Akuisisi Bank & Asuransi

BNI Siapkan Dana 4 Triliun

Klik untuk perbesar
Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta (Foto: dok.BNI)

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Bank Negara Indonesia (BNI) terus perluas pasarnya. Pada tahun ini, bank pelat merah ini menyiapkan dana sekitar Rp 3-4 triliun untuk mengakuisisi bank dan asuransi kerugian. 

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan, pada tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan anorganik dengan melakukan akuisisi. Ada beberap perusahaan yang jadi target, baik diperbankan maupun asuransi. 

Berita Terkait : Bisnis Remitansinya Naik 14 Persen, BRI Raup FBI Rp 41,6 Miliar


“Ini untuk melengkapi kami sebagai lembaga keuangan yang profitable nantinya,” ujarnya dalam konferensi pers Kinerja Full Year 2018, di Jakarta, kemarin.  Saat ditanya bank dan asuransi yang akan diakuisisi tahun ini, Herry belum membeberkan. Menurutnya, semua kemungkinan akuisisi tetap terbuka untuk melengkapi bisnis BNI. Salah satunya untuk mengakomodasi tren digital banking. 

“Yang belum ada itu asuransi kerugian. Bank bisa ada (yang diakuisi) untuk mengembangkan digital banking,” ujarnya.  Terkait dengan bank syariah, menurut dia, peluangnya tetap terbuka. Pihaknya masih bisa  Akuisisi bank syariah untuk dibesarkan. “Kami masih mempelajarinya,” katanya.  Untuk dananya, kata dia, berasal dari kas internal, modal ventura (venture capital) atau pendanaan eksternal. 

Berita Terkait : BNI Permudah UKM Akses Kredit Usaha

Laba Naik 
Sepanjang 2018, BNI berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 15,02 triliun. Jumlah tersebut tumbuh 10,3 persen dibandingkan periode 2017 yang sebesar Rp 13,62 triliun.  Direktur Kepatuhan BNI Endang Hidayatullah mengatakan, salah satu pendongkrak kenaikan laba tahun lalu adalah pertumbuhan kredit.


Sepanjang tahun lalu, BNI menyalurkan kredit hingga Rp 512 triliun atau meningkat 16,2 persen dari 2017 yang hanya sebesar Rp 441 triliun.  Pertumbuhan kredit BNI tersebut menciptakan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/ NII) yang tumbuh 11,0 persen dari 2017 sebesar Rp 31,94 triliun menjadi Rp 35,45 triliun pada akhir 2018. NIItersebut menjadi sumber pertumbuhan laba bersih BNI yang utama. 

Berita Terkait : BRI Siapkan Rp 49,2 Triliun

Menurut dia, pertumbuhan laba bersih BNI juga ditopang oleh pertumbuhan Pendapatan Non Bunga sebesar 5,2 persen menjadi Rp 11,61 triliun dari 2017 yang sebesar Rp 11,04 triliun. Pertumbuhan Pendapatan Non Bunga tersebut didorong oleh peningkatan kontribusi fee dari Trade Finance, pengelolaan rekening, dan fee bisnis kartu. 

Selain itu, pencapaian laba bersih BNI ini juga didukung dari membaiknya kualitas aset. Hal ini ditunjukkan oleh Non Performing Loan (NPL) Gross yang membaik dari akhir 2017 sebesar 2,3 persen menjadi 1,9 persen. Alhasil, BNI mampu menekan credit cost dari 1,6 persen menjadi 1,4 persen pada akhir 2018.  [IMA]

RM Video