Bicara Olahraga, Pemuda, dan Tata Kelola Dengan Menpora (1)

Jangan Sampai Hattrick...

Menpora Zainudin Amali (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)
Klik untuk perbesar
Menpora Zainudin Amali (Foto: Ng Putu Wahyu Rama/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - "Jangan sampai hattrick...” Begitu kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainuddin Amali saat menerima Tim Rakyat Merdeka, di kantornya, Selasa (12/11).

Menpora tidak sedang bicara berapa gol yang masuk ke gawang dalam pertandingan sepakbola. Tapi, dia sedang mendeklarasikan tekadnya: Kemenpora harus bersih dari korupsi. “Saya ingin husnul khatimah,” tegasnya lagi.

Dalam kesempatan itu, Menpora didampingi Sesmenpora Gatot S. Dewabroto. Sementara dari tim redaksi Rakyat Merdeka dihadiri Dirut Margiono, Dewan Redaksi Kiki Iswara dan Pemimpin Redaksi Riki Handayani.

Selama hampir satu jam, Zainuddin bicara terkait berbagai persoalan Kemenpora. Sebagian persoalan klasik. Seperti prestasi sepak bola yang melempem, dualisme kepengurusan induk cabang olahraga, dan tentu saja salah satu yang disorot adalah korupsi.

Membersihkan Kemenpora dari kasus korupsi memang salah satu tugas yang dititipkan Presiden Jokowi ke Menpora. Pekerjaan yang tidak mudah karena kadung ada stigma buruk dari masyarakat terhadap kementeriannya.

Kemenpora dianggap kementerian kelas tiga, dan menterinya kerap berurusan dengan KPK.

Berita Terkait : Soal Anggaran, Menpora Minta Jajarannya Kedepankan Prinsip Transparansi dan Akuntabel

Stigma yang tidak keliru-keliru amat. Karena dua menteri pendahulu Zainuddin berakhir di balik jeruji penjara karena terjerat kasus korupsi. Pertama, Andi Mallarangeng yang terlibat kasus korupsi proyek Hambalang. Kedua, Imam Nahrawi.

Di akhir masa jabatannya, pria asal Bangkalan, Madura itu ditetapkan sebagai tersangka kasus dana hibah Kemenpora ke KONI.

Zainuddin bertekad menjawab kesan buruk itu dengan berkerja secara profesional. “Pak Presiden mewanti-wanti betul soal Kemenpora agar bebas korupsi ini,” tegasnya.

Pesan lainnya, menurut Zainuddin, Jokowi ingin menterinya itu tak lagi jalan. Tapi langsung berlari. Makanya, pria kelahiran Gorontalo 57 tahun silam itu berusaha menjalankan perintah itu dengan baik.

Begitu dilantik, Zainuddin langsung tancap gas. “Langsung gigi empat, bukan dua atau tiga lagi,” katanya terkekeh. Sampai-sampai sepatu ketsnya terangkat sedikit dari posisi selonjoran.

Yang pertama dilakukan Amali setelah dilantik langsung berkeliling dan mengumpulkan jajarannya, mulai dari dirjen sampai pejabat eselon empat. Menurut dia, salah satu kunci persoalan ini ada di perbaikan tata kelola. Kepada jajarannya, ia memberi arahan dan penekanan soal ini.

Berita Terkait : Menpora Apresiasi Polri Ikut Membina Olahraga di Indonesia

“Bukan untuk mencari kesalahan. Supaya kita tahu, kalau ada lobang jangan lewat situ. Kalau ada bolong, jangan lewat situ. Kalau ada bolong kita lewat situ, kitanya saja yang mau kecebur. Era sudah berubah. Kita juga harus berubah,” ujarnya.

Zainuddin menyadari, banyak yang memandangnya sebelah mata. Ia sendiri sudah mendengar banyak pesimisme itu. Karena berasal dari partai politik, sebagian orang menilai tak akan ada perubahan siginifikan di Kemenpora.

“Menpora pasti akan lebih banyak mengurusi soal politik. Olahraganya terlantar, paling-paling pemudanya saja yang disentuh,” kata Zainuddin.

Memperbaiki itu memang tidak mudah. Kata dia, pesimisme itu bukan hanya datang dari masyarakat. Bahkan dari internal kementerian sendiri. Karena dari parpol, dia dianggap akan membawa rombongan stafsus, yang kadang lebih galak dari menterinya. Seperti stafsus sudah seperti menteri. Ia tahu betul persoalan ini.

“Di awal saya memberi penekanan soal ini. Stafsus itu bukan menteri. Tidak bisa memerintah. Semua perintah akan datang dari saya, stafsus itu hanya membantu menteri,” ucapnya.

Zainuddin juga mengungkapkan, stigma buruk itu bahkan datang dari dalam pemerintah sendiri. Banyak pegawai Kemenpora yang minder mengenakan baju bertulis Kemenpora.

Berita Terkait : Menpora Sawer Rp 360 Juta Juara Angkat Besi Junior

Saat ratas di Kemenko misalnya, banyak yang tak berani angkat tangan bicara karena stigma itu terlalu kuat. Zainuddin bertekad menghapus kesan itu dengan bekerja lebih baik.

“Kalau kita bantah, capek kita. Habis energi saya. Lebih baik kita tunjukkan kerja yang baik saja,” ujarnya.

Dia kemudian memaparkan dua programnya ke depan. Pertama, di bidang olahraga, dia ingin masyarakat kembali bicara soal olahraga. Istilahnya, memasyarakatkan olahraga. Kedua, soal pembinaan dan kesinambungan prestasi. [BCG]