Hindari Abrasi, Pelindo lll Gandeng TNI Tanam Bakau

Pelindo III tanam bakau. (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Pelindo III tanam bakau. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Pelindo III melakukan penanaman 51.900 bibit bakau di sejumlah wilayah di Cilacap, Semarang, Benoa, Kupang, Lembar, Tanjung Wangi, dan Maumere. Dalam kegiatan itu, Pelindo lll menggandeng TNI. Secara total, ada 300 ribu mangrove yang ditanam serentak dari Sabang-Merauke.

Direktur Sumber Daya Manusia Pelindo III Toto Heliyanto menjelaskan, Pelindo III menyambut positif program penanaman mangrove secara serentak yang dilakukan TNI dari Sabang sampai Merauke.

“Saya sangat bangga dapat langsung melakukan penanaman mangrove bersama TNI di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Ini peran nyata menanam mangrove di mana kepedulian Pelindo III terhadap lingkungan adalah dengan menjaga ekosistem hutan mangrove di wilayah kerjanya," ujar Toto dalam keterangannya, Rabu (9/10).

Berita Terkait : Kemenhub Tunjuk Pelindo lll Bangun Pelabuhan Di Labuan Bajo

Hadirnya hutan mangrove, lanjut Toto, sangat berperan penting dalam menjaga garis pantai agar tetap stabil. Kehadiran populasi pohon dan semak yang ada pada hutan mangrove tersebut dapat melindungi tepian pantai dari terjangan ombak langsung yang berpotensi menghantam dan merusak bibir pantai.

"Selain itu, peran penting hutan mangrove lainnya yakni melindungi pantai dan tebing sungai dari kerusakan, seperti erosi dan abrasi," katanya.

Toto menegaskan, aksi penghijauan ini sebagai wujud sinergi antara TNI bersama dengan Pelindo III dan masyarakat yang memberikan manfaat bagi lingkungan, khususnya di sekitar wilayah laut dan pantai.

Berita Terkait : Pelindo lll Diganjar 7 Penghargaan

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil E. Dardak mengatakan, daerahnya memiliki 18.500 hektare hutan mangrove. Namun kerusakan yang terjadi mencapai 45 persen. 

Hutan mangrove rusak akibat penjarahan liar. Tak hanya penjarahan liar, Emil mengungkapkan, kerusakan tersebut disebabkan antara lain adanya sejumlah kawasan hutan mangrove berubah menjadi pemukiman, industri dan tambak, illegal logging, hama/penyakit, pencemaran, dan praktek budidaya yang tidak berkelanjutan. 

"Akibatnya luas hutan mangrove di Jawa Timur terus menyusut," katanya. [KPJ]