Daftarkan Partai Gelora ke Kemenkumham

Anis Matta Berbuah Manis Atau Akan Berlinang Air Mata

Klik untuk perbesar
Anis Matta, Fahri Hamzah dan para pengurus Partai Gelora usai mendaftarkan Partai Gelora ke Kementerian Hukum dan HAM, di Jakarta, kemarin. (Foto: Twitter@anismatta)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Setelah nasibnya di PKS tidak jelas, bekas Presiden PKS Anis Matta bersama koleganya, Fahri Hamzah mendaftarkan partai baru ke Kemenkumham. Namanya Partai Gelora. Apakah partai ini akan membuat Anis Matta berbuah manis atau berlinang air mata? Kita lihat saja nanti.

Pendirian Partai Gelora awalnya terungkap dari cuitan Fahri Hamzah di akun Twitternya, Senin (4/11). Fahri mengatakan, dirinya dan Anis sedang mendaftarkan Partai Gelora di notaris.

“Ijin Teman2 hari ini sebagian penggagas; Ketum, Waketum, Sekjen, Bendum dan para ketua bidang. Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau #GeloraIndonesia bertemu dengan Notaris. Dan memulai sebuah pro ses pendaftaran badan hukum. Doa kan ya, semoga diperlancar oleh Allah SWT,” kicau Fahri.

Dalam twit itu, eks Wakil Ketua DPR itu juga membagikan foto bersama dengan para pendiri Partai Gelora lainnya. Di foto tersebut mayoritas eks pimpinan PKS. Selain Anis dan Fahri Hamzah, ada Mahfudz Siddiq, Rofi Munawar, dan Achmad Rilyadi.

Kabar tentang eks Presiden PKS itu mendirikan partai baru sebenarnya sudah lama terdengar. Kabar tersebut digembar-gemborkan oleh konconya Anis, Fahri Hamzah. Awalnya publik mengira partai baru itu adalah Garbi, singkatan dari Gerakan Arah Baru Indonesia yang didirikan oleh mereka.

Berita Terkait : Belum Berani Deklarasi, Partai Gelora Cuma Gelar Konsolidasi dan Silaturahmi

Salah satu pendiri Partai Gelora, Achmad Rilyadi mengatakan, alasan mereka mendirikan Partai Gelora ka rena tidak ada jalan temu dengan pengurus PKS pimpinan Sohibul Iman. Menurut dia, PKS menutup pintu islah.

Dia mengakui, anggota Partai Gelora memang eks PKS, namun partai ini akan beda dengan PKS. Partai ini akan lebih terbuka.

“Target kami ikut pemilu dulu,” ujarnya.

Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro mengatakan, peluang Partai Gelora masih 50:50. Ini berdasarkan pengalaman Pemilu 2019 lalu, dimana ada empat partai baru, yakni Perindo, Garuda, Berkarya, dan PSI, namun tak satupun dari mereka mampu meloloskan kadernya masuk ke DPR.

Bahkan partai lama pun, lanjut Siti yang sebelumnya punya kursi yakni partai Hanura juga terpental dari DPR. Ditambah partai-partai lama yang selalu ikut pemilu, tapi juga tak mampu memenuhi ambang batas yaitu PBB dan PKPI.

Berita Terkait : Andi Arief Sindir Partai Gelora Jadi `Gelanggang Orang Rapuh`

“Hal ini menunjukkan bahwa tak mudah bagi partai untuk mendapat suara atau dukungan yang signifikan,” kata Siti kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Ia menerangkan bahwa tinggi rendahnya dukungan rakyat ke parpol sangat dipengaruhi oleh preferensi dan perilaku pemilih yang sangat variatif. Mulai dari pemilih tradisional, pemilih yang memilih karena terafiliasi alasan etnis, suku, agama, dan pemilih rasional.

“Parpol yang memiliki infrastruktur yang kuat sampai tingkat bawah dipastikan kuat pula pendukungnya,” lanjutnya, kemudian mencontohkan PDIP, Golkar dan Gerindra. Menurutnya, ketiga parpol ini menunjukkan basis massa yang relatif mantap.

Tak ingin mengecilkan Gelora, Siti menyebutkan partai yang di gagas Anis dan Fahri itu punya kemungkinan untuk punya prospek cerah. Asalkan partai ini mampu menentukan segmen pemilih yang tepat. Segmen yang di maksud adalah ceruk dukungan pemilih yang akan disasar Gelora. Apakah kader PKS, orang muda atau pemilih yang kecewa terhadap partai-partai yang ada?

“Bila gelora dinilai mampu menjadi wadah bagi mereka, tak tertutup kemungkinan prispeknya cerah karena Gelora diminati,” katanya.

Baca Juga : Airlangga: Proses Pemilihan Ketum Golkar Demokratis

Warganet pun heboh menanggapi kelahiran Partai Gelora. Akun @suarakadrun menilai ide yang diusung dari partai ini bagus. Tapi ia mengaku masih ragu, jika Gelora bisa lolos ambang batas parlemen atau parliamen tary threshold (PT) di pemilu 2024.

“Karena di Indonesia, penopang partai bisa dapat suara signifikan ada 3: duit, jaringan, dan ketokohan. Di ketiga faktor itu GELORA belum terli hat keunggulannya,” cuitnya. “Biasa nya kalo didirikan oleh para sem pa lan, keok. Terlebih ga punya modal spt PKPI (sempalan Golkar). Lain halnya dgn Nasdem sempalan Gol kar yang koceknya penuh,” nilai @MuslikhMohamad. “Laku tidak ni Partai baru ni ye,” tanya @DavidAripaddin2.

Selebihnya, mempersoalkan logo Gelora yang mirip Perindo dan merk minuman bersoda Pepsi. Ada juga yang kepingin gabung, tapi masih ragu dengan singkatan partainya yang mirip dengan organisasi agama tertentu.

“Bang Fahri itu nama Partainya, Partai Gelora Indonesia disingkat PGI, mohon izin saran bang sebelum resmi didaftarkan agar cari nama yang lebih enak dan lebih berkelas. Terima kasih,” usul @Nandar05973831. “PGI...itu ..singkatannya..bukan PG. Ada jg PGI... Persekutuan Gereja-gereja Indonesia,” sentil @Joyanle2. Menjawab masalah itu, akun @Alex_ryan07 menawarkan singkatan lain. “Kalo disingkat jadi Pageri,” tanya dia. [SAR]