi relawan di sana selama seminggu.

Baca Juga : Kapal Tabrak Crane Pelabuhan Tanjung Emas, Kerugian Ditaksir Capai Rp 60 M

Lyan Kurniawati, istri almarhum Syachrul, kaget mendengar ketika petugas Basarnas mengabarkan meninggalnya sang suami lewat telepon pada Jumat malam, sekitar pukul 08.00 WIB. “Saya cuma kaget karena berangkatnya sehat, tiba-tiba dikabari itu tadi malam,” ungkapnya. Tak ada firasat kepergian Syachrul yang dirasakan Lyan. Hanya saja, Syachrul sempat mengirim puisi tentang “takdir” yang menggambarkan bahwa maut sudah ditentukan oleh Yang Kuasa. Lyan mengaku sudah mengikhlaskan kepergian sang suami.

Gugurnya Syachrul saat bertugas membuatnya kebanjiran ucapan duka. Termasuk, dari Presiden Jokowi. “Saya sampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya penyelam kita Syahrul Anto. Semoga almarhum diterima Allah SWT dan keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan,” tutur Jokowi di JCC, kemarin. Di jagad medsos, ribuan ucapan duka cita bagi Syachrul mengalir deras. Kebanyakan mendoakan Syachrul mati syahid. Salah satunya, akun Instagram resmi Kemenkomaritiman, @kemenkomaritiman. “Insya Allah syahid,” tulis akun itu dengan menambahkan tagar fallen hero atau pahlawan yang gugur.


Di jagad Twitter, netizen juga memiliki keyakinan yang sama. “Selamat jalan, Pak. Upahmu besar di Surga nanti,” cuit @cindyprasetia_ sambil menambahkan ikon senyum di akhir cuitannya. “Orang yang lagi kerja untuk keluarga, meninggal itu dihitung syahid, masuk surga. Ini dia kerja demi kemanusiaan, bantu orang yang lagi kesusahan. Mungkin kalo gw jadi Tuhan, beliau gw kasih free pass bisa bolak balik dunia akherat,” seloroh @romanfootball. “The real jihad,” imbuh @brian_wardana. Banyak juga yang menyebut Syachrul adalah seorang pahlawan. “Pahlawan kemanusiaan sukarela yang berdedikasi tinggi , insya Allah sorga tempatmu bang, selamat jalan dan terima kasih yang tiada tara,” puji @harryluuq. “The real hero. Alfatihah,” imbuh @uciiiiiii_. “Innalillahi. Not all heroes wear cap," sambung @utushardiono. [OKT]

RM Video