Sebut Karhutla Di Riau Tidak Separah Yang Diberitakan

Wiranto Dituding Tidak Peka Dengan Penderitaan Rakyat

Klik untuk perbesar
Menko Polhukam Wiranto

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sikap Menko Polhukam Wiranto yang menyebut dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbeda dengan realita yang ditemukan di lapangan bikin warganet geram. Wiranto dianggap tak peka terhadap penderitaan rakyat

Wiranto menyampaikan pernyataan itu di kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, kemarin. 

Wiranto mengumumkan temuan ketika terjun langsung ke Riau bersama rombongan Presiden Jokowi. Kata Wiranto, pada saat blusukan ke Riau, banyak masyarakat yang belum memakai masker. Jarak pandang masih bisa maksimal. Buktinya, pesawat masih bisa mendarat. “Ternyata, kemarin waktu kita di Riau, itu tidak separah yang diberitakan,” ungkapnya. 

Bahkan, kata dia, dalam blusukannya, Presiden Jokowi juga tidak menggunakan masker. Fakta itu memperlihatkan kualitas udara tak terlalu buruk. “Mudah-mudahan kondisi semakin baik,” katanya. Wiranto menambahkan, ke depan, semua pihak tidak perlu saling menyalahkan. 

Dia bilang, semua elemen meski ikut terlibat menangani kebakaran lahan ini. “Tidak hanya tugas pemerintah, tapi juga tugas bersama,” tandas 
Wiranto. 

Pernyataan Wiranto membuat warganet kesal. Yusman Joe mengatakan, statement Wiranto sangat tidak bijak. Dia menjelaskan, lokasi tempat Presiden dan jajarannya blusukan berada di lokasi aman. 

Berita Terkait : Syahrul Yasin Limpo akan Selesaikan Data Pertanian

“Mereka gak masuk lebih dalam ke lokasi, bisa-bisa Presiden dan rombongan sakit ntar,” katanya. 

Yusman juga menyindir Wiranto. “Bapak ini pejabat kawakan. Masak gak bisa memahami kinerja mereka kalau kedatangan atasan-atasannya,” ujar dia. 

Dodi Hendra tak habis pikir dengan Wiranto. Banyak rakyat yang sengsara karena asap, Wiranto justru menganggap sepele saja. “Saya gagal paham dengan statemen bapak jenderal ini. Dapat info dari bawahan yang ABS, atau memang gak ngerti permasalahan, atau ngeles. Kalau begini caranya, mending gak usah ngomong deh bapak yang terhormat,” katanya kesal. 

Kritikan pedas juga dilontarkan Pelapor. Menurut dia, sebagai seorang menteri, Wiranto justru terkesan tidak membaca atau mendapatkan informasi dari BMKG pada jam 5 Pagi 18-9-19. Disebutkan, kualitas udara di Riau menunjukkan pada level berbahaya. 

“Bapak cuma jalan-jalan aja. Rekreasi negeri di atas awan. Terus ngeliat sisa kebakaran hutan. Mau di bilang tidak bisa mikir tapi punya kedudukan di dalam negara. Saya katakan saja bapak amnesia mungkin lebih cocok,” ketusnya. 

Menimpali, Indra Adiarsa mengatakan, komentar Wiranto sangat tidak pantas dan melukai perasaan warga Riau dan Kalimantan yang terampak asap. 

Baca Juga : Baznas Raih Anugerah Syariah Republika 2019

“Parah... temen-temen gw di Sumatera dan Kalimantan udah menderita banget. Beritaberita juga nyebut kebakarannya parah. Eh masih bisa bilang ga separah yang diberitakan. Maksudnya apa???,” kata Indra. 

“Mau nunggu orang-orang mati dan dan sakit serta jadi sorotan dunia baru serius nanganinnya??? Gak peka banget sama penderitaan masyarakat,” sindir dia. 

Jika menteri seperti ini dipertahankan, menurut Ronny Pasaribu, citra pemerintah dan Jokowi akan semakin rusak. “Asli semakin parah citra pemerintahan Jokowi, kalau ada pejabat asbun gini. Jelas-jelas rakyat yang merasakan, trus dibilang gak parah... Kelar lah Jokowi.” Andriy Mykolayovych mengaku sakit hati dengan komentar Wiranto. 

“Astaghfirullah.. Kalau boleh berdoa yang buruk-buruk, ingin rasanya berdoa agar Allah binasakan mereka yang menyepelekan penderitaan kami di Riau,” kata dia. 

Jika memang tidak seheboh yang diberitakan, Leo Ronaldo mendesak Wiranto tinggal satu minggu di Riau untuk membuktikannya. 

“Bapak Wiranto yang pinter dan terhormat, coba tinggal menetap di Riau Pak. Masyarakat bukan tidak ada yang pakai masker Pak, cuma ada sebagian besar masyarakat tidak terbiasa bernafas dengan penutup masker. Asap udah sampai negara tetangga masih dibilang tidak seheboh berita. Greget gw dengernya.” Yockiye juga mendesak Wiranto menginap di Riau atau Kalimantan untuk merasakan penderitaan rakyat. 

Baca Juga : Kemen PUPR Gandeng Kejagung

“Suruh dia nginep ke sana,” anjur dia. Sama, Nur Helmy Herifyando menyarankan Wiranto tinggal di Riau satu hingga dua minggu. “Coba bapak tinggal di sana barang seminggu aja deh, biar bener- bener ngerasain seperti apa rasanya,” desaknya. 

Kalaupun pernyataan Wiranto benar, kata Farraz Sakhry Hanif, kenapa pemerintah daerah sampai meliburkan sekolah. 

“Apa arti libur buat anak-anak pak kalau gak berbahaya.” “Kalau gak parah gak mungkin sekolah diliburkan sampai Singapura ikut liburkan anak sekolah. Bapak menteri sehat ngomong gitu?” sindir Agung Prakoso. 

Cah Goendul ingin menyarankan Wiranto tinggal di Riau. Blusukan cuma 1 Hari, kata dia, tidak valid menyebutkan kebakaran di Riau dan Kalimantan tidak parah. 

“Kami sudah 2 bulan ini terkepung asap.. Anak saya sudah terserah ISPA.. Kalau kami yang kena asap tapi yang kena penyakit orang di Jakarta menteri kayak bapak gak apa-apa,” kata Cah Goendul. 

Bagi Budi Suwandi, bukan masalah parah atau tidak, yang utama seharusnya tidak ada Karhutla karena kejadian ini sudah berulang dari tahun ke tahun. Semua sudah tahu apa penyebabnya dan siapa yang melakukan tetapi tetap saja dibiarkan terjadi. [REN]