HAKA, Ulama Modernis Pembela Pakaian Ala Barat (2)

Melawan Fatwa Yang Serampangan Mengkafirkan

Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh. Mantan Wartawan Rakyat Merdeka
Klik untuk perbesar
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh. Mantan Wartawan Rakyat Merdeka

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sanggahan Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA) terhadap fatwa haram memakai pakaian Barat, diungkap dalam Qati’ Riqb al-Mulhidin fi ‘Aqaid al-Mufsidin. HAKA dalam pemaparannya menegaskan, Islam tidak pernah memberatkan umatnya berbusana (Amrullah, 1914: 103).

Bahkan, bila seorang laki-laki ketika umrah dan berhaji seharusnya berpakaian ihram, sambung HAKA, tapi malah berpakaian yang lain— maka dia tidak keluar dari Islam atau menyalahi imannya. Ia hanya tidak mengikuti salah satu kewajiban dari rukun haji yang telah ditentukan, sehingga ia harus membayar fidiah.

HAKA juga menyayangkan fatwa gegabah Kaum Tua, bahwa orang yang berpakaian ala Eropa dan Turki langsung dituduh kafir dan telah merusak imannya.

Baca Juga : KBRI Dukung Pameran Hannover Messe 2020 di Paris

Juga tidak masuk akal, sambung HAKA, apabila persoalan pakaian itu dianggap melanggar adat istiadat. Karena tidak satu pun dalam aturan adat Minang yang melarang memakai pakaian di luar adat dan tidak disebutkan sanksi apa yang harus diterima si pemakai busana.

Tentunya, pena tajam HAKA ini “menampar” Kaum Tua yang serampangan mengkafirkan, atau pun para penghulu yang menuduh tidak memakai kain sesamping, sama saja melanggar adat Minang-kabau.

Dalam Qati’ Riqb al-Mulhidin fi ‘Aqaid al-Mufsidin, Haji Abdul Karim Amrullah menegaskan, tuduhan-tuduhan jahat (Kaum Tua dan Syekh Jusuf Nabhani) yang dialamatkan kepada ratusan juta orang Turki, Arab, Mesir, dan Suriah merupakan bentuk kebencian dan tidak beralasan. Ia pun merujuk pada riwayat Bukhari, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah memakai jubah dari bangsa Roma.

Baca Juga : Terpilih Jadi PM Malaysia ke-8, Muhyiddin Sujud Syukur di Rumahnya

HAKA kemudian menyanggah, apa yang menjadi dasar dari Kaum Tua untuk mengkafirkan muslim yang memakai pakaian ala Barat. Lebih lanjut ia menulis:

Jangan-jangan mereka itu lebih dulu jatuh pada larangan agama dengan mengada-adakan atas agama akan barang yang tiada kurang apa-apa. Sekalipun demikian itu dibenci oleh orang-orang yang mempunyai muru’ah (tertib, sopan), tiadalah harus dengan sebab demikian itu mengada-adakan barang yang tiada dari agama.

Fatwa HAKA membela cepiau dan pantalon dalam al-Munir dan Qati’ Riqb al-Mulhidin fi ‘Aqaid al-Mufsidin, rupanya tidak meredakan ketegangan. Bukannya respon negatif yang diterimanya dari kalangan masyarakat, malah jas, pantalon, dasi, cepiau, dan topi Panama segera mewabah di Sumatera Barat (Hamka, 1958: 85-86).

Baca Juga : Virus Corona Gentayangan Di Mana-mana, AS Tunda Pertemuan Dengan Para Pemimpin ASEAN

Busana modern ala Eropa oleh sebagian masyarakat, dianggap lebih maju, bernilai estetika, teknologi, dan menunjukkan identitas sosial. Dalam perspektif HAKA, busana jenis ini boleh dipakai ketika bekerja, berceramah, dan acara-acara resmi lainnya. Habis