Sudah Dilirik Investor Hong Kong

Waskita Bakal Jual 2 Ruas Tol Trans Jawa Tahun Ini

Klik untuk perbesar
Ilustrasi jalan tol. (Foto: Net)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dua ruas tol, yakni Solo-Ngawi dan Ngawi-Kertosono bakal dilepas tahun ini. Investor asal Hong Kong diklaim sudah melakukan penjajakan dengan Waskita Toll Road (WTR) selaku pemilih dua ruas tol tersebut.

Direktur utama PT Waskita Toll Road (WTR), Herwidiakto memastikan, penjualan dua ruas tol tersebut akan dilakukan tahun ini. Sejauh ini, sudah ada yang menyatakan minatnya untuk membeli kedua jalan tol tersebut.

“Divestasi (perusahaan luar) dua ruas tol saja (yang di divestasi). Asal negaranya Hong Kong,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, perusahaan Hong Kong yang berminat pada dua ruas Tol Trans Jawa itu merupakan perusahaan patungan yang ada di negara tersebut. Namun dirinya tidak menyebutkan nama perusahaan yang berminat untuk membeli dua ruas tol tersebut.

Berita Terkait : Anak Usaha ABM Investama Kantongi Kontrak Baru Rp 4,7 T

“Pasti di sana (perusahaan) konsorsium. enggak ada (perusahaan dalam negeri yang ikut konsorsium),” jelasnya.

Herwidiakto mengatakan, sudah membuka penawaran kepada perusahaan dalam negeri. Namun tawaran perusahaan dalam negeri, kata dia, masih di bawah perseroan asal negara bekas koloni Inggris itu. ’’Duitnya pas-pasan kalau dalam negeri,’’ jelasnya.

Selain dua tol tersebut, Waskita akan mendivestasi dua ruas tol setiap tahun. ’’Dua-dua tiap tahun. tahun depan dua. Belum tahu yang mana,’’ tambahnya. Yang jelas, PT Waskita Karya berencana menjual 18 ruas tol miliknya.


Sebelumnya, Direktur Utama Waskita Karya I Gusti Ngurah Putra menyatakan, langkah itu merupakan cara perseroan guna menjaga keuangan agar tetap sehat. Apalagi, bisnis utama perseroan sebenarnya adalah kontraktor, bukan operator tol.

Berita Terkait : Waskita Tak Sia-sia Kebut Tol Trans Jawa

’’Kalau divestasi enggak jalan, Waskita tidak mampu lagi investasi karena strategi awal masuk tol bukan sebagian operator tol, melainkan developer,’’ ujarnya.

Meski demikian, agar tidak bermasalah, ruas tol yang akan dijual emiten dengan kode dagang WSKT tersebut adalah ruas tol yang sudah 100 persen selesai dibangun. Pihaknya pun membuka penawaran pada perusahaan lokal dan asing.

Bila perlu, Waskita juga akan jemput bola dengan melakukan road show ke beberapa negara yang memiliki pembeli potensial seperti Dubai, Prancis, maupun Hong Kong untuk menawarkan divestasi ruas tol. Konsep itu dilakukan di tengah kondisi tahun politik di mana banyak investor yang melakukan aksi wait and see.

Sebanyak 18 ruas tol yang akan dijual Waskita ada di Jawa dan Sumatera. Yakni tol Pejagan-Pemalang (trans-Jawa), tol Pemalang-Batang (trans-Jawa), tol Batang-Semarang (trans-Jawa), tol Solo-Ngawi (trans-Jawa), tol Ngawi-Kertosono (trans-Jawa), tol Pasuruan-Probolinggo (trans-Jawa), tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (trans-Sumatera), tol Kayu Agung-Palembang-Betung (trans-Sumatera), tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat (trans-Sumatera), tol Serpong- Cinere (tol Non Trans-Jawa), tol Cinere-Jagorawi (tol Non Trans Jawa), tol Cimanggis- Cibitung (tol Non trans-Jawa), tol Cibitung-Cilincing (tol Non trans-Jawa), tol Depok-Antasari (tol Non Trans-Jawa), tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (tol Non Trans-Jawa), tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (tol Non Trans-Jawa), tol Krian-Legundi- Bunder-Manyar (tol Non Trans- Jawa), dan terakhir tol Cisumdawu (tol Non Trans-Jawa)

Berita Terkait : BKS: Tol Trans Jawa Jadi Kunci Kelancaran Mudik

Sementara, Kepala Badan Pengatur Jalan tol (BPJt) Danang Parikesit tak mempersoalkan rencana Waskita Karya (Persero) melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road melakukan divestasi atas kepemilikan saham di ruas tol Solo-Ngawi dan tol Ngawi-Kertosono ke investor asing. Menurutnya, terpenting Waskita telah meminta izin kepada Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait rencana lego saham tersebut.

“Ya mereka kan bisa ada beberapa cara (divestasi). Yang jelas kalau setiap ada peruba-han susunan pemegang saham itu atas persetujuan Menteri PUPR,” kata Danang.

Sejauh ini, ia mengatakan, belum ada daftar negatif terkait investasi asing di dalam negeri, terutama dalam hal jalan tol. Meski begitu, BPJT memiliki skema tertentu untuk menilai apakah perusahaan yang tertarik memiliki saham tersebut layak secara finansial atau tidak.


“Contohnya menggunakan indikator EBITDA, itu diteliti jangan sampai yang masuk abal-abal. kita inginnya mereka masuk dan serius menjadi bagian dari BUJT,” ucap Danang. [IMA]