Kebakaran Hutan Dan Lahan Masih Terjadi

Warga Riau Khawatir Kabut Asap Tebal Muncul Kembali

Klik untuk perbesar
Ilustrasi Kebakaran hutan di daerah.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Pemerintah dan jajarannya pun terus berupaya memadamkan itu.

Masyarakat Riau, mulai khawatir bencana kabut asap bakal terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya. Seorang warga Pekanbaru, Ari berharap kabut asap tidak terjadi lagi. Beberapa tahun lalu kabut asap sangat tebal hingga mengganggu aktivitas warga sehari-hari. “Jarak pandang jadi terbatas, mau ke mana-mana jadi susah,” katanya. 

Senada dengan itu, Eka menuturkan, sejak berita kebakaran lahan mulai sering bermunculan, dirinya memerintahkan anakanaknya main dalam rumah saja. Meski belum sampai kabut asap yang tebal, dia khawatir buruknya kualitas udara bisa membahayakan kesehatan anakanak. “Kebakaran lahan itu tiap tahun ada, apalagi saat musim kemarau, pasti bertambah lagi,” ujarnya. 

Warga lainnya, Lucky berharap pemerintah segera mengantisipasi terjadinya kabut asap. Saat kabut asap di Riau beberapa tahun lalu, lalu lintas penerbangan sempat terhenti. 

“Makin susah lagi kalau nggak ada penerbangan. Kita di Pekanbaru terperangkap asap bingung mau pergi ke mana,” ungkap nya. 

Mau pakai mobil pun jarak pandang juga terhalang kabut asap. Warga berikutnya, Erwin, hanya bisa pasrah dengan karhutla dan kabut asap yang rutin melanda Riau dan sekitarnya. 

Berita Terkait : Pertamina EP Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan

“Sudah panas, ditambah kabut asap juga, beginilah kami yang tinggal di Pekanbaru,” sebutnya. Pe merintah diminta mencari solusi agar karhutla dan kabut asap bisa dituntaskan. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menyebutkan, kabut yang terjadi di Pekanbaru pada Kamis (25/7) pagi bukan asap melainkan haze. 

“Bukan (asap karhutla), mungkin kalaupun ada cuma kecil aja, kalau di BMKG malah tidak terpantau, titik hospotnya juga beberapa hari ini juga su dah kurang. Dipastikan yang di Pekanbaru ini bukan kabut asap,” ujar Kasi Data dan In formasi BMKG Stasiun Pekan baru, Marzuki. 

Dia menambahkan, kalaupun ada sedikit kabut di Pekanbaru bukan karena karhutla, melainkan uap air. Karena hari sebeKebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Pemerintah dan jajarannya pun terus berupaya memadamkan itu. lumnya tidak banyak titik panas. 

“Kalau pun ada kabut di Pekanbaru itu karena masih ada kandungan uap air yang tercampur partikel padat. Bukan asap,” terangnya. 


Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, provinsi yang mengalami kebakaran hutan dan lahan terbesar adalah Riau yang mencapai 27.683 hektare, dilanjutkan Kalimantan Timur 5.153 hektare. 

Berita Terkait : 42 Lahan Disegel KLHK Terkait Karhutla

Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat menjadi provinsi yang mengalami kebakaran hutan terbesar berikutnya, yakni masing-masing 4.969 hektare dan 2.273 hektare. Data sementara lahan dan hutan yang terbakar di seluruh Indonesia mencapai 42.740 hektare. 

Parahnya, karhutla ini juga terjadi di berbagai kabupaten di Provinsi Jambi. Kondisi ini sulit dikendalikan, di tengah musim kemarau panjang saat ini. 

Karhutla di daerah itu masih terus terjadi karena masih ada oknum-oknum petani yang sengaja membakar lahan. Karhutla tersebut antara lain terjadi di Desa Muntialo, Kecamatan Betara, Tanjungjabung Barat dan kembali terjadi di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Luas areal hutan dan lahan yang terbakar mencapai puluhan hektare. 

Karhutla di Desa Muntialo, Tanjabbar mencapai dua hektare dan karhutla di empat kecamatan di Kabuaten Sarolangun mencapai lima hektare. Karhutla di dua kabupaten itu diduga disengaja oknum-oknum tertentu. Pemadaman karhutla di daerah itu relatif sulit karena lokasi jauh dan sulit dijangkau. Kemudian sumber air di sekitar areal hutan dan lahan yang terbakar juga sulit didapatkan. 

“Lahan yang terbakar di Sarolangun terdapat di Keca matan Sarolangun, Pauh, Batgin VIII dan Limun. Luas lahan yang terbakar mencapai lima hektare. Pemadaman karhutlah sulit dilakukan karena akses masuk ke kawasan areal yang terbakar sulit,” kata Kepala Dae rah Operasional (Kadaops) Manggala Agni Sarolangun, M Hakim di Jambi. 

Menurutnya, karhutla di Sarolangun sudah beberapa kali terjadi sejak awal Juli lalu. 

Berita Terkait : Kasus Suap Perkara Penipuan, KPK Masih Periksa Aspidum Kejati DKI

“Petugas pemadam kebakaran masih siaga mengantisipasi kembali terjadinya karhutla. Karhutla di Sarolangun terus berulang. Karena masih ada oknum petani yang sengaja membakar untuk membuka dan membersihkan lahan,”ujarnya. 

Menurut Hakim, pemadaman karhutla di Sarolangun umumnya sulit dilakukan. Karena akses ke kawasan hutan dan lahan yang terbakar sulit. Sebagian lokasi kebakaran berada di daerah perbukitan dan sumber air sulit. Pada pemadaman karhutla di Limun misalnya, tambanya, lokasi kebakaran berada di perbukitan yang sulit dijangkau dan air sulit. 

Petugas terpaksa mengangkut air sejauh 700 meter dari lokasi pengambilan air menuju lokasi kebakaran. Sementara kawasan hutan dan lahan yang kering mudah terbakar. Pemadaman pun sering lambat dan areal yang terbakar cepat meluas. 

“Pemadaman kebakaran lahan di Limun baru bisa dilakukan setelah petugas berjuang memadamkan api sekitar enam jam,” katanya. 

Terkait hal ini, Gubernur Jambi, Fachrori Umar, kembali mengimbau para petani dan pengu saha perkebunan dan kehutanan di Jambi menghentikan pembakaran-pembakaran untuk pembukaan dan pembersihan lahan. 


“Saat ini musim kemarau. Areal hutan dan lahan kering dan mudah terbakar. Saya juga minta kembali, agar aparat keamanan menindak tegas para pelaku pembakaran hutan dan lahan,” ujarnya. [OSP]