KPK Segera Limpahkan Berkas Kasus Garuda Ke Pengadilan

Emirsyah Satar Harus Siap, Sebentar Lagi Bakal Ditahan

Klik untuk perbesar
Emirsyah Satar (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - KPK telah merampungkan berkas perkara kasus dugaan suap pengadaan pesawat dan mesin pesawat dari Airbus S.A.S dan Rolls-Royce P.L.C pada dengan tersangka mantan Dirut Garuda Indoensia Emirsyah Satar. Dengan rampungnya berkas itu, Emiesyah harus siap jika dalam waktu dekat dia bakal ditahan.

Kasus ini sebelumnya telah mangkrak lebih dari 2 tahun. Emirsyah sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus sejak Januari 2017. Setelah sekian lama, akhirnya berkas untuk kasus tersebut selesai. Berkasnya tinggal dilimpahkan ke pengadilan.

“Kalau Garuda sih itu sudah selesai. Tinggal pelimpahan saja. Jadi, itu saya anggap selesai Garuda,” ujar Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, di Gedung KPK lama, Kavling C1, Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (15/5). Syarif mengemukakan hal itu ketika dimintai tanggapan soal kritikan Indonesia Corruption Watch (ICW) bahwa ada 18 kasus yang mangkrak di KPK. 

Berita Terkait : Sesalkan Kasus Garuda, KPK: Jangan Ada Lagi Direksi BUMN yang Rugikan Negara


Dalam kasus ini, selain Emirsyah, KPK juga menetapkan beneficial owner Connaught International Pte Ltd Soetikno Soedarjo sebagai tersangka. Sebelumnya, kedua tersangka ini tak ditahan lantaran ada batas waktu penahanan. 

“Kan nggak boleh lebih dari waktu tertentu. Gimana kalau berkasnya belum selesai (tapi masa penahanan habis)," ucapnya.

KPK membutuhkan waktu lama untuk merampungkan kasus ini lantaran semua bukti, berupa berkas yang tebal dalam bahasa Inggris. “Kalau bahasa Indonesia sebenarnya sudah lama jadi. Jadi harus diterjemahkan, harus bukti-buktinya itu kan ini investigasi bersama SFO (KPK-nya Inggris) dan CPIP (KPK-nya) Singapura. Kan bahasa Inggris,” seloroh Syarif. 

Berita Terkait : Dua Tahun Jadi Tersangka, Emirsyah Satar dan Penyuapnya Akhirnya Ditahan

Ditanya apakah penyidik akan segera menahan Emirsyah dan Soetikno, Syarif tidak menjawab secara pasti. “Pokoknya, kalau itu sudah ini, itu akan enggak lama lagi. Pokoknya sebelum kami selesai lah,” tandasnya. 


Dalam perkara ini, Emirsyah diduga menerima suap 1,2 juta euro dan USD 180 ribu atau senilai total Rp 20 miliar serta dalam bentuk barang senilai USD2 juta yang tersebar di Singapura dan Indonesia dari perusahaan manufaktur terkemuka asal Inggris, Rolls Royce dalam pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 pada PT Garuda Indonesia. Pemberian suap itu dilakukan melalui seorang perantara Soetikno Soedarjo selaku beneficial owner dari Connaught International Pte. Ltd yang berlokasi di Singapura. Soektino diketahui merupakan presiden komisaris PT Mugi Rekso Abadi (MRA), satu kelompok perusahaan di bidang media dan gaya hidup.

Rolls Royce sendiri oleh pengadilan di Inggris berdasarkan investigasi Serious Fraud Office (SFO) Inggris sudah dikenai denda sebanyak 671 juta poundsterling atau sekitar Rp 11 triliun karena melakukan pratik suap di beberapa negara antara lain Malaysia, Thailand, China, Brazil, Kazakhstan, Azerbaizan, Irak, Anggola. Emirsyah disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar.

Berita Terkait : Kasus Garuda, KPK Periksa Lagi Emirsyah Dan Penyuapnya

Sedangkan Soetikno sebagai pemberi disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana paling singkat 1 tahun dan lama 5 tahun ditambah denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 250 juta. [OKT]

RM Video