In Memoriam Kasim Munafy (2)

Jadi Saksi Lahirnya Muhammadiyah Kurai Taji, Dikawal Jago Silat

Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh Mantan Wartawan Rakyat Merdeka.
Klik untuk perbesar
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatera Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh Mantan Wartawan Rakyat Merdeka.

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Seabad lebih gerakan Islam berkemajuan menggema di Tanah Air, telah melahirkan jejaring organisasi dan amal yang tersebar luas di Nusantara dan tokoh-tokoh terkemuka baik di tingkat nasional hingga lokal. Dari sekian tokoh yang ada di tanah air, sedikit sekali yang memimpin organisasi dalam waktu yang lama. Kasim Munafy adalah pimpinan Muhammadiyah Padang Pariaman yang memimpin dalam kurun waktu tiga zaman, yakni pada 1952-1995.”

Adnan gelar Tuanku Itam ketek – murid utama dari Syekh Muh. Thaib Umar adalah punggawa utama di Surau Paninjauan. Kakak kandung dari Sidi Moh Ilyas itu membina surau yang terletak di pinggir jalan utama Kurai Taji

Pendidikan formal mulai ditempuh Kasim, ketika menginjak usia 10 tahun. Ia bersekolah di Volk School (Sekolah Desa) Kurai Taji pada 1927. Setahun berjalan, bangunan sekolahnya runtuh, akibat gempa 7,8 SR yang berpusat di Padang Panjang.

Dalam manuskripnya Kasim mengisahkan, murid-murid Volk School pindah ke bangunan yang terletak terletak di Balai Kurai Taji, atau tepat berada di depan tugu proklamasi di depan jalan berbelok ke arah Surau Dagang (Kasim Munafy, 1979:1) 

Baca Juga : Soal Upah Buruh, Ini Penjelasan Aice

Pada 1928 selama menempuh pendidikan di Tweede Klasse School (sekolah kelas dua) yang terletak di sebela garasi Bagindo Moh. Nur. Kasim selalu berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer dari nagari Pauh menuju ke Batang Tajongkek Kurai Taji. 

Pada 1929, memasuki tahun ketiga pendidikan formalnya, lokasi belajar Kasim dipindahkan ke serambi rumah Inyik Midah, atau terletak di selatan Balai Kurai Taji. Di rumah itu juga kepala sekolahnya yang berasal dari Padang Panjang yang bernama Tasai menginap. 

Masa pendidikan Kasim sempat terhenti ketika bangunanrumah Inyik Midah ambruk karena gempa Padang Panjang 1927. Selain itu bangunan Volk School juga hancur, sehingga guru-guru Volk School memindahkan sekolah itu di bagian tanah yang kosong. 

Dua minggu setelah gempa, murid-murid pun melanjutkan sekolahnya di atas runtuhan rumah Inyiak Midah. Demikianlah aktivitas Kasim yang terdidik. Tiap usai sekolah, ia tidak pulang ke rumah ande di Pauh, melainkan langsung ke Surau Paninjauan untuk mengaji Quran. 

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Kasim yang menjadi saksi berdirinya persyarikatan pada 25 Oktober 1929 di Kurai Taji, masih berusia 12 tahun. Keterbatasan tenaga dan masih sedikitnya masyarakat Kurai Taji yang tertarik bergabung menjadi sebab utama terjunnya ia dalam Muhammadiyah. 

Bila ditelisik lebih jauh, usia perintis Muhammadiyah groep Kurai Taji rerata berusia muda. Sidi M. Ilyas masa itu telah berusia 19 tahun, M. Louth Hasan berusia 18 tahun, Buya Oedin (22 tahun), dan Haroun elMaany (25 tahun), dan yang paling muda adalah Kasim. 

Untuk mempersiapkan lahirnya Muhammadiyah di Kurai Taji. Peresmian groep Kurai Taji pada 25 Oktober 1929 (Kasim Munafay, 1979; Pahlawan Kayo, 1991: 109), awalnya dijadwalkan di Surau Dagang dan dihadiri oleh Sutan Sara Endah–utusan Cabang Padang Panjang. 

Massa yang membanjiri Surau Dagang dan ingin menyaksikan diresmikannya groep Kurai Taji, lokasi acara dialihkan ke garasi mobil Bagindo Moh. Thahar. Kasim ditugasi mengangkat, menyusun meja dan kursi di garasi Bagindo M. Thahar. Bahkan, ketika persyarikatan diresmikan, harus dikawal sejumlah orang parewa dan jago silat, agar tidak diganggu oleh massa fanatik Syattariyah (Kasim Munafy, 1979: 3). 

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Sejak berdirinya Muhammadiyah groep Kurai Taji, usia Kasim masih berkisar 12 tahun, dan kakaknya Sulaiman Munaf yang tamatan Sumatra Thawalib Padang Panjang, telah berusia 17 tahun. Satu-satunya organisasi yang dimasukinya adalah kepanduan Pramuka Muhammadiyah, atau dikenal dengan nama Hizbul Wathan (HW). [Bersambung]