HAKA, Ulama Modernis Pembela Pakaian Ala Barat (1)

Dibenci Oleh Ulama Kaum Tua

Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh. Mantan Wartawan Rakyat Merdeka
Klik untuk perbesar
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh. Mantan Wartawan Rakyat Merdeka

RMco.id  Rakyat Merdeka - Lembar sejarah di awal abad ke-20 –terutama di Sumatra Barat, diramaikan dengan wacana modernisasi Islam, yang digawangi oleh murid-murid terbaik dari Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA) adalah satu dari ratusan murid terbaiknya, yang mengusung konsep modernisasi Islam –yang jauh berbeda dengan gerakan Padri (1803-1837). Meskipun gerakan yang kerap dituding ‘wahabi’ ini berujung gagal dan dipadamkan pemerintah Kolonial Belanda, Padri pada dasarnya telah meletakkan pondasi kuat puritanisme, sehingga memuluskan langkah Kaum Muda melanjutkan gerakan Islam modernis jilid dua.

Uniknya, murid-murid Syekh Ahmad Khatib itu, juga membangun identitas mereka masing-masing. Mereka menamakan dirinya Kaum Muda. HAKA –ayah kandung dari ulama besar HAMKA menampilkan identitasnya yang unik –terutama dalam penampilan luarnya. Ia memelihara kumis tebal dan lentik, dan berbusana ala Barat, dipadu dengan Mesir.

Baca Juga : Kapan Virus Corona Wafat? Wallahualam

Dalam setiap penampilannya di foto, HAKA selalu memakai jas, pantalon, dasi, baju kerah kaku, dan kerap memakai tarbus. Ulama Kaum Tua menuduh mereka ber-tasyabbuh (Arab; menyerupai) dan berperilaku kafir. Kaum Tua mencela pilihan busana Kaum Muda yang menyimpang dari tuntunan Islam dan menjurus pada kaum kafir itu.

HAKA atau yang juga dikenal dengan julukan Inyik De eR itu bergeming. Lihat saja HAKA menandai dirinya dalam busana jas, celana panjang, dasi, tarbus ala Turki. Dilihat dari setelan jas dan dasinya, HAKA bisa saja merujuk pada fashion gaya Eropa atau Turki.

Besar dugaan, busana ala Turki —diadopsi HAKA berdasar pengalaman empirisnya selama bermukim di Mekah, atau ketika membaca pers al-Munir dan al-Manar. Cara duduk HAKA dan posisi tangan memegang tongkat pun, seakan mencitrakan dirinya sebagai wakil Islam modernis dan membantah segala tuduhan kafir dari Kaum Tua.

Baca Juga : Agama Negara, Negara Agama, dan Negara Sekuler (2)

Hamka (1958: 66-67) dalam Ayahku beberapa kali mengisahkan gaya berbusana HAKA, yang dianggap aneh, sekaligus unik pada masa itu. Kisahnya bermula pada 1911, dimana Kampung Kubu di tepian Maninjau, ingin menyelenggarakan shalat Jumat. Sudah beberapa kali 40 orang pemuda meminta persetujuan kepada kepala nagari, namun ditolak ninik mamak.

Datuk Makhudum—seorang penghulu kepala mencium gelagat, HAKA berada di balik tuntutan anak nagari Kubu. Ia pun marah besar. HAKA harus berhadapan dengan otoritas adat, sekaligus anak Tuanku Laras.

Ketika pelaksanakan salat Jumat tiba, HAKA menunjukkan identitas modernisnya. Anak Tuanku Kisai itu, tidak lagi memakai jubah kebesaran ulama Naqsyabandiyah. Malah ia memakai jubah anggur hijau ala Syekh Muhammad Abduh, kain serban Halabi, dan berkaca mata hitam. Benar-benar identitas yang sama sekali baru di kampung halamannya.

Baca Juga : Bamsoet Apresiasi Usaha Kaum Milenial Majukan UMKM

Seluruh murid pengajiannya mengiring di belakang laki-laki berkumis tebal itu. Jumat berikutnya, HAKA tetap tampil dengan style yang sama—berjubah, bertongkat, dan berkaca mata hitam. Bersambung