In Memoriam Kasim Munafy (3/Selesai)

Majalah Bahtera Masa Itu Dibredel dan Dibakar

Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatra Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh. Mantan Wartawan Rakyat Merdeka.
Klik untuk perbesar
Fikrul Hanif Sufyan, Pemerhati Sejarah Lokal Sumatra Barat Pengajar di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan, Payakumbuh. Mantan Wartawan Rakyat Merdeka.

RMco.id  Rakyat Merdeka - “Seabad lebih gerakan Islam berkemajuan menggema di Tanah Air, telah melahirkan jejaring organisasi dan amal yang tersebar luas di Nusantara dan tokoh-tokoh terkemuka baik di tingkat nasional hingga lokal. Dari sekian tokoh yang ada di tanah air, sedikit sekali yang memimpin organisasi dalam waktu yang lama. Kasim Munafy adalah pimpinan Muhammadiyah Padang Pariaman yang memimpin dalam kurun waktu tiga zaman, yakni pada 1952-1995.” 

Pada 1929, Kasim masih bersekolah di Tweede Klasse School. Dalam aturan persyarikatan, umurnya belum memenuhi syarat. Satu-satunya cabang Hizbul Wathan di Sumatera Barat, berada di Padang Panjang.

Sejak awal HW berasaskan Islam, dengan tujuan menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda yang memiliki akidah, mental dan fisik, berilmu dan berteknologi serta berakhlak. Organisasi otonom ini terbentuk di Kurai Taji, pasca berdirinya Aisyiyah yang dikhususkan untuk ibu-ibu. 

Kasim aktif mengikuti kegiatan kepanduan Hizbul Wathan (kepanduan Pramuka Muhammadiyah) di depan Surau Dagang pada 1930. Setiap sore Kasim mengisahkan, ia mengikuti gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW) dan masuk dalam kelompok ‘Pengenal’. Lebih lanjut Kasim menuturkan:

Baca Juga : Arab Saudi Larang Warga Negara-negara GCC Masuk ke Mekkah dan Madinah

Hampir setiap hari lepas sekolah saya sudah bermain bersama-sama pemuda sebaya penulis di pekarangan. Kantor-sekolah Muhammadiyah di tepi pasar Kurai Taji. Lebih-lebih lagi ada yang sangat menarik bagi kami angkatan muda waktu itu, ialah kegiatan yang dilakukan hampir setiap sore oleh kepanduan Hizbul Wathan di bawah asuhan Muhammadiyah itu. Saya dapat masuk dalam korps HW itu sesuai dengan tingkatan umur (12-17 th) ialah kelompok pegenal namanya (Kasim Munafy, 1984:1).

Selain aktif di HW, pada tahun itu Kasim yang masih duduk di bangku sekolah diminta oleh Sekretaris Muhammadiyah M. Louth Hasan untuk membantunya di kantor groep Kurai Taji. Dipercayakannya posisi pembantu sekretaris pada Kasim, karena pimpinan sudah mulai mengembangkan beberapa amal usahanya, termasuk sekolah dan internaat Yatim Muhammadiyah.

Pada 1936 pimpinan Pemuda Muhammadiyah Kurai Taji mensponsori lahirnya sebuah majalah dinamakan ‘Bahtera Masa’. Awal cerita lahirnya Bahtera Masa bermula dari aktivitas berkumpul Kasim, Aburahym Raschid, Nurdin PC, dan beberapa pemuda lainnya setelah melaksanakan salat Isya di belakang bengkel Apar Besi. Ketika Thaher Rahmat pulang dari rantau pada Januari 1936, Kasim melempar ide menerbitkan majalah dan meminta kesediaan  Thaher memimpin cikal bakal majalah. 

Anggota Pemuda Muhammadiyah akhirnya setuju dengan ide Kasim Munafy dan meminta Sidi M. Ilyas untuk mendanai penerbitan majalah Bahtera Masa. Edisi awal majalah yang dicetak di Padang Panjang itu tercatat pada Februari 1936 dengan mengusung semboyan ‘Bahagia Tergantung Atas Masyarakat Sendi Agama’.

Baca Juga : Bangun Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Bisa Terapkan Intervensi Terbatas

Adapun susunan redaksi Bahtera Masa (Bahtera Masa Nomor 2 bulan Maret-April 1936) adalah Thaher Rahmad sebagai Pimpinan Redaksi. M Louth Hasan sebagai Wakil Pemred. Sementara Aburahym Rachid, Sulaiman Munafy, Kasim Munafy dan Nurdin PC sebagai anggota redaksi. 

Pada edisi perdana, Wakil Pemred Bahtera Masa M. Louth Hasan menulis sebuah artikel berjudul Islam dan Perdamaian. Dalam artikelnya Louth Hasan mengingatkan agar perpecahan yang terjadi di antara bangsa-bangsa Islam di dunia harus secepatnya diatasi. 

Ia menulis, “satu bangsa dengan bangsa sama-sama bermain mata ibarat kucing dan tikus, di saat kucing telah pandai berjalan  di atas peran, tikus berdaya upaya berjalan di atas tali.”  

Selain M. Louth Hasan, Kasim Munafy juga ikut menulis Surat-surat R.A Kartini di Bahtera Masa (Bahtera Masa Nomor 1 edisi Februari-Maret 1936). Ia mengalih-bahasakan tulisan Kartini yang awalnya berjudul Door Duisternis Tot Licht.  

Baca Juga : Mahathir Siap Jadi Perdana Menteri Malaysia Lagi

Penerbitan ‘Bahtera Masa’ hanya berjalan selama bulan Februari dan Maret saja. Ketika menginjak April 1936 majalah Bahtera Masa pun dibredel oleh pemerintah afdeling Tanah Datar. 

Sebelum dinyatakan ‘dilarang’ oleh pemerintah, pimpinan Muhammadiyah Konsul Minangkabau Saalah Yusuf Sutan Mangkuto dipanggil oleh kepala PID Belanda di Padang Panjang. Setelah mendengar keterangan kepala PID edisi ketiga Bahtera Masa pun dibakar di depan Saalah Yusuf (Kasim Munafy, 1984:2). 

Dua hari setelah pembredelan Bahtera Masa, pimpinan Muhammadiyah Konsul Minangkabau memanggil Wakil Pemred M. Louth Hasan. Saalah Yusuf menerangkan, bahwa sebab dibakarnya majalah itu bermula dari permintaan Wakil Controleur Padang Panjang terhadap isi majalah Bahtera Masa.***