Targetkan Penjualan 2,8 Juta Ton

KS Incar Proyek BUMN

Klik untuk perbesar
(Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kinerja PT Krakatau Steel (KS) sepanjang tahun ini cukup memuaskan dari sebelumnya yang merugi. Bahkan, pada tahun depan, perseroan menargetkan penjualan 2,8 juta ton.

DIREKTUR Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengaku puas dengan kinerja perusahaan yang dipimpinnya meski belum genap satu tahun. Berbagai persoalan di sektor bisnisnya bisa dihadapi dengan baik. Bahkan nilainya memuaskan.
 
“Tahun ini kinerja perusahaan membaik. Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan penjualan kami yang naik 20 persen. Restructuring jalan, semua berjalan dengan baik,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin. 

Tahun ini perseroan mencatatkan penjualan hingga 2 juta ton. Adapun produk utamanya Hot Rolled Coil (HRC), Cold Rolled Coil (CRC), dan Wide Flange (WF). Tahun depan, dirinya pede mengusung target penjualan hingga 2,8 juta ton. 

Bukan tanpa alasan dia meningkatkan target penjualan. Sebab dia menilai beberapa hambatan sudah diselesaikan tahun ini. Dengan begitu, perseroan bisa melaju kencang tahun depan. 

Pria yang juga Ketua Umum Indonesia Iron And Steel Industry Association (IISIA) ini juga optimis fasilitas produksi bisa mendongkrak kinerja penjualan. Tak tanggung-tanggung, mesin baru yang dimilikinya bisa memproduksi 1,5 juta ton.

“Tahun depan, target kami itu untung. Persoalan sudah beres, fasilitas produksi juga akan menambah output hingga 1,5 juta ton.  Kemudian, kami juga akan memperkuat pemasaran dan distribusi. Itu kan implementasinya baru 2019,” tutur Silmy. 

Tak kalah pentingnya, kerja sama dengan BUMN Karya digadang-gadang bisa meningkatkan penjualan. Silmy menyebut pihaknya sudah membuat kesepakatan pokok (Head of Agreement/HoA) dengan enam BUMN, yakni Waskita Karya, Wijaya Karya, Hutama Karya, Adhi Karya, Pembangunan Perumahan (PP), dan Nindya Karya. 

Beberapa proyek mercusuar seperti Jakarta-Cikampek Elevated Toll, proyek pembangunan menara listrik 35 ribu megawatt, Light Rapid Transit (LRT), produksi kereta api, dan beberapa lainnya. Silmy menegaskan akan berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur dengan kualitas baja yang baik. 

“Kerja sama kami dengan BUMN memang sudah ditandatangani Head of Agreementnya bulan November. Tapi kan delivery-nya baru tahun depan. Sehingga kami optimis tahun 2019, (penjualan) Krakatau Steel akan positif,” cetusnya. 

Soal strategi, Silmy menegaskan, tidak ada perubahan signifikan. Baik tahun ini, maupun tahun depan, market share Krakatau Steel sangat tinggi. Hanya saja ada sedikit ganjalan, yakni serbuan baja impor tahun yang terjadi belakangan ini. Meski begitu, Silmy bisa bernafas lega. Karena Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja sudah direvisi. Dengan dukungan tersebut, bukan hanya pemulihan, perseroan bisa lebih kuat menguasai pasar.

“Market share kami untuk beberapa produk tembus 50 persen. Dihantam impor di 2018, tapi kan Permendag-nya sudah dicabut. Artinya, kesempatan recovery di 2019 bisa tercapai. Jadi strateginya, ya penetrasi pasar. Lebih kuat lagi dan kami akan man to.

Sebelumnya, lembaga rating Moody’s memperkirakan industri baja di Asia akan berada di kondisi stabil pada tahun depan. Hal ini disampaikan oleh Vice President dan Senior Credit Officer Moody’s Kaustubh Chaubal setelah melihat adanya pertumbuhan tinggi industri tersebut pada 2018.

“Untuk laba, produsen baja Asia yang kami pantau akan mengalami penurunan level profitabilitas karena tingkat permintaan dari China berkurang, meski secara keseluruhan tetap kuat,” kata Chaubal. 

Walaupun ada pemangkasan kapasitas dan pengetatan perlindungan terhadap lingkungan di Cina, menurut Chaubal, besarnya permintaan dari Asia Selatan dan Asia Tenggara diperkirakan akan tetap mendukung kinerja laba. [MEN]
 

RM Video