Anies Tata Taman HI

Habis Bambu Terbitlah Batu

Klik untuk perbesar
Inilah instalasi batu gabion di Bundaran HI. (RANDI TRI KURNIAWAN/RM).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan terus melakukan penataan taman di Bunderan Hotel Indonesia (HI). Agar enak dilihat, bekas tempat instalasi seni anyaman bambu Getah Getih, kini diisi instalasi batu yang diberi nama Gabion yang dikelilingi bunga. Netizen pun riuh mengomentarinya. Bahkan ada yang nyeletuk habis bambu terbitlah batu.

Instalasi Gabion berupa tumpukan pecahan batu dalam wadah yang dibentuk dengan anyaman kawat besi. Mirip bronjong sebenarnya. Atau instalasi batu yang dibuat untuk menahan pinggiran turap kali agar tidak ambrol.

Bedanya, bronjong ini tidak memanjang seperti di kali. Tetapi meninggi. Seperti pilar. Ada tiga bronjong batu yang bentuknya vertikal ke atas. Masing-masing bronjong berbeda tingginya. Ada yang kecil sekitar dua meter, sedang tiga meteran, hingga yang paling tinggi, empat meteran. Di puncaknya dipenuhi tanaman dan bunga warna-warni. 

Di sekitar instalasi ini, terdapat taman bebatuan, dan juga berbagai tanaman bunga-bunga. Seperti, bougenvil, lolipop, lidah mertua (sansevieria) dan lainnya. Secara kasat mata, instalasi anyar tersebut bikin kawasan Bundaran HI tampak lebih hijau dan segar, serta tambah berwarna. Tidak gersang seperti saat instalasi Getah Getih masih dipasang. 

Untuk mengingatkan, sebelum gabion, instalasi Getah Getih lebih dulu dipasang di tempat tersebut, untuk menyambut Asian Games 2018. Getah Getih dibuat oleh seorang seniman bernama Joko Avianto atas permintaan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. 

Berita Terkait : BNI, OJK, dan Pemda Jakarta Perluas Program Menabung dengan Sampah

Lantas berapa duit yang dihabisin buat bikin Gabion? Kepala Dinas Kehutanan DKI Jakarta Suzi Marsitawati mengatakan, hanya menghabiskan duit senilai Rp 150 juta untuk bikin Gabion. Jauh lebih rendah dibanding intalasi Getah Getih yang menghabiskan dana Rp 550 juta. “Ini didesain dan dirancang sendiri oleh Dinas Kehutanan,” kata Suzi. 

Menurut dia, dirinya sengaja membuat instalasi Gabion yang terbuat dari tumpukan batu kali dan kawat supaya biayanya lebih terjangkau. Desainnya pun dari Dinas Kehutanan. Instalasi Gabion, jelas Suzi, dapat berfungsi kurang lebih dua tahun ke depan. Namun, takmenutup kemungkinan setelah ini akan ada jenis instalasi lain yang akan dipasang di lokasi tersebut. 

Menurut Suzi, Gabion bukan pengganti instalasi Getah Getih. Sebab, taman di Bunderan HI ini memang didesain untuk menaruh instalasi. “Namanya instalasi bisa berganti-berganti, tiap ornamen kota itu berganti-ganti, dinamis sifatnya. Tergantung Dinas Kehutanan mau ganti atau enggak. Misalkan ada yang lebih bagus, lebih menarik, supaya warga enggak bosan,” terang Suzi. 

Dia menjelaskan makna tiga pilar Gabion tersbeut. Masing-masing menggambarkan tanah, air, dan udara. Selain untuk mempercantik kota, instalasi Gabion juga dibuat khusus untuk menyerap polusi udara. Instalasi ini juga dapat memberikan informasi kepada masyarakat terkait jenis tanaman anti-polutan. 

“Maknanya adalah penyelarasan lingkungan, di mana di bawahnya ditanam juga contoh-contoh tanaman untuk mengurangi polusi,” kata Suzi. 

Berita Terkait : Katahuan Foto Bareng Anies, Fraksi Nasdem Ngaku Enggak Direncanakan

Ditambahkannya, Gubernur Anies memberikan kebebasan Dinas Kehutanan dalam berkreasi membangun instalasi ini. Bagi gubernur, kata Suzi, intalasi yang dibangun yang penting kreatif dan alami serta menggunakan material khas Indonesia. 

Warganet pun riuh mengomentarinya. Akun @ipunk_baik menilai, seni ini sedang ngetrend dan bagus untuk taman-taman kota. “Dapat dipakai dalam unsur fungsional atau dekoratif. Gabion disinergikan dengan vegetasi dan seiring berjalannya waktu tanaman akan merambat dalam gabion dnn menciptakan vegetasi secara vertikal. Dan sedang tren dalam dunia landscape,” terangnya. 

@anaklanang5758 meminta semua pihak menghargai karya seni Gabion ini. “Jangan gitu dong, tolong hargai karya seni gabion ini, siapa tau kalo malem bisa nyala kaya lampion,” ujarnya. “Habis kayu, terbitlah batu,” timpal akun @Pikiran_ menirukan judul buku karya RA Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang. 

Ada juga netizen mempertanyakan pembuatan ilustrasi Gabion itu. Apalagi biaya pembuatannya tidak murah. “Hahaha. Batu 1 truk dan cuma harga Rp 1.8 juta. Isi 7 kubik. Kalau disusun begitu dah jadi berapa tuh Rp 150 juta,” tulis @Ardi22M senada dengan warganet pemilik akun @pipit_kagome. “Rp 150 juta kalau dana desa di sini bisa jadi jalan beton K150 ukuran 0,14x3x350m,” sebutnya lengkap. 

@MrPranatama ikut menimpali. Menurutnya, duit Rp 150 juta bukan untuk tiga pilar saja. Melainkan untuk bunga, taman dan para pekera. “Yang komen pada sotoy. Yang dikerjakan itu bukan Gabionnya saja tapi juga dengan taman-tamannya,” jelasnya. 

Berita Terkait : Rumah Dinasnya Direnov 2,4 M, Anies Senang di Lebak Bulus

Akun lainnya teringat sosok dalam dongeng yang dikutuk menjadi batu. “Akibat mesum bambu di kutuk jd batu,” kelakar @YunusLele. Sesungguhnya itu adalah sindirian untuk para haters @aniesbaswedan kalian akan dikutuk menjadi BATU kalo terus membullynya.. Paham?,” curcol @ amcay_immer. 

Sedangkan akun @aldowibowoo khawatir, jika tumpukan batu itu nantinya bisa dimanfaatkan para pendemo yang ingin membuat rusuh. “Persiapan untuk demo kayaknya,” curiganya. [SAR/FAQ]