Masih Soal Cadar dan Celana Cingkrang

Pak Menag, Renungkan Nasihat Yusuf Mansyur

Menteri Agama Fachrul Razi  dan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid (Foto: Dok. Kemenag)
Klik untuk perbesar
Menteri Agama Fachrul Razi dan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid (Foto: Dok. Kemenag)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wacana pelarangan cadar dan celana cingkrang yang dicetuskan Menteri Agama Fachrul Razi bikin gelisah banyak pihak. Sampai kemarin, gelombang protes terhadap wacana itu masih terdengar. Ustad Yusuf Mansur yang jarang berkomentar urusan pemerintah sampai ikutan nimbrung. Ia menilai aturan pelarangan itu sangat berlebihan. Semoga Menag mau merenungkannya.

Sejak dicetuskan pertengahan pekan lalu, wacana pelarangan cadar dan celana cingkrang langsung menuai kontroversi. Hampir tiap hari ada saja pihak yang menanggapi wacana ini. Mulai dari politisi, kiai, pejabat sampai rakyat biasa. 

Secara umum, publik merespons negatif usulan itu. Ormas-ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bersuara dalam nada yang sama. Meminta Fachrul mendiskusikan wacana itu dengan para ulama dan berbagai pihak sebelum mengetok aturan tersebut. 

Teranyar, tanggapan datang dari Ustad Yusuf Mansur. Ustadz kondang yang biasa bicara soal sedekah ini sebenarnya jarang mengomentari urusan politik.  Yusuf sepertinya gelisah juga dengan isu sensitif ini. Di akun Instagram miliknya, Yusuf berbicara panjang menanggapi polemik ini. Ia mengunggah video berdurasi sekitar 15 menit. 

Berita Terkait : Apa Ini Namanya Buruk Muka, Cermin Dibelah..?

Dia  menjelaskan, isu ini memang menarik diperbincangkan karena sangat sensitif dan menyinggung ideologi seseorang. Larangan menggunakan cadar dan celana ningkrang disebutnya sangat tidak elok dan tidak tepat. Karena didasarkan atas kecurigaan. Bahwa yang menggunakan cadar dan celana ngatung itu seorang yang radikal. Kata dia, ini namanya menggeneralisir masalah atas dasar kecurigaan. 

Menurut dia, kalau sebuah kebijakan didasarkan atas kecurigaan dan ketakutan pasti tak akan bijak dan arif. Ia sendiri mengaku, menyukai model celana ngatung karena dianggap mode busana yang lagi populer bagi kaum milenial. "Kan gaya sekarang gitu, celananya agak ke atas, di atas mata kaki," kata Yusuf Mansur di akun @yusufmansurnew, kemarin. 

Begitu juga cadar. Kata dia, bagi sebagian muslimah, mengenakan cadar berkaitan dengan ideologi atau keyakinan juga kenyamanan yang tak bisa dilarang. Sehingga sangat tidak adil jika pemerintah mengugurkan hak seorang warga negara untuk menjadi PNS ataupun hak lainnya lantaran mengenakan cadar atau celana ngatung. "Menurut saya ya itu tadi, ya kurang-kurang bijak ya, kurang arif ya," ungkapnya. 

Lagipula, menurutnya, upaya pencegahan hingga penindakan radikalisme hingga terorisme telah dilakukan oleh sejumlah aparat penegak hukum, mulai dari Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian hingga TNI.  Kata dia, pemerintah perlu bijak dalam menyikapi persoalan ini. Jangan sampai, pemerintah jadi radikal dalam menangani masalah radikalisme.  "Saya pun masih belum yakin bila itu kebijakan akan diterapkan. Karena kalau sudah begitu judulnya, ya berarti Indonesia juga tidak Bhinneka Tunggal Ika," tuntasnya.

Baca Juga : Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Sukseskan Program Prioritas Nasional

Sampai tadi malam, video tersebut sudah ditonton sebanyak 118 ribu kali. Sebanyak 420 pengguna meninggalkan komentar. Isinya beragam. Secara umum mereka berharap Menag mau mendengarkan nasihat yang disampaikan Yusuf Mansur. "Semoga Menag bijak dalam mengambil keputusan. Mau menghargai hak orang lain," ujar @topik.setiawan. 

Kritikan juga datang dari PKS. Jubir PKS Ahmad Fathul Bahri menilai Fachrul Razi sebagai seorang yang kolot. Tidak mengetahui tren gaya busana saat ini. Menurut dia, penggunaan celana cingkrang saat ini sudah jadi gaya gaul anak sekarang. "Menteri Agama nggak tahu karena mungkin beliau orang tua. Bisa jadi nggak paham bahwa gaya anak sekarang pakai celana ada yang cingkrang," kata Fathul, di Jakarta, kemarin. 

Fathul menilai mereka yang berjenggot dan mengenakan celana cingkrang tidak bisa dikaitkan dengan kelompok radikal. Menurutnya, upaya menangkal radikalisme sebaiknya dilakukan dengan program yang substantif. 

Pengamat politik M Qodari menilai, pernyataan Fachrul  berpotensi memecah belah. Kata dia, pernyataan bekas pensiunan jenderal bintang empat itu bukan pernyataan yang merangkul, tapi pernyataan yang bersifat membelah. "Pemilu sudah selesai, Pak, sementara partai politik semakin mendekat," kata Qodari, di Jakarta, kemarin. 

Baca Juga : Cegah Corona, Pegawai Kemendes PDTT Wajib Cek Kesehatan

Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid mengimbau, semua pihak hendaknya dewasa dalam menyikapi pernyataan Fachrul Razi terkait dengan penggunaan cadar dan celana cingkrang oleh ASN.
Sebab, hal tersebut hanya sebatas untuk penertiban dan penegakan disiplin pegawai di lingkungan Kementerian Agama. "Sehingga tidak perlu ditanggapi secara emosional, berlebihan, dan penuh dengan kecurigaan," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, langkah penertiban dan penegakan disiplin tersebut adalah sebuah tindakan yang wajar dan bagian dari tugas pembinaan aparatur pemerintah agar mematuhi aturan yang sudah ditetapkan. [BCG]