KPK Panggil Ulang Perempuan Saksi OTT Di Apartemen Bowo

Klik untuk perbesar
KPK (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wanita yang ikut diamankan saat operasi tangkap tangan (OTT) Bowo Sidik Pangarso, Siesa Darubinta, mangkir dari agenda pemeriksaan KPK Jumat lalu (12/4). 

Sedianya ia dimintai keterangan sebagai saksi perkara tersangka Asty Winasti, Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). 

“Siesa Darubinta, saksi untuk AWI (Asty Winasti), tersangka suap pelaksanaan kerja sama pengangkutan antara PILOG (Pupuk Indonesia Logistik PILOG dan PT HTK tidak hadir,” ungkap juru bicara KPK Febri Diansyah. Penyidik telah melayangkan panggilan ulang kepada Siesa. Ia bakal diminta hadir untuk menjalani pemeriksaan pekan ini. 

Siesa ikut diamankan saat OTT 27 Maret silam. Dicokok di apartemen Bowo bersama sopir pemilik hunian itu. Adapun Bowo lolos. Ia akhirnya dicokok di rumahnya. 

Berita Terkait : KPK Duga Penyuap Bowo Tak Bermain Sendiri


Bowo bersama Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti dan staf PT Inersia Indung ditetapkan sebagai tersangka suap kerja sama distribusi pupuk PT PILOG dengan PT HTK. 

Bowo diduga meminta komisi kepada PT HTK atas biaya angkut yang diterima sejumlah 2 dolar Amerika (USD) per metrik ton. Ada enam kali penerimaan yang diduga telah terjadi sebelumnya di sejumlah tempat sebesar Rp 221 juta dan USD 85.130. 

KPK mengendus Bowo juga menerima uang di luar kasus dugaan suap kerja sama distribusi pupuk. Tim KPK kemudian menemukan uang sejumlah Rp 8 miliar di Kantor PT Inersia, perusahaan milik Bowo. 

Uang dalam pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu telah dimasukkan dalam amplop-amplop. KPK menyita 82 kardus dan 2 boks yang berisi 400 ribu amplop. “Kami temukan fakta hukumnya amplop tersebut diduga akan digunakan pada serangan fajarí pada proses pemilu legislatif pada pencalegan BSP (Bowo),” kata Febri. 

Berita Terkait : Total Uang Amplop Bowo Sidik Rp 8,45 Miliar

Hingga kini, belum semua amplop dibuka. Butuh waktu lama untuk membuka semuanya. Pembukaan barang bukti harus sesuai prosedur dan dicatat dalam berita acara. 


Dalam proses penyidikan terungkap, Bowo butuh waktu sebulan untuk mengisi 400 ribu amplop dengan uang pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu. 

KPK bakal berkoordinasi dengan Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) terkait temuan cap jempol dalam amplop yang disiapkan Bowo untuk serangan fajar. 

Namun lembaga antirasuah masih fokus menangani kasus dugaan suap yang menjerat Bowo. “Korupsinya dulu saja yang prioritas, yang di luar kewenangan KPK nanti KPK koordinasikan (dengan Bawaslu),” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. 

Berita Terkait : Serangan Fajar

Saut melanjutkan jika Bawaslu menganggap amplop tersebut berkaitan dengan kepentingan menjaring suara Pilpres, pihaknya akan menindaklanjuti. Namun, Saut tak menyebut lebih rinci tindakan yang akan dilakukan KPK terkait kepentingan pil. “Ya begitu nanti kalau Bawaslu menganggap relevan difollow up,” katanya. 

Saat mengumumkan status tersangka Bowo, KPK menyebut terdapat cap jempol dalam amplop. Lembaga yang dipimpin Agus Rahardjo Cs itu menandaskan ratusan ribu amplop untuk kepentingan Bowo nyaleg. [GPG]

RM Video