Pemilu Membunuhmu, Sejarah Kelam Bagi Anak-Cucu

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Meski sudah jadi sorotan media dan masyarakat, jumlah petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia bukannya terhenti, justru terus bertambah. Berdasarkan data KPU per Sabtu (4/5) pukul 16.00 WIB, jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal sebanyak 440 orang.

Jika digabung secara keseluruhan, petugas yang meninggal mencapai 554 orang, baik dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maupun personel Polri. Begitu pula dengan petugas yang sakit, terus bertambah dari hari sebelumnya. Kini mencapai 3.668 orang dirawat di rumah sakit.

Bertambahnya jumlah petugas yang meninggal dunia membuat warganet sedih. Ada juga yang sengaja menyindirnya. Seperti akun komikluks. Menurut dia, Pemilu tahun ini berhasil mengurangi lebih dari 400 jiwa populasi manusia di Indonesia. “Waw.. Tidak perlu ribet-ribet pake acara genosida, apalagi harus ngumpulin infinity stone sampe pergi jauh ke asgardia,” kata dia.

Baca Juga : Rachel Goddard Sempat Stres Hilangkan Bekas Jerawat

Cukup adakan pemilu sebulan sekali saja. Kalau rutin bisa mengurangi setengah populasi dari penduduk negaraku tercinta. “Kan jadi semakin seimbang alam semesta. Program “2 anak saja cukup” mana bisa ?” katanya.

Jdlee5210 menganggap, banyaknya petugas yang tumbang membuktikan Pemilu 2019 merupakan pemilu terparah dalam sejarah Indonesia.

Bahkan, kata abiyaveiro92, dana sebesarRp 24 triliun untuk penyelenggaraan pemilu tidak bisa menjamin keselamatan petugasnya. Akhirnya, ratusan orang menjadi korban. “Fix Pemilu terburuk di Indonesia,” sebutnya.

Baca Juga : Perteta Juluki Amran Bapak Mekanisasi Pertanian Indonesia

Asrofuu24 menuturkan, Pemilu 2019 salah satu sejarah kelam bangsa yang patut diceritakan kepada anak cucu nanti agar tak terulang demi egoisnya politik. “Pemilu membunuhmu,” ujar aanagstn47.

Menimpali, surya_triazi membenarkan, democrazy bukan demokrasi. Dari awal kampanye saja, kata dia, sudah bar-bar, makanya pas pemilu banyak korban. Sementara, titodirgantara tidak sependapat jika banyaknya korban jiwa itu murni kesalahan KPU. “Salah alamat bro.

KPU cuma penyelenggara atau ibaratnya EO. Penggagas yang ngajuin pemilu serentak ke MK itu yang harusnya dimintain pertanggungjawaban,” bela Tito. [REN]

RM Video