Soal Teror Bom Pimpinan KPK

Novel: Ini Harus Jadi Momentum Ungkap Semua Teror

Klik untuk perbesar
Penyidik KPK Novel Baswedan di Pengadilan Tipikor, kamis (10/1). Pada 2017, Novel juga pernah menjadi korban teror KPK. tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor usai pulang sholat Subuh di Masjid Jami Al Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan berharap, teror bom molotov di rumah dua pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M. Syarif bisa menjadi momentum agar semua serangan terhadap para pekerja di komisi antirasuah itu bisa dibuka. “Kalau soal teror, pada dasarnya saya berharap ini bisa menjadi momentum agar semua serangan kepada orang-orang di KPK bisa dibuka,” ujar Novel di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl. Bungur Raya, Jakarta Pusat, Kamis (10/1). 

Novel khawatir, jika tidak diusut, aksi teror itu bisa berulang. Bahkan, semakin jadi atau meningkat. Karena itu, dia menyebut aksi ini harus mendapat perhatian dari Presiden Jokowi. “Kita berharap, semoga Bapak Presiden mendesak Polri untuk mengungkap ini semua dan tidak sampai seperti yang lain-lain, tidak terungkap sama sekali,” pinta Novel. 

Ia juga meminta Presiden membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta untuk mengusut serangkaian aksi teror tersebut. “Itu bisa melibatkan semua kalangan yang bisa membantu pengungkapan ini,” imbuhnya. Novel tak mau berspekulasi apakah pelaku teror terhadap Agus dan Syarif berasal dari kelompok yang sama dengan penyerangnya. “Saya bisa saja berspekulasi. Cuma, saya pikir tidak tepat kalau di awal-awal kita spekulasi. Sekarang ini, yang sudah terjadi diungkap saja,” tutup Novel. 

Sebelumnya, Wadah Pegawai (WP) KPK mencurigai aksi teror terhadap dua pimpinan KPK itu memiliki korelasi dengan aksi teror sebelumnya terhadap sejumlah penyidik dan pegawai KPK. Teror ini adalah yang kesembilan yang pernah dialami oleh komisi itu. Di antaranya Afief Yulian Miftach dan Novel Baswedan. 

Ketua WP Yudi Purnomo menyebut, dari beberapa kali aksi teror terhadap KPK, ada kemiripan dan keterkaitan dengan teror sebelumnya. "Ada beberapa korelasi yang kami tangkap. Pertama pelakunya 2 orang yang naiki motor, tapi wajahnya ditutupi. Punya korelasi yang sama dengan pelakunya Bang Afief dan Bang Novel. Bang Afief bom, kemudian air keras mobil. Bang Novel juga," katanya saat menggelar konferensi pers di KPK, Rabu (9/1) malam.

Dari kesamaan itu, WP menilai pelaku merupakan jaringan yang sama sejak aksi teror terjadi. "Kami juga yakin, ini bukanlah yang terakhir. Bisa jadi, besok ada penyelidik jaksa atau petugas KPK lainnya yang diteror," ungkapnya. Oleh sebab itu, WP meminta ada sikap berbeda yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan presiden. [OKT]

RM Video