Bisnis Ritel Berguguran

PHK Massal Kembali Terjadi

Klik untuk perbesar
Ketua Umum Serikat Pekerja PT Hero Supermarket Tbk (SPHS) Jakwan (Foto: IG @jakwan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pada 2017 lalu, bisnis ritel sudah mulai rontok. Di Indonesia, 7-Eleven menutup semua gerainya lantaran merugi. Bahkan hingga 2019 ini bekas karyawannya masih terus menagih pesangon yang belum dibayarkan kepada perusahaan.
Sementara sepanjang 2018, PT Hero Supermarket Tbk telah melakukan penutupan 26 toko/ gerai. Sebanyak 532 karyawan di-PHK, serikat pekerjanya langsung menggelar demonstrasi. 

Akhir Desember 2018 lalu, gerai Giant yang berlokasi di Pasaraya Manggarai resmi ditutup. Sebelum tutup, warga Manggarai dan sekitarnya mendadak ramai berbelanja di gerai tersebut. Pasalnya, gerai ini menawarkan promo semua barang didiskon 50 persen. 

Seorang warga, Yudi menceritakan, awalnya dia hanya menemani istrinya yang ingin berbelanja ke Giant Pasaraya karena ada kabar diskon besar-besaran. “Katanya emang mau tutup, mau gimana lagi, sebelumnya Matahari (gerai di Pasaraya-red) juga sudah tutup,” ujarnya. 

Warga lainnya, Nayla menuturkan, kabar Giant Manggarai ada promo diskon 50 persen bikin dirinya penasaran. “Pas didatangin memang benar, katanya toko mau tutup,” katanya. 

Dia menggunakan kesempatan tersebut untuk memborong produk-produk rumah tangga, seperti deterjen, shampo, popok bayi, dan makanan ringan. Mau bayar belanjaan di kasir pun harus mengantri lantaran banyak warga berbelanja karena tergiur diskon. 

Berita Terkait : Kondisi Berangsur Kondusif, Pertamina Kembali Salurkan BBM Di Jayapura

Di Facebook, seorang karyawan Giant menuturkan, gara-gara toko di Manggarai itu tutup karyawan di semua level mengalami PHK. “Di Giant Manggarai semua kena PHK satu toko,” tulisnya. Kini mereka tengah menunggu pemenuhan hak-haknya oleh pihak manajemen. 

Ketua Umum Serikat Pekerja PT Hero Supermarket Tbk (SPHS) Jakwan menyebutkan, akibat adanya penutupan sejumlah gerai/toko perusahaan, ratusan karyawan kehilangan pekerjaan. Pihaknya juga sudah melakukan aksi damai di Kantor Pusat PT Hero Supermarket, pada Jumat (11/1). 

“Kita menolak PHK sepihak dan pelanggaran Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Stop Union Busting atau menghalangi hak berserikat dan berorganisasi, serta perbaiki hubungan industrial di PT Hero Supermarket Tbk,” katanya. 


Pihaknya mengaku telah mengajukan berbagai solusi dan proses yang sama seperti yang pernah dilakukan dalam penanganan proses closing store atau penutupan toko. Namun pihak managemen tetap melakukan PHK sepihak. 

Bahkan surat PHK dikirim melalui kurir pengiriman barang dikirim ke alamat rumah masing-masing pekerja. Sementara upah mereka belum di bayarkan sampai saat ini. Hal ini jelas melanggar aturan yang disepakati di PKB dan mencederai budaya hubungan industrial yang telah dibangun selama ini. 

Berita Terkait : Gerai Hero Yang Tersisa Pun Tampak Sepi Pembeli

Dia menekankan, perjuangan menolak PHK menyangkut nasib hajat hidup puluhan ribu karyawan beserta keluarganya. Apalagi ada fakta, beberapa toko masih kekurangan manpower. Bahkan perusahaan saat ini membuka toko baru dan melakukan perekrutan pekerja. Oleh karena itu, ketimbang melakukan PHK, sangat mungkin para pekerja disalurkan ke toko-toko yang masih membutuhkan pekerja. 

“Closing store merupakan dampak dari persaingan global yang begitu ketat dan ditambah lagi produk dari revolusi industri 4.0 yaitu e-commerce yang cukup membuat sektor ritel konvensional mengalami penurunan pendapatan. Bahkan banyak yang tutup,” terang Jakwan. 

Sementara itu, Corporate Affairs GM Hero Supermarket, Tony Mampuk menyebutkan, sebanyak 26 toko HERO sudah ditutup. “Para karyawan yang terdampak telah mendapatkan hak sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan,” ujarnya. 

Diterangkannya, hingga kuartal III 2018, perseroan mengalami penurunan penjualan dari Rp 9,96 triliun pada September 2017 menjadi Rp 9,84 trilliun. Hal ini menyebabkan HERO mengalami rugi per saham sebesar Rp 21 dari sebelumnya Rp 17.

Kondisi ini disebabkan oleh penjualan bisnis makanan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, Tony menjelaskan bisnis nonmakanan tetap menunjukkan pertumbuhan cukup kuat. 

Berita Terkait : Hero Lebarin Sayap Penjualan

Sampai 30 September 2018, PT Hero Supermarket Tbk mengoperasikan 448 toko yang terdiri dari 59 Giant Ekstra, 96 Giant Ekspres, 31 Hero Supermarket, 3 Giant Mart, 258 Guardian Health & Beauty, juga satu toko IKEA. Perusahaan meyakini keputusan melakukan efisiensi ini merupakan yang terbaik demi menjaga bisnis berkelanjutan. 

“Perusahaan kini sedang menghadapi tantangan bisnis. Maka kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha di masa mendatang,” imbuh Tony. [OSP]