In Memoriam Kasim Munafy (1)

Perintis Bahtera Masa Era Kolonial Yang Dibredel

Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatra Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh Mantan Wartawan Rakyat Merdeka.
Klik untuk perbesar
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatra Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh Mantan Wartawan Rakyat Merdeka.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Seabad lebih gerakan Islam berkemajuan menggema di Tanah Air, telah melahirkan jejaring organisasi dan amal yang tersebar luas di Nusantara dan tokoh-tokoh terkemuka baik di tingkat nasional hingga lokal. Dari sekian tokoh yang ada di tanah air, sedikit sekali yang memimpin organisasi dalam waktu yang lama. Kasim adalah pimpinan Muhammadiyah Padang Pariaman, yang memimpin dalam kurun waktu tiga zaman, yakni 1952-1995.

Dalam fase yang cukup panjang itu, laki-laki kelahiran 30 Juni 1917 di Pauh Kurai Taji Pariaman (Arsip Formulir Pendataan Mubaligh dan Mubalighat Muhammadiyah, 1994) ini, memiliki keunikan tersendiri. Kasim yang menyelesaikan pendidikannya di Schkakel School Pariaman, merupakan satu dari sekian pendiri kepanduan Hizbul Wathan, bergerak merintis pers ‘Bahtera Masa’ di masa Kolonial Belanda. Akibat kritik yang dilancarkan oleh surat kabarnya, Bahtera Masa pun dibeslag dan dibredel oleh asisten residen Padang Panjang. Karena dianggap merusak tatanan rust en Orde.

Kasim, demikian panggilan akrabnya, lahir dari pasangan Haji Abdul Munaf asal Batang Tajongkek dan Nurani dari Pauh Kurai Taji. Ayahnya bersuku Guci, adalah saudagar kaya di Kurai Taji. Dan Nurani (dipanggil Ande) bersuku Tanjung, seorang petani dan ibu rumah tangga.

Berita Terkait : BNI Syariah Relokasi Cabang Veteran Makassar

Kasim merupakan anak kedua dari tiga orang bersaudara. Kakak tertuanya bernama Sulaiman Munaf (1912) dan adiknya bernama Aminah (meninggal di usia tiga tahun). Dilihat dari profesi ayahnya, kehidupan Kasim bersaudara berada dalam taraf mapan.

Ketika Kasim menginjak usia 5 tahun, Haji Munaf wafat di usia 50 tahun. Setelah itu Nurani menikah kembali dengan seorang saudagar asal Batang Kabung Nagari Padusunan, bernama Haji Hamzah (Kasim Munafy, 1979: 1).

Kasim masih mengingat, pada 1927, ketika berusia 10 tahun bersama dengan andenya menjemput Haji Hamzah di pantai Gondoriah Pariaman. Rupanya ayah tiri Kasim menyewa pesawat kecil buatan Belanda, hanya untuk mengitari Pariaman beberapa menit dengan membayar sewa sebesar f 30. Tentu bisa dibayangkan, Kasim masih tetap berada dalam kehidupan menengah ke atas.

Baca Juga : Arab Saudi Larang Warga Negara-negara GCC Masuk ke Mekkah dan Madinah

Korong Pauh Nagari Kurai Taji tempat kelahiran Kasim hanya berjarak 10 kilometer dari pusat tarekat Syattariyah di Ulakan. Nagari Kurai Taji sendiri berada di bawah pengaruh ulama Tarekat Syattariyah (Mansur, 1970: 179).

Ajaran tarekat Syattariyah yang disebarkan Syekh Burhanuddin memang berpengaruh besar di Pariaman. Tak heran, di Kurai Taji berdiri dua surau beraliran Syattriyah. Yakni Surau Batu dan Surau Lubuk Ipuh. Lokus utama dari dua surau ini adalah Masjid Punago Panendangan –atau kini dikenal dengan Masjid Raya Kurai Taji.]

Surau Batu dan Suru Lubuk Ipuh sampai di awa abad ke-20 merupakan pilihan utama tiap orang tua di Nagari Kurai, untuk anak laki-lakinya mengaji Alquran. Bila anak seusia tujuh tahun sudah belajar di kedua surau itu, namun tidak demikian dengan Sulaiman dan Kasim.

Baca Juga : Bangun Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Bisa Terapkan Intervensi Terbatas

Nurani malah langsung mengajarkan kedua anaknya itu mengaji. Setelah menamatkan Juz ‘Amma, Kasim diserahkan oleh Nurani, untuk melanjutkan keislaman-nya di Surau Paninjauan–berjarak tiga kilometer. Surau inilah yang menjadi pilar utama gerakan modernisasi Islam di Kurai Taji, pasca berdirinya Darul Maarif dan Thawalib Padusunan. (Bersambung)