Prabowo Singgung Minimnya Ahli Fisika

Salah Lagi, Blunder Lagi, Minta Maaf Lagi

Klik untuk perbesar
Capres No urut 2, Prabowo Subianto (Foto: IG @prabowo)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ucapan Prabowo Subianto bahwa profesor fisika hanya ada satu di Indonesia, masih jadi polemik. Dunia maya, masih meributkannya.

Statemen Prabowo Subianto soal minimnya profesor fisika di Indonesia dilontarkan pada acara Indonesia Economic Forum, di Hotel Shangri-La, Rabu (21/11). Saat itu, Capres nomor urut 02 ini berbicara tentang lemahnya sistem pendidikan di Indonesia.

Lalu, Ketua Umum Partai Gerindra ini memberi contoh kurang berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia adalah kurangnya profesor fisika. Bisa dibayangkan, kata dia, untuk sekelas profesor fisika saja, Indonesia cuma punya satu. Padahal, saat ini sudah penuh dengan persaingan antar negara.

Berita Terkait : Kiai Maruf: Target Prabowo Kegedean

“Lalu bagaimana kita mau bersaing di bidang ilmu pengetahuan?” kata Prabowo.

Juru bicara timses capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini langsung berkomentar. Jebolan Universitas Indonesia (UI) ini tak mau capresnya jadi bulan-bulanan netizen.

Kata dia, ucapan Prabowo hanya sebagai bentuk sentilan agar negara ini harus se¬rius bersaing dalam dunia pendidikan dengan negara lain. Kata dia, dengan Thailand dan Vietnam saja, Indonesia sudah ketinggalan sejauh tujuh tikungan obat nyamuk, apalagi dengan Inggris atau Amerika Serikat.

Berita Terkait : Fahri Hamzah: Kalau Dia Selesai, Bahaya

“Kalau cara mengelola negara seperti sekarang, masih ada Profesor fisika saja udah bagus,” katanya.

Faldo yang pernah kuliah di luar negeri mengaku ada perlakuan yang berbeda dengan negara lain terkait riset dan aplikasi. “Kuliah saya di Inggris itu menjual hasil penelitian ke industri dan ciptakan kolaborasi. Pada awalnya, negara semua yang danai. Sekarang, swasta sudah banyak sekali yang invest. Teknologi yang kita lihat hari ini, macam layar touch screen ini, sudah ada di Lab Imperial College dan MIT (Massachusetts Institute of Technology) sejak tahun 1980-an. Investasi negaranya adalah untuk masa depan,” sam¬bung Faldo.


“Saya merasakan keresahan sejawat saya. Lulus kuliah lebih banyak jadi guru bimbel, tidak banyak yang jadi ilmuwan. Saya tidak bilang jadi guru bimbel itu buruk, nanti saya dibilang jadi penista guru bimbel oleh kubu 01 yang kehabisan bahan kampanye, tetapi konteks hari ini kita butuh banyak fisikawan untuk bersaing secara global. Ekosistemnya harus diciptakan. Kalau Indonesia tidak se¬rius menuju negara industri, ahli sains kita pasti angkat kaki semua dari Indonesia,” ucap Faldo.
 Selanjutnya 

RM Video