Akan Persenjatai Pegawai Setelah Teror Bom Palsu

Ketua KPK Parno?

Klik untuk perbesar
Ketua KPK Agus Rahardjo. (Foto: Tedy Octariawan Kroen/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Teror bom yang menghampiri rumah Ketua KPK Agus Rahardjo ternyata bom palsu. Istilah kerennya: fake bomb. Namun, Ketua KPK tetap meningkatkan pengamanan. Dia pun mewacanakan pegawai KPK akan dibekali senjata saat bekerja. Semoga ini bukan tanda KPK parno.

Kepastian bom palsu yang menyasar rumah Ketua KPK di Bekasi pada Rabu (9/1), didapat dari hasil analisis Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri. "Terkonfirmasi, itu fake bomb," ungkap Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal di Mabes Polri, Kamis (10/1).

Bom palsu dalam tas warna hitam yang disangkutkan di pagar depan rumah Agus, memang bermaterikan sejumlah elemen yang biasa digunakan dalam pembuatan bom. Di antaranya pipa PVC, sekring, kabel kuning, biru dan orange dan baterai Panasonic Neo 9 Volt berbentuk kotak. Tapi, Iqbal bilang, peralatan itu tidak berada dalam satu rangkaian atau firing device selayaknya bom. "Bom itu dinyatakan palsu karena tidak memiliki detonator," tegas Iqbal.

Isi bom palsu itu adalah paku berukuran 7 cm dan serbuk putih. Namun, pada saat dianalisis Puslabfor, serbuk putih itu bukan bahan peledak. "Bukan explosive, bukan black powder, TATP (triacetone triperoxide), dan lain-lain. Itu semen putih," jelas Iqbal.

Menurutnya, bom palsu itu dikirim ke rumah Ketua KPK hanya untuk menakut-nakuti. Kendati bomnya palsu, polisi tetap memburu pelakunya. Tapi, ada sedikit kendala. CCTV di rumah Agus rusak. Polisi lalu meminta CCTV yang ada di sekitar lokasi.

"Kita urut terus ke belakang CCTV-nya," imbuh Iqbal. Berbeda dengan bom di rumah Agus, dua bom yang disimpan di rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Kalibata, dipastikan sebagai bom molotov. Yang satu tidak pecah dan tidak meledak. Yang satu meledak. "Itu sedang kami analisis," tutur Iqbal.

Ia meminta masyarakat agar tenang dan tak membuat asumsi macam-macam. "Ini kasus kriminal yang merupakan domain polisi. Tidak usah mem-framing macam-macam dulu. Kebetulan saja, mungkin ada momentum saat ini. Kita fokus kepada fakta hukum, fakta di lokasi kejadian," tutupnya.

Meski bom palsu, KPK mengevaluasi keamanan anggotanya. Komisi antirasuah berencana membekali pegawainya dengan senjata tertentu. "Kami sedang mengevaluasi. Mungkin nanti petugas KPK akan dilengkapi dengan senjata tertentu. Ini akan kita bicarakan hari-hari ini," ungkap Agus di Hotel Bidakara, Kamis (10/1).

Agus mengatakan, langkah-langkah pengamanan juga dilakukan terhadap penyidik KPK. Langkah serupa pernah dilakukan ketika terjadi kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

Agus memastikan siap memberi keterangan soal bom di rumahnya, untuk membantu kepolisian mengungkap pelakunya. "Ya siap. Tadi malam, sudah disampaikan ke saya, kapan ada waktu dimintai keterangan. Tadinya saya minta tadi malam sekalian. Tapi, teman-teman minta istirahat. Mungkin, nanti datang ke kantor, ujarnya.

Agus enggan berandai-andai apa motif di balik teror itu. Namun, dia memastikan, aksi teror tak akan menghentikan kerja KPK memberantas korupsi. "Jangan sampai membuat kita takut. Kita terus melangkah dan berjuang. Dukungan dari Anda, masyarakat sangat dibutuhkan, tegasnya.

Jubir KPK Febri Diansyah mengaku belum mendengar analisis Polri soal bom palsu. "Yang pasti, ini bisa saja upaya mengganggu atau meneror pimpinan KPK. Tentu itu yang perlu diungkap. Pelakunya siapa, tujuannya apa, dan untuk kepentingan siapa sesungguhnya di balik ini semua. Tentu, kami harap bisa ditemukan oleh Polri," ujar Febri di Gedung KPK, Kamis (10/1) malam.

Apalagi, kata Febri, Presiden Jokowi juga sudah memerintahkan Kapolri menemukan pelaku teror bom palsu itu. Intimidasi atau serangan semacam ini bukan kali pertama diterima pegawai anti rasuah.

"Jika pelakunya bisa ditemukan, hal ini bisa mencegah teror-teror yang sama terulang kembali. Kalau pelaku tidak ditemukan, maka mungkin akan ada pelaku-pelaku atau teror-teror berikutnya. Kami harap itu tidak terjadi," imbuh eks aktivis ICW ini.

Yang pasti, mitigasi risiko keamanan akan ditinjau ulang, jika ada kejadian teror semacam itu. Jika ada kekurangan, maka akan diperkuat. Namun, dalam bentuk apa upaya untuk memperbaiki dan memperkuat tersebut, Febri berahasia. "Itu bagian dari strategi pengamanan sendiri," tandasnya.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman menilai wacana Ketua KPK yang akan mempersenjatai pegawai KPK setelah adanya teror bom palsu, terlalu reaktif. Kesannya, Ketua KPK parnoan. Dia sepakat, meski dibilang bom palsu, namun aksi itu tetap disebut teror. Tetapi, dia tak sepakat jika pegawai KPK dipersenjatai.

"Saya tidak setuju KPK dipersenjatai. Percayakan pengawalan kepada kepolisian saja. Jangan parnoan," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Kamis (10/1) malam. Menurutnya, bukan cuma pegawai KPK yang punya risiko terkena teror. Siapa pun, bisa mendapat perlakuan serupa. Termasuk, dirinya sebagai aktivis anti korupsi. [OKT]

RM Video