Asosiasi Petani: Kinerja Mentan Atasi Cabe Sangat Dirasakan

Klik untuk perbesar
Pedagang sedang memilah cabe (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Harga bagus di tingkat petani saat ini disambut antusias para petani cabe setelah beberapa bulan harganya tak kunjung membaik. Asosiasi Champion Cabe Indonesia menilai membaiknya harga cabe di pasaran saat ini harus disikapi secara adil dan bijak. Kenaikan harga cabe disebabkan karena berbagai faktor, tidak hanya soal budidaya. Justeru yang lebih dirasakan langsung petani terkait tata niaga yang belum tuntas dan dampak kekeringan yang melanda sebagian besar sentra produksi. 

Ketua Asosiasi Champion Cabe Indonesia, Tunov Mondro Atmojo, meminta semua pihak untuk lebih obyektif menilai kondisi harga cabe saat ini. "Tanpa bermaksud membela diri atau menyalahkan siapapun, mestinya para pengamat juga vokal ketika harga cabe di petani jatuh anjlok seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Saat petani merugi, nyaris tidak ada yang bersuara. Lah sekarang saat petani baru merasakan harga bagus, sudah lantang menyalahkan sana sini," ujar Tunov, di Solo, Selasa (6/8)

Menurut Tunov, akibat dari jatuhnya harga cabe beberapa waktu lalu, petani menderita kerugian besar bahkan tak sedikit yang terlilit utang sarana produksi. "Saking rendahnya harga, banyak petani yang enggan merawat lahan cabenya. Lah gimana untung kalau biaya petik dan operasional panen lebih mahal dari harga jualnya?" ucapnya.

Berita Terkait : Kementan Kembangkan Kawasan Buah Tropis Berorientasi Ekspor

Pemerintah, lanjut Tunov, khususnya Kementan di bawah komando Menteri Andi Amran Sulaiman benar-benar kami rasakan sudah banyak berbuat untuk petani. "Justru yang kami pertanyakan apa langkah konkret instansi lainnya? Bagaimana dengan tata niaga cabe? Bagaimana dengan infrastruktur mendukung pertanian? Tolong bagi para pengamat jangan skeptis kalau berkomentar, apalagi cenderung tendensius menilai sepihak," tambahnya.


Kepala Sub Direktorat Cabe, Direktorat Jenderal Hortikultura, Mardiyah Hayati, menegaskan pihaknya terus melakukan langkah-langkah konkrit mengamankan pasokan dan harga cabe. "Yang namanya pembinaan petani itu sudah menjadi DNA kami sebagai pemerintah. Sudah menjadi tugas pokok kami sehari-hari. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari bimbingan teknis budidaya, penguatan kelembagaan, pemasaran, fasilitasi bantuan sarana produksi, gudang pascapanen dan sebagainya. Tentunya kami tidak sendirian, tapi melibatkan dinas dan instansi terkait. Kalau belum semua mendapat bantuan itu wajar karena keterbatasan anggaran yang ada. Kalau ada yang mempertanyakan komitmen pembinaan kami rasanya kok janggal," ujarnya.

Kementerian Pertanian, kata Mardiyah, terus melakukan perbaikan tata kelola produksi cabe melalui manajemen pola tanam berbasis kebutuhan riil. "Kami hitung detail kebutuhan cabe sebagai dasar perencanaan produksi. Kami evaluasi mana daerah surplus mana yang masih minus agar membantu memudahkan pengaturan distribusi antar wilayah. Ada semuanya (datanya)," kata Mardiyah. 

Berita Terkait : Jaga Kualitas Benih Pangan, Kementan Kaji Sistem Distribusi yang Efisien

Terkait benih unggul, pihaknya akan mendorong benih-benih lokal yang terbukti adaptif terhadap perubahan cuaca untuk dilakukan sertifikasi. "Selama ini benih hibrida produksi pabrikan banyak mendominasi. Benih-benih lokal yang unggul dan adaptif juga terus kita pacu pengembangannya. Namun harus tetap diupayakan tersertifikasi untuk melindungi petani cabe," terang Mardiyah. 

"Sebagai contoh baru baru ini Ditjen Hortikultura berkunjung ke Cianjur dan bertemu petani yang tanam cabe lokal dikenal di pasar sebagai cabe domba atau cabe setan, ternyata bisa panen sampai 60 kali dengan hasil mencapai 15 ton per hektar, dan relatif tahan kekeringan, kekayaan alam Indonesia seperti inilah yang seharusnya dikembangkan oleh perusahaan perbenihan" tambah Mardiyah.

"Coba seandainya banyak petani cabe tanam varietas seperti ini, walaupun musim kemarau pasti cabenya tahan karena tanaman cabe tidak perlu banyak air. Banyak cabe rawit lokal yang petani enggan beralih ke lain hati seperti yang ada di Jawa Timur dengan nama lokal Manu, Prentul, Brenggolo dan lain lain, kita dorong Dinas Pertanian setempat untuk mendaftarkan cabe lokal tersebut supaya punya nama resmi," tukasnya

Berita Terkait : Alhamdulillah, Target Bangun 10 Pabrik Gula Tercapai


Praktisi cabe, Abdul Hamid,  juga mengapresiasi upaya Kementan menjaga pasokan cabe. "Ini tugas kita bersama. Para petani juga harus terus didampingi dan dihimbau agar lebih efisien lagi dalam mengelola usaha budidaya berbasis teknologi maju. Makin efisien biaya produksinya, petani akan semakin tangguh menghadapi kondisi dinamika harga apapun," kata Hamid. [KAL]