Maryono, Bankir Senior

”BTN Tak Akan Lari Dari Wong Cilik...”

Klik untuk perbesar
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono. (Foto: Khairizal Anwar/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Maryono salah satu bankir senior yang disegani. Usianya memang tidak muda lagi, tapi penampilannya masih terlihat energik dan penuh semangat. Pengalaman dan kariernya di dunia perbankan sudah khatam, malang melintang dan banyak makan asam garam. Yang fenomenal, saat dia ditunjuk menjadi Dirut PT Bank Mutiara, yang awalnya bernama Bank Century. Bank bermasalah itu diurusnya dengan telaten, sampai jadi bank sehat, hanya dalam waktu satu tahun. Karena kesenioran dan kehebatannya itulah, Maryono saat ini ditunjuk menjadi Ketua Umum Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) yang meliputi Bank BNI, Bank BRI, Bank Mandiri dan BTN. Di BTN atau Bank Tabungan Negara.

Maryono sudah enam tahun ini dipercaya sebagai Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. BTN adalah salah satu bank pemerintah yang paling concern melayani rakyat lewat kucuran kredit kepemilikan rumah (KPR). “BTN tidak akan meninggalkan wong cilik. Segmen kita itu ya wong cilik atau MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Jadi, kita pasti tak akan pernah lari dari rakyat kecil,” kata Maryono, saat ngobrol santai dengan tim Rakyat Merdeka di kantornya, Gedung BTN, kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (29/11).

Berita Terkait : Menteri Rini Pastikan Tol Pematang Panggang-Kayu Agung Siap Beroperasi

Ruang kerjanya yang luas, berada di lantai 22, dengan dinding kaca yang pemandangannya mengarah ke Istana dan sekitarnya. “Kantor Pak Jokowi kelihatan lho dari atas sini,” katanya, sambil tersenyum. Dari ketinggian itu, atap-atap gedung seputar Monas memang tampak cukup jelas. Bukti BTN mengurus wong cilik itu, direpresentasikan dalam program yang konkret. Kata pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah ini, BTN sudah membangun unit-unit perumahan hingga ke pelosok desa. Mulai dari MBR dengan pendapatan tetap, MBR berpendapatan tidak tetap, sampai ke tingkat yang lebih bawah lagi, yaitu kelompok masyarakat dengan pendapatan pas-pasan dan tidak tetap. Bagaimana melayani kelompok seperti ini?


Maryono menceritakan, misalnya, untuk membangun 100 unit rumah di sebuah desa, di kabupaten tertentu, maka Pemerintah setempat yang memfasilitasi community-nya, kelompok masyarakatnya. Lalu, ada kerja sama dengan akademisi untuk membantu penataannya menjadi new city atau new village yang baik. Barulah developer bekerja sama dengan BTN, untuk membangun unitnya. Maryono termasuk sering diajak Menteri BUMN Rini Soemarno turun blusukan ke berbagai daerah untuk bertemu masyarakat. Dia punya banyak kesan khusus tentang ini.

Berita Terkait : Menteri Rini Pamerkan Kinclongnya Kinerja BUMN

“Kita jadi tahu kondisi masyarakat yang dulunya tak pernah kita lihat,” ujarnya. Dia mencontohkan kunjungannya ke pinggiran kota di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Ternyata, di beberapa tempat itu, masih ada rumah tidak teraliri  listrik. “Itu suatu hal yang aneh. Kita katanya punya energi melimpah, tapi kok masih ada masyarakat yang belum dapat atau belum mampu beli listrik,” kata Maryono, sedih. Melihat realita itu, BUMN pun bersinergi dan ikut membantu mengatasi permasalahan tersebut. “Kita carikan solusi, tanpa mengganggu APBN. Agar masyarakat bisa dapat listrik.  Melalui CSR (Corporate Social Responsibility), sehingga dapat diskon. Bisa juga pembiayaannya dicicil,  atau melalui upaya lainnya yang meringankan masyarakat,” tuturnya.

Maryono salut dan mengagumi cara kerja dan kepemimpinan Menteri Rini Soermarno. “Beliau itu sepertinya nggak pernah capek, dan terus memberikan dorongan semangat pada kita,” katanya. Dengan program sinergi BUMN, kini seluruh CEO dan pimpinan BUMN menjadi satu dan saling peduli. “Dulu, kita nggak saling kenal. Dan malah jadi saingan. Sekarang kita kenal dirut sana, dirut sini, lalu sinergi. Banyak hal jadi lebih efisien. Bisa kerja sama business to business. Misalnya, kalau mau membangun, bisa dengan BUMN Karya, kenapa harus dengan kontraktor lain,” ungkap Maryono.

Berita Terkait : Menteri Rini Nggak Mau BUMN Ketinggalan Zaman

Menteri Rini juga dikenal sangat respect dan memperhatikan masyarakat bawah. Para direksi kerap kali diberikan pengertian bahwa BUMN itu tugasnya bukan hanya mencari profit, tapi yang terpenting ikut mensejahterakan rakyat. “Memimpin BUMN itu berbeda. Sebab, BUMN punya tugas khusus yang tidak dimiliki perusahaan swasta. BUMN adalah perusahaan milik negara, dan memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat,” ujar Maryono. Karena sering diajak Menteri Rini turun ke bawah, akunya, kini dirut-dirut BUMN tidak hanya duduk di meja. “Dirut BUMN sekarang itu, bukan lagi juragan atau amtenar. Kita harus rajin turun ke bawah, membumi dan ikut memberikan solusi-solusi untuk masyarakat,” papar Maryono.


Amtenar dalam bahasa Belanda, adalah sebutan untuk pegawai tinggi pemerintahan. “Makanya, kalau saya diajak Bu Menteri turun, saya senang,” tambahnya. Selain hobi gowes, Maryono juga suka golf dan sekarang tambah jalan kaki. “Kalau ikut Ibu (Menteri Rini), ya saya ikut jalan kaki,” katanya. Menteri Rini memang dikenal suka jalan kaki. Kegiatan rutin pagi atau malam hari saat kunjungan kerja, pasti ada jalan kaki. Minimal sekitar lima kilometeran. “Beliau menjaga kesehatan, maka orang yang diajak ya jadi ikut menjaga kesehatan. Ibu jalannya cepat,” katanya. Kiki Iswara/Ratna Susilowati/Kartika Sari/Aditya Nugroho