Akibat TBC, 300-an Orang Meninggal Tiap Hari

Penderita & Penyintas Jangan Didiskriminasi

Ilustrasi Tuberculosis (TB). (Foto : Istimewa).
Klik untuk perbesar
Ilustrasi Tuberculosis (TB). (Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pada 2018, Indonesia menempati peringkat 3 dunia dalam jumlah kasus Tuberculosis (TB) setelah India dan China. Dalam Global Tuberculosis Report 2018 yang dirilis World Health Organization (WHO), di Indonesia setiap hari ada 301 orang meninggal akibat TB.

Sedangkan setiap tahunnya diperkirakan kasus TB mencapai 842 ribu. Namun yang dilaporkan hanya 446.732 kasus. Sementara perkiraan jumlah penderita TB yang resisten obat yaitu sebanyak 12 ribu. Akan tetapi yang terlaporkan hanya 5.070 kasus.

Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, yang menyerang saluran pernapasan utama manusia, yaitu paru. Penyakit ini, dapat juga menyebar ke bagian tubuh yang lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak jika tidak disembuhkan dengan segera.

Baca Juga : Fahira Dipolisikan Soal Cuitan Corona

Ciri-ciri penyakit TB antara lain batuk yang berlangsung lama (tiga minggu atau lebih), berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, demam dan menggigil, lemas, nyeri dada saat bernapas atau batuk, dan tidak nafsu makan. Di Indonesia, jumlah kasus pasien TB yang mengalami resisten obat juga terus meningkat.

Banyaknya kasus TB ternyata menimbulkan diskriminasi dan stigma terhadap para penderitanya. Banyak penderita TB yang mengalami kesulitan berobat, dijauhi oleh orang sekitarnya, hingga kehilangan pekerjaan. Menyikapi situasi ini, sejak 2004 Dompet Dhuafa sudah mengkampanyekan kepedulian terhadap TB.

“Kalau bicara soal penuntasan kasus TB, tentunya kita perlu menuntaskan juga masalah yang menghalangi untuk berobat seperti diskriminasi dan stigma ini,” kata General Manager Divisi Kesehatan Donpet Dhuafa, Rosita Rivai, di Jakarta.

Baca Juga : Jokowi Pastikan, Pemberian Insentif Pariwisata Tak Tambah Penyebaran Corona

Menurutnya, untuk menuntaskan permasalahan TB ini harus dimulai dari diri sendiri. “Betul, TB ini berbahaya tapi bisa diobati. Namun penyakit yang lebih berbahaya tentu diskriminasi dan stigma yang jelas-jelas bisa dapat membunuh dan tiada obatnya untuk penderita,” jelasnya.

Sejak 2004 hingga kini, Dompet Dhuafa sudah mengelola program TB di 14 kota/kabupaten. Di antaranya DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Kabupaten Magelang, Kabupaten Bangkalan, kabupaten Sumenep, Kota Palembang, Kota Makassar, Kota Jayapura.

Sejumlah penyintas TB mengungkapkan diskriminasi dan stigma yang mereka alami. Salah satunya Bambang Ismaya. Dia menderita TB resisten obat sejak tahun 2014. Tahun 2016, dia bahkan sempat berpikir untuk untuk bunuh diri. “Kalau liat plafon di rumah, kayak ada yang panggil buat gantung diri di sana,” ujarnya.

Baca Juga : Amankan Fasilitas Umum, Anies Sediakan Hand Sanitizer Hingga Bentuk Tim Khusus

Penyintas lainnya, Agus juga mengalami diskriminasi semasa pengobatan. “Keluarga pada nuduh saya malas gitu. Padahal obat TB itu bisa bikin lemes sampe seharian dan pengobatannya kan tiap hari,” sebutnya. Karena rutin berobat, pada 2016 dia dinyatakan sembuh dari TB.

Sejumlah penyintas TB kini membentuk Pejuang Tangguh (PETA) sebagai lembaga pendamping para pasien TB. Pegiat PETA, Dinsar Manik mengatakan, inisiatif ini ditujukan untuk mendorong pasien TB berobat dan memberi dukungan agar mampu menghadapi diskriminasi dan stigma.

“Salah satu stigma dan diskriminasi yang dialami penderita TB adalah pemecatan secara halus dari perusahaan tempat dia bekerja,” katanya. Kehilangan pekerjaan tentunya membuat pengobatan bagi penderita TB menjadi terganggu. [OSP]