Dijebloskan Ke Sel, Kolesterol Naik

Koruptor 106 Miliar Bakal Dipindah Ke Sukamiskin

Klik untuk perbesar
Sugiharto Wiharjo alias Alay. (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sugiharto Wiharjo alias Alay, terpidana korupsi Rp 106 miliar bakal dipindah ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung.

Saat ini, pemilik dan komisaris utama Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Tripanca Setiadana ini telah menghuni Lapas Rajabasa, Lampung.

Kepala Lapas Rajabasa Sujonggo mengatakan telah merekomendasikan ke Ditjen Pemasyarakatan agar Alay dipindahke lapas khusus narapidana perkara korupsi.

“Saya coba pindahkan ke Lapas Sukamiskin. Dia napi kejahatan tinggi, saya rekomendasi di sana saja. Masa tahanannya juga tinggi,” katanya.

Di Lapas Rajasa, Alay ditempatkan di Blok D sel nomor 13. Selnya berukuran 3x3 meter. Alay mendekam bersama 3 narapidana. Mereka juga penghuni baru. 

“Selama satu minggu akan melaksanakan masa pengenalan lingkungan (mapenaling),” kata Sujonggo. “Itu minimal. Kalau ada perkembangan lain, bisa nambah. Tapi kalau perkembanganke arah baik, kami keluarkan dari mapenaling.”

Menurut Sujonggo, kondisi Alay cukup sehat untuk menjalani masa hukuman. Namun kolesterolnya naik. Saat dicek 348 mg/dL. “Keterangan dokter pemeriksa seperti itu. Normalnya itu 200 mg/dL,” sebutnya.

Baca Juga : Djokovic Ditantang Debutan

Alay ditangkap tim gabungan Kejaksaan dan KPK saat berlibur bersama keluarganya di Bali, Rabu lalu. Tim gabungan telah membuntuti terpidana itu sejak dari Surabaya.


Alay sengaja menempuh perjalanan darat dengan Toyota Alphard ke Pulau Dewata. Supaya terhindar dari pemeriksaan identitas.Dari Bali, Alay bersama anak dan menantunya hendak berlibur ke Lombok. 

Pelariannya selama 4 tahun berakhir di hotel Novotel Tanjung Benoa, Bali. “Kami mengamankan terpidana saat bersama keluarganya sedang di ruang restoran hotel,” kata Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi Bali, Edwin Beslar dalam keterangan pers.

Selama buron, Alay sempat bepergian ke luar negeri. Singapura dan Australia. Belum diketahui, bagaimana cara terpidana itu bisa lolos pemeriksaan imigrasi di bandara. 

Alay diburu karena menjadi pelaku pembobolan dana Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur yang disimpan di banknya. 

Modusnya dengan mengajukan kredit fiktif ke banknya sendiri. Uang pencairan kredit fiktif lalu ditransfer ke rekening pribadi Alay. 

Pembobolan ini baru tercium 2008. Setelah BPRTripanca bangkrut dan diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pada Desember 2008, Bank Indonesia melaporkan BPRTripanca karena kredit macet atau kejahatan perbankan. 

Baca Juga : Jokowi-Maruf Dominasi Pilpres 2019 di Frankfurt

Pada Januari 2009, Alay ditetapkan tersangka kasus kredit fiktif Rp735 miliar di BPR Tripanca. Pada Juli 2009, Alay divonis penjara 5 tahun karena terbukti melakukan kejahatan perbankan. 

Selain itu, Alay dijerat dengan UU Korupsi atas pembobolan dana Kas Daerah Lampung Timur Rp108 miliar dan Lampung Tengah Rp28 miliar. 

LPS tidak mengganti uang kas kedua daerah yang disimpan dalam bentuk tabungan di Tripanca. Pasalnya penempatan dana bentuk tabungan dengan bunga 7,5-8,5 persen itu dilakukan di bawah tangan (under table). Tanpa melalui pembukuanyang sebenarnya. 


Pada 24 September 2012, Alay divonis hukuman penjara 5 tahun oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Tanjungkarang, Lampung. 

Di tingkat banding, Pengadilan Tinggi Lampung tetap menghukum Alay dipenjara 5 tahun. Tak puas dengan vonis ini, kejaksaan mengajukan kasasi. 

Namun berkas permohonan kasasi tak pernah sampai ke MA. Seorang pegawai perusahaan pengiriman barang dan paket PT Intrasco ditetapkan sebagai tersangka hilangnya berkas tersebut. 

Berkas permohonan kasasi dikirim ulang. Berdasarkan putusan kasasi MAnomor 510 K/PID.SUS/2014, Alay terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut. 

Baca Juga : Mantap Jiwa, Lacazette Loloskan Arsenal ke Semifinal

MA memperberat hukuman Alay menjadi 18 tahun penjara, denda Rp500 juta dan membayar uang pengganti Rp106,8 miliar. 

Putusan ini diketuk 21 Mei 2014. Setahun setelah Alay selesai menjalani masa hukuman atas kejahatan perbankan. 

Saat putusan MAhendak dieksekusi, Alay telah menghilang. Kejaksaan memasukkannya dalam daftar pencarian orang (DPO). 

Kasus raibnya dana kas daerah yang disimpan di Tripanca juga menyeret mantan Bupati Lampung Tengah, Andi Achmad Sampurna Jaya dan mantanBupati Lampung Timur, Satono. 

Berdasarkan putusan MA, Andi divonis 12 tahun penjara. Politisi Partai Golkar itu juga didenda Rp500 juta dan membayar uang pengganti Rp20,5 miliar. Andi masih menjalani hukuman di penjara. 


Sementara, Satono divonis lebih berat: 15 tahun penjara. Sama seperti Alay, Satono kabur untuk menghindari hukuman. Hingga kini belum tertangkap. [GPG]

RM Video