Tumbuhan Tak Bisa Subur

Sungai Kita Kondisinya Kritis

Klik untuk perbesar
Pekerja dengan alat berat mengeruk endapan sampah bercampur lumpur di Sungai Ciliwung kawasan Kampung Melayu, Jakarta. (Foto : ANTARA).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sebagian besar sungai di Indonesia mengalami masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sementara upaya pencegahan pencemaran dan perbaikan kerusakan terbilang lamban. Di Jakarta, normalisasi Kali Ciliwung tersendat. Meski sudah ada bantaran sungai yang dinormalisasi, tapi masih banyak yang belum.

Sejumlah aktivis dan komunitas peduli lingkungan dan sungai menggelar Kongres Sungai Indonesia di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta pada 21-23 Maret ini. Ketua Pelaksana Kongres Sungai, Susilo Adinegoro menuturkan, kegiatan ini mendiskusikan kondisi sungai di Indonesia yang kian memburuk.

“Coba kita lihat sekarang semakin banyak bencana alam di daerah-daerah yang dari dulu aman. Misalnya, Yogyakarta bahkan Papua bisa terkena banjir. Beberapa tahun silam jarang kan kita mendengar daerah sana itu banjir. Artinya, pembangunan tidak disertai dengan memperhatikan lingkungannya, termasuk sungai,” katanya.

Berdasarkan, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 75 persen air sungai dan 52 sungai di Indonesia sudah tercemar berat. Sebanyak 20 aliran sungai berstatus tercemar sedang hingga berat. Belum lagi, 118 Daerah Aliran Sungai (DAS) dari 450 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis. Bahkan Pulau Jawa kini terancam mengalami kelangkaan air bersih.

Berita Terkait : Koruptor Kita Nggak Bisa Kabur Ke Malaysia


Susilo mengungkapkan, pencemaran sungai saat ini tidak hanya menimbulkan bencana alam, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat. Di Jakarta saja, ada 13 titik sungai yang belum bisa diolah menjadi air bersih akibat limbah.

“Indikasi sebuah sungai itu bersih dan jernih ditandai dengan adanya capung, kupu-kupu atau serangga lainnya. Bahkan di Ciliwung, capung sudah tidak bisa kita temui. Tumbuhan juga tidak hidup subur di sana, yang menunjukkan kondisinya tercemar sangat parah,” terangnya.

Anggota Presidium Kongres Sungai Indonesia, Febri Sativiani Putri menyebutkan, dalam 10 tahun terakhir hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung telah hilang. Penyebabnya, alih fungsi lahan di hutan lindung DAS Sungai Ciliwung pada bagian hulu sangat tinggi. 

Kebanyakan hutan lindung telah berubah fungsi menjadi kawasan hunian seperti vila, hotel, dan juga restoran yang menjual pemandangan sungai sebagai nilai lebihnya. Tidak hanya itu, hulu Sungai Ciliwung juga dipenuhi sampah. Pihaknya mencatat terdapat 44 titik gunungan sampah yang ada di hulu sungai dan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu.     

Baca Juga : MUI Bakal Kumpulkan Sejumlah Ormas Islam

"Padahal ini hanya berjarak satu kilometer dari hulu sungai. Sampah plastik dan limbah cair paling mendominasi pencemaran di Sungai Ciliwung. Limbah cairnya berasal dari rumah tangga dan bukan dari pabrik, "ujarnya.


Direktur Forest and Freshwater dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, Irwan Gunawan mengatakan, sungai yang kondisinya tercemar dan kritis mencapai 82 persen dari 550 sungai yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingginya tingkat pencemaran membuat airnya tidak layak untuk dikonsumsi.

“Dari lebih 550 sungai itu, 52 sungai strategis di Indonesia dalam keadaan tercemar, di antaranya Sungai Ciliwung di DKI Jakarta dan Sungai Citarum di Jawa Barat," sebutnya.

Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat sungai-sungai di Indonesia masih digunakan untuk kegiatan sosial budaya, pertanian, dan industri. Dari sekian ratus sungai di Indonesia, yang baru dipantau secara intensif dan bisa dilaporkan setiap tahun hanya 82 sungai. 

Baca Juga : Dubes Jerman Peter Schoof Gelar Perpisahan Sekaligus Sambut Konsul Kehormatan Surabaya

“Sampai dengan Desember 2018, dari 82 sungai yang dipantau itu, 50 sungai kondisinya tetap dan relatif stabil, 18 sungai membaik serta 14 sungai makin memburuk,” kata Irwan.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Djafar Muchlisin mengajak masyarakat menjaga kualitas air di Jakarta. Pihaknya akan menggencarkan pembangunan sumur resapan yang diyakini bisa menampung banyak air hujan ke dalam tanah.


“Kita rawat air dengan berbagai cara, seperti pembuatan drainase vertikal, berupa sumur resapan dan lubang resapan biopori, yang bermanfaat sebagai tabungan air saat musim kemarau, penanaman pohon, serta aksi bersih-bersih,” jelasnya. [OSP]

RM Video