Ada Aksi 22 Mei

BI Pastikan Transaksi Perbankan Tetap Aman

Klik untuk perbesar
Bank Indonesia/Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memastikan aksi 22 Mei tidak sampai menimbulkan rush money. Termasuk penggunaan aplikasi VPN (Virtual Private Network), tak pengaruhi transaksi perbankan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, bank sentral tak melihat sesuatu pergerakan transaksi yang tidak normal di layanan perbankan. Khususnya selama 2 hari, yakni 21 dan 22 Mei 2019.

“Malah kemarin saya sampaikan, transaksi perbankan melalui kliring ritel atau sistem kliring nasional atau realtime gross settlement (RTGS) naik baik volume maupun nilainya,” ujar Perry di Gedung BI, Jakarta, kemarin.

Menurutnya, transaksi perbankan bergerak normal dan lancar. Kalaupun ada pengambilan uang dari BI itu hanya kegiatan untuk kebutuhan uang tunai Lebaran.

“Kemarin memang ada 13 bank yang melakukan penarikan uang tunai dari BI. Itu untuk kebutuhan Lebaran. Untuk kebutuhan THR, sekali lagi kami sampaikan,” ujar dia.

Perry menyebut kebutuhan uang tunai untuk Lebaran mencapai Rp 217 triliun. Saat ini BI memiliki stok Rp 300 triliun untuk pusat dan daerah. “Kita ada stok semuanya untuk memenuhi kebutuhan,” imbuh dia.

Berita Terkait : Sistem IT Ditingkatkan, Bank Mandiri Pastikan Dana Nasabah Aman

Menurutnya, bank sentral bersama perbankan terus bersinergi memenuhi kebutuhan uang tunai masyarakat. “Data akhir minggu kemarin sudah ada sekitar Rp 58 triliun, tapi kemungkinan akan naik minggu-minggu ini maupun berikutnya. Kemungkinan masih menunggu pembayaran THR dan pembayaran lain,” kata dia.


Meski begitu, Perry tak menampik saat aksi 22 Mei lalu, ada beberapa kantor cabang bank yang tutup. Khususnya kantor cabang yang lokasinya dekat dengan terjadinya aksi unjuk rasa.

“Kondisi perbankan berjalan normal dari kemarin, apalagi hari ini ya. Memang di lokasi kerusuhan tidak hanya bank yang tutup, kantor lain juga, tapi kegiatan berjalan normal,” ucapnya.

Aktivitas perbankan juga terlihat dari proses transfer melalui perbankan. Tercatat transfer melalui kliring, kemarin, volumenya mencapai 669 ribu kali dengan nilai Rp 14 triliun.

“Ini lebih tinggi dari rata-rata harian dengan volume 516 ribu,” ungkapnya.

Selain itu, untuk transfer melalui sistem BI RTGS (Real Time Gross Settlement) juga cukup tinggi. Sistem transfer dengan jumlah yang besar itu pada 22 Mei mencapai Rp 577 triliun.

Berita Terkait : BI Pangkas Suku Bunga Jadi 5,75 Persen

“Angka itu lebih tinggi dari rata-rata harian. Jadi penyelenggaraan transaksi ekonomi melalui kliring itu berjalan normal,” tuturnya.

Bagaimana dengan maraknya penggunaan VPN?

Seperti diketahui, aplikasi VPN menjadi alternatif masyarakat untuk mengembalikan akses internet, pasca dibatasi oleh pemerintah.


Diakui Perry, sejauh ini transaksi digital perbankan masih berjalan aman tanpa kendala sebagai imbas dari penggunaan VPN.

“Transkasi perbankan dan digital economy berjalan lancar dan aman,”jelasnya.

Terkait VPN, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan hal yang sama seperti BI. “Tidak apa-apa (pakai VPN). Tidak ada masalah,” jawab Wimboh singkat.

Berita Terkait : Gandeng Mitra Strategis, BI Siap Akselerasi UMKM di Pasar Global

Meski demikian, sempat ramai broad cash yang beredar di grup Whatsapp dari IT Security Awareness Program BCA Prioritas Galaxy Liana Feary. Pesannya, mengimbau kepada nasabah yang sudah mengaktifkan aplikasi VPN Free yang ada di Android atau Iphone agar bisa connect ke aplikasi sosmed dimohon untuk tidak melakukan transaksi perbankan saat mengakses VPN.

“Pastikan aplikasi VPN-nya dalam kondisi disconnect (ter￾putus) apabila akan melakukan transaksi perbankan di Smartphone,” imbaunya.

Hal ini dikarenakan apabila VPN masih aktif ada kemungkinan data transaksi bisa di sadap oleh pihak penyedia VPN. "Preventive sebelum kejadian,” pesannya.

Sebelumnya, Analis forensik digital Ruby Alamsyah menjelaskan, penggunaan VPN bisa bersiko tersusupi spyware yang dapat mengakses data-data tertentu di ponsel atau komputer. Sebab, VPN tidak memiliki provider yang jelas.

Menurutnya, ketika seseorang mengakses internet dengan menggunakan VPN, seluruh trafik internet bisa diakses, dibaca dan digunakan oleh penyedia VPN tersebut. Namun, sejauh penggunaan internet hanya sebatas keperluan standar tanpa memasukkan data pribadi, risiko kebocoran data akan kecil.


“Bagi orang awam, penggunaan VPN untuk keperluan standar browsing website yang tidak akan memasukkan data pribadi, berupa username, password, PIN, dan data sensitif lain, risikonya akan kecil,” tutupnya.

RM Video