Ini Kronologi OTT Bupati Cantik Talaud

Barang Mewah Itu Rencananya Jadi Kado Ultah Bupati Sri

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan 6 orang di Jakarta dan Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara pada Senin (29/4) dan Selasa (30/4). Keenamnya adalah Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip (SMW), Benhur Lalenoh (BNL) dan supirnya, pengusaha Bernard Hanafi Kalalo (BHK) dan anaknya, serta Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Ariston Sasoeng.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan membeberkan kronologis penangkapan ini, dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (30/4) malam.

Awalnya, pada Minggu (28/4), Bernard dan anaknya membeli barang-barang mewah. “Berupa 2 tas, 1 jam tangan dan seperangkat perhiasan berlian dengan total nilai Rp 463.855.000 di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta,” ungkap Basaria.

Rinciannya, tas tangan Channel seharga Rp 97.360.000, tas Balenciaga senilai Rp 32.995.000, jam tangan Rolex seharga Rp 224.500.000, anting dan cincin berlian Adelle senilai masing-masing Rp 32.075.000 dan Rp 76.925.000.

Berita Terkait : KPK Lakukan Pelimpahan Tahap Dua, Bupati Cantik Talaud Segera Disidang

Barang itu merupakan bagian dari fee 10 persen yang diminta Bupati Sri kepada Bernard melalui Benhur, terkait 2 proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Kepulauan Talaud, yakni Pasar Lirung dan Pasar Beo.

Karena dibutuhkan pengukuran tangan yang pas untuk Bupati Sri, maka jam baru dapat diambil esok harinya, Senin (29/4). Terjadi komunikasi, barang akan diantar bupati kelahiran 8 Mei 1977 itu.


 “Direncanakan, akan diberikan saat ulang tahun Bupati SWM,” ujar Basaria.

Sebelum barang-barang tersebut dibawa ke Talaud, pada 29 April malam, sekitar pukul 22.00 WIB, tim mengamankan Benhur dan sopirnya, serta Bernard di sebuah hotel di Jakarta. Tiga orang itu dibawa ke kantor KPK.

Berita Terkait : Bupati Cantik Talaud Klaim Pemberian Barang Mewah Karena Rasa Senang

Pada saat itu, diamankan sejumlah barang yang diduga merupakan fee proyek. Tim kemudian mengamankan anak Bernard keesokan harinya, Selasa (30/4) pukul 4 pagi di salah satu apartemen di Jakarta.

Sementara itu, di Manado, tim mengamankan Ariston pukul 08.55 WITA dan mengamankan uang Rp 50 juta. Terakhir, tim mengamankan Bupati Sri di kantornya pada pukul 11.35 WITA.

Melalui jalur udara, Ariston dan Sri diterbangkan ke Jakarta oleh tim terpisah. “Tim yang membawa SWM mendarat di bandara Jakarta sekitar pukul 18.30 WIB, langsung menuju Kantor KPK untuk proses lebih lanjut,” tandas Basaria.

Sri tiba di Gedung KPK, Jl. Kuningan Persada, Jakarta Selatan pukul 20.15 WIB. Dia mengaku bingung, kenapa dirinya diciduk tim komisi antirasuah itu. Sebab, dia mengaku tak pernah menerima sejumlah barang mewah seperti yang dituduhkan KPK.

Berita Terkait : Sisa Jabatan Tinggal 2,5 Bulan Lagi, Sri Tersangkut Kasus Suap

“Saya bingung gitu, karena barang tak ada saya terima tiba-tiba dibawa ke sini gitu,” ujar Sri yang mengenakan baju lengan panjang biru motif batik dengan topi bulu.


Kalimat “tidak benar” diulangnya 3 kali. “Tidak benar saya terima hadiah, tidak benar, tidak benar. Barang saya tidak terima, tidak ada barang itu,” elaknya sembari memasuki lobi Gedung KPK. [OKT]