Pencinta Kucing Pasang Badan

Gubernur DKI Tunda Razia

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Foto: IG @aniesbaswedan)
Klik untuk perbesar
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (Foto: IG @aniesbaswedan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Rencananya pada 7, 8, dan 9 Januari 2019 ini Pemprov DKI Jakarta bakal menggelar sosialisasi penanganan hewan penular rabies (HPR). Salah satu agendanya adalah razia anjing dan kucing liar secara besar-besaran di Ibu Kota.

pencinta kucing baik individu maupun komunitas merasa was-was dengan razia tersebut. Alasannya, setiap kali razia, kucing besar maupun kecil bakal ditangkap tanpa dibedakan berpemilik atau tidak, sudah disteril atau belum, hingga kucing yang sedang bunting. Kucing yang ditangkap petugas bakal dimasukkan ke kandang untuk dibawa ke Puskeswan. 

Dari razia yang sudah-sudah, satu kandang besi ukuran 75x60x60 cm bisa diisi belasan kucing yang kadang berantem sesamanya. Kucing-kucing itu dikandangin pun tanpa diberi makan dan minum. Kondisi kucing setelah ditangkap juga tidak jelas, yang pasti tidak akan dikembalikan ke tempat asalnya, apalagi kapasitas penampungan milik Puskeswan juga terbatas. 

Mengetahui rencana razia kucing besar-besaran tersebut, kalangan pencinta kucing mulai ramai di media sosial. Kabar razia kucing pada Senin, 7 Januari lalu di Cideng, Jakarta Pusat, memantik semangat mereka. 

Sejumlah akun instagram milik komunitas pencinta kucing mengajak netizen untuk menggeruduk Puskeswan Ragunan, Jalan HR Harsono, Jakarta pada 8 Januari ini. Rencananya mereka bakal mengadopsi kucing-kucing yang tertangkap razia.
 
Pagi hari Selasa (8/1), melalui akun instagram-nya, Gubernur Anies Baswedan menyatakan sudah memberikan instruksi kepada dinas terkait agar menunda kegiatan penangkapan, mengajak bicara organisasi/komunitas pengelolaan binatang, dan melakukan kegiatan pengendalian bersama dengan komunitas tersebut.⁣

Berita Terkait : Giliran Emil Yang Disentil

Uniknya, Anies bahkan memajang foto kucing miliknya di postingan instagram tersebut. “Foto: Lego, kucing adopsi kami yang kakinya diamputasi karena ketika kecil pernah menjadi korban kekerasan pada binatang. Kucing kaki tiga ini sering tidur bersama kami,” tulisnya. 

Meski sudah mengetahui pernyataan Gubernur Anies, Koordinator Cat Lovers in The World (CLOW) Wahyu alias Bimbim masih merasa waswas. “Kami berharap (pernyataan Gubernur Anies) ini bisa berjalan bukan hanya sekadar wacana,” ka-tanya. 

Dia dan beberapa pencinta kucing baik individu maupun komunitas tetap mendatangi Puskeswan Ragunan. Mereka sampai menyiapkan keranjang dan kandang buat membawa pulang kucing dari sana. Apalagi ada kabar banyak kucing hasil razia masih mendekam di sana. Akhirnya CLOW membawa pulang 20 ekor kucing yang sudah disteril. 

Untuk diketahui, komunitas CLOW yang memiliki 45,5 ribu follower di instagram memang memiliki penampungan alias rumah singgah kucing di daerah Parung, Bogor. “Tadi ada sekitar 50 cat lover dan beberapa komunitas yang datang (ke Puskeswan), sudah pada adopsi, sisa 4 ekor,” katanya. 

Menurut Bimbim, meski pihaknya sudah mengamankan kucing-kucing tersebut, masalah belum usai. “Ini hanya pindah ke shelter, sementara kita butuhnya adopter,” sebutnya. Apalagi kondisi penampungan atau shelter milik komunitas sering kali penuh. 

Berita Terkait : Anies Apes

Dia berharap ada kegiatan edukasi kepada masyarakat terkait overpopulasi kucing. Hal yang paling penting adalah sterilisasi kucing untuk menekan populasi. Terkait razia kucing dan anjing kali ini, pemilik Shelter Pejaten, Susana Somali menuturkan, selama ini dirinya sering membantu dinas yang merazia kucing dan anjing. Dia juga tidak ragu menampung kucing dan anjing yang ditangkap.

“Selama ini anjing dan kucingnya saya ambilin, dan hari ini kucing-kucing sudah terselamatkan, tapi masih ada 16 anjing, tolong yang rumahnya punya space bisa bantu anjingnya,” katanya dalam postingan di akun insta¬gram Animalstoriesindonesia.  Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas KPKPDKIJakarta Sri Hartati memastikan jajaran¬nya meniadakan kegiatan razia.

“Kita tetap sosialisasi, yang berubah tidak ada penangkapan,” katanya di Jakarta, kemarin. Menyikapi razia kucing di Jakarta, Founder grup Peduli Kucing Jalanan dan Terlantar (PKJT), Devy alias Bunda Tiqi memohon kepada Gubernur untuk menghentikan razia kucing yang sudah disteril. Alasannya, kucing steril sudah tidak bisa beranak pinak dan tidak mengganggu lingkungan. 

“Kami sangat menyayangkan sekali dengan kejadian ini, karena banyak penyayang kucing yang berkorban waktu dan uang untuk mensterilkan kucing liar yang ada di lingkungan mereka,” katanya. PKJT sendiri rutin menggelar kegiatan steril kucing sejak 2014. 

Menurut Devy, sering kali proses razia yang tidak berperikehewanan. Seperti memisahkan induk dengan anak-anaknya, mengumpulkan banyak kucing dalam satu kandang sempit yang membuat mereka tidak bisa berganti posisi, atau mencampurkan kucing dewasa, anak kucing, kucing hamil, kucing sakit, kucing sehat dalam satu kandang. 

Baca Juga : Polisi Buru Pemilik Mobil Yang Males Bayar Pajak

“Solusi masalah over populasi anjing dan kucing yang aman, berperikehewanan dan murah hanya sterilisasi, bukan ditampung di satu tempat khusus,” tekannya. Namun, biaya sterilisasi yang mahal membuat para penyayang kucing terhambat untuk mensterilkan kucing di lingkungan. 

Pihaknya juga memohon agar Pemprov DKI melakukan lebih banyak program penyuluhan tentang pentingnya steril kucing maupun anjing. Populasi yang terkendali membuat pengendalian rabies juga lebih mudah. 

Sementara itu , Kepala Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan (KPKP) DKI Jakarta, Darjamuni menuturkan, pihaknya rutin melakukan vaksinasi dan sterilisasi hewan peliharaan seperti kucing, anjing, kera. “Tahun lalu ada 25 ribu yang kita vaksin. Terkait usulan sterilisasi massal, nanti akan dipertimbangkan,”katanya. 

Dia mengaku mendapat perintah dari Gubernur DKIJakarta Anies Baswedan untuk menggelar pertemuan dengan para komunitas pecinta hewan. Pertemuan dimaksudkan untuk menemukan solusi terbaik dalam penanganan hewan-hewan liar di Ibu Kota. 

Pertemuan akan digelar di Grand Orchardz Hotel di Jalan Industri Raya, Jakarta Pusat pada 15 Januari nanti.“Saya dapat intruksi juga adakan pertemuan menyeluruh semua stakeholder ini, semua bicara sebagaimana menangani rabies di Jakarta, ini yang akan dibahas di ketemuan tanggal 15 Januari nanti,”ujarnya.  Selama ini pihaknya kerap kali mendapatkan kritik bagaimana cara menangani dan menangkap kucing dan anjing liar. [OSP]