Pemerintah Diminta Solusi

Duh, Taksi Konvensional Tinggal Menunggu Ajal

Klik untuk perbesar
Taxi (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah dan para pemangku kepentingan diharapkan mencari solusi terhadap taksi konvensional dalam waktu dekat. Sebab, keberadaan alat transportasi publik yang satu ini ibarat menunggu ajal saja.

Seperti yang dialami pengemudi taksi konvensional Express. Puri, pria asal Tegal, Jawa Tengah, masih setia mengemudikan taksi. Bukan karena masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tapi, dia mengaku lantaran sudah kesulitan beralih ke jenis pekerjaan lain. Kepada Rakyat Merdeka, ayah tiga ini anak juga mengaku, tiap hari, tak mampu lagi memenuhi target mengumpulkan setoran taksinya sebesar Rp 200 ribu. Setiap hari, dia mencari penumpang mulai jam 8 pagi. Kadang, hingga jam 2 dini hari, Puri hanya bisa mengantongi Rp 70 ribu.

“Isi bahan bakar Rp 100 ribu. Belum bayar tol. Untuk setoran pun belum nutup. Kami sudah tak sanggup bersaing dengan online. Setiap hari saya keliling jalanan, nyaris tak ada penumpang,” ujarnya.

Berita Terkait : Halmahera Diguncang Gempa 5,2 SR, Tak Berpotensi Tsunami

Padahal, menurut Puri, dengan jumlah penduduk yang terus membludak, seharusnya transportasi publik pun akan hidup. Termasuk taksi konvensional. Namun setiap hari, selain harus bersaing dengan kendaraan-kendaraan pribadi yang terus memadat.


Dia juga, harus bersaingdengan transportasi online yang tumbuh subur. “Belum lagi kami juga harus bersaing sesama taksi biasa,” ujarnya.

Demi menghemat pengeluaran,dia bahkan harus menumpang di pool taksi di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Seharusnya, jam dua belas malam sudah harus masuk pool. Tapi mau gimana, duit yang didapat baru Rp 70 ribu,” tuturnya.

Bukan hanya persaingan sesama transportasi yang kian menyulitkan. Menurut Puri, para penumpang pun sudah banyak yang ogah naik taksi konvensional.

Berita Terkait : Trump Siap Pidato Di Kongres

Pasalnya, angkutan online dia rasa sudah sangat mendominasi perolehan penumpang saat ini. Selain tarif yang jauh lebih murah, angkutan online dianggap masyarakat lebih nyaman dan tenang.

Akhirnya, curhat Puri lagi, seperti teman-temannya sesama sopir taksi konvensional, dia Bersambung kini banyak berharap mendapat penumpang dari bandara. Namun permainan di bandara pun diakui Puri sangat ketat. “Di bandara juga dimonopoli. 

Kami yang sudah dibilang taksi bandara, sering disuruh keliling-keliling. Sehingga jarang dapat penumpang,” ungkapnya.


Permainan di bandara, lanjut Puri, diduga dilakukan oknum petugas. Mereka bekerja sama dengan taksi konvensional lain. Termasuk taksi online. Belum lagi adanya sejenis taksi gelap.

Berita Terkait : Pemerintah Diminta Serius Bahas RUU Konservasi SDA & Ekosistem

Yang juga berkeliaran di bandara. Namanya adalah taksi keong. Menurutnya mereka juga bekerja sama dengan para oknum petugas.

“Mereka ngasih duit ke oknum petugas. Supaya mereka saja yang dikasih penumpang. Seharusnya kan nggak boleh begitu. Kami yang punya hak, malah keong yang diberikan penumpang,” ungkap Puri.

Dia hanya berharap, praktik monopoli kendaraan umum di jalanan tidak terjadi. “Seharusnya pihak berwenanglah yang mencarikan solusinya. Saya aja buntu. Enggak narik, pasti enggak dapat duit. Narik pun, setoran tak terpenuhi. Nyari kerjaan lain, nggak punya modal,”tutur Puri.

Bahkan pihak manajemen taksi Ekspress pun dia nilai juga buntu. Belum ada tawaran solusi. Sampai kini, Puri mengaku hanya bisa pasrah. Sembari tetap mutar-mutar mencari penumpang dengan taksinya. “Siapa tahu masih ada sisa-sisa rejeki di jalanan buat saya,” harapnyanya. [JON]

RM Video