Ekonomi China Loyo

BI: Tangkap Peluang Investasi Industri

Klik untuk perbesar
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kanan) bersama Deputi Gubernur Senior Mirza Adityaswara saat memberikan keterangan pers di Jakarta. (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China membuat pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu turun dari 6,6 persen menjadi 6,3 persen. Kondisi ini harus dimanfaatkan oleh pemerintah merayu industri asal China merelokasi pabriknya ke Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, pelemahan ekonomi China memberikan dampak positif dan negatif bagi Indonesia. China merupakan negara tujuan ekspor komoditas Indonesia. Dengan melemahnya ekonomi China secara langsung akan berdampak pada ekspor komoditas.

"Sehingga memang kalau ekonomi China turun, permintaan komoditas turun. Sebagai orang dewasa kita tidak boleh menyerah," ujarnya di acara RSM Forum di Jakarta, kemarin.

Namun, di sisi lain, pemerintah bisa mengambil kesempatan turunnya ekonomi China dengan menarik industri negeri tirai bambu untuk merelokasi pabriknya di Indonesia. Kondisi ini persis yang terjadi di Jepang era 1980-an dan Korea Selatan usai krisis Asia.

Berita Terkait : BI: Parpol Nebeng Kampanye Pilpres

"Saat itu Jepang juga merestrukturisasi industrinya ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia. Korea juga. Sehingga ada teori angsa terbang. Itu yang harus kita tangkap dari turunnya ekonomi China," ujarnya.


Menurut dia, Indonesia bisa menjadi tempat investasi untuk membangun industri dari China. Salah satunya yang sudah berjalan, yakni di Kawasan Industri Morowali, yang mendatangkan Penanaman Modal Asing (PMA).

"Indonesia tidak boleh mengeluh tidak bisa mengekspor komoditas nikel. Selama ini, kita juga (ekspor) nikel dengan tanah-tanahnya. Tetapi, justru bagaimana mendatangkan atau kita tarik mereka untuk membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian," tutur dia.

Dia mengakui, kondisi ekonomi tahun ini juga masih akan dipengaruhi oleh ekonomi global. Salah satunya adalah perang dagang antara AS dan China.

Berita Terkait : Pakai Jurus Ini, BI Sukses Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

Perry berharap kondisi ekonomi kedua negara tersebut tidak menyurutkan semangat ekspor. Justru bagaimana Indonesia bisa mendatangkan investasi dari barang yang tadinya kita impor.

Selain itu, upaya membuka pasar baru harus tetap ditingkatkan. Perry menyebut eksportir lokal perlu membidik Asia Selatan, khususnya di sektor konstruksi dan mesin. Contohnya ekspor gerbong kereta ke Bangladesh dan India. Investasi konstruksi di wilayah Afrika juga menjanjikan. Dengan begitu, pelambatan AS dan China tidak banyak mempengaruhi.

Tumbuh 6%


Meski kondisi ekonomi global sedang tidak ramah, namun Perry tetap optimis jika pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh pada tahun ini. Bahkan, dalam kurun waktu 4-5 tahun ke depan ekonomi Indonesia bisa tumbuh dikisaran angka 6 persen.

Berita Terkait : Ekspor Nonmigas Kerek Surplus Neraca Perdagangan Indonesia

"Kami optimis pertumbuhan bisa tinggi, rupiah stabil, inflasi rendah," tambah Perry.

Dia menjelaskan, ada tiga strategi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang semakin kuat, yakni berkoordinasi intensif pemerintah dan kementerian-lembaga terkait lainnya, kemudian bauran kebijakan fiskal dan moneter.

Selain moneter, menurut Perry, Bank Sentral juga fokus menyoroti era digitalisasi. Memasuki era industri digital, BI juga akan memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi untuk membangun keuangan digital.

Dia menyebutkan, bank sentral sudah bertemu dengan 10 bank untuk membahas digitalisasi banking. Termasuk bagaimana mengintegrasikan keuangan untuk mendorong Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan persoalan fintech. [MEN]

RM Video