Kompak Di Bandung, Gelar Mining For Life

Usaha Tambang Diberi Atensi, Pertumbuhan Bisa Naik 7 Persen

Klik untuk perbesar
Presiden Direktur PT Inalum Budi Gunadi Sadikin (kanan) bersama para pimpinan perusahaan yang hadir dalam event Mining Life Talk di Museum Geologi Bandung, Jawa Barat, Sabtu (19/1). (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Budi Gunadi Sadikin punya resep jitu untuk menaikkan pertumbuhan Indonesia. Caranya, dengan memberi atensi besar terhadap dunia pertambangan. “Sekarang, pertumbuhan di kisaran 5 persenan. Kalau pertambangan diberi perhatian besar dan tanpa gangguan, pertumbuhan kita bisa naik sampai 7-9 persen,” katanya, yakin.

Budi, mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri yang sekarang jadi Presdir PT Inalum itu kini sudah bertransformasi. Tak sekedar bankir handal, tapi juga ahli di urusan pertambangan. Budi adalah salah satu pembicara di event Mining Life Talk, yang digelar di Museum Geologi Bandung, Sabtu (19/1).

Event itu baru pertama kali diselenggarakan. Ini jadi bukti dunia pertambangan Indonesia makin membuka diri. Kegiatan Mining for Life diselenggarakan oleh sejumlah perusahaan pertambangan yang tergabung dalam IMA (Indonesia Mining Association). Acaranya digelar terbuka untuk publik, pagi hingga malam hari. Cukup meriah. Masyarakat tampak antusias datang ke acara itu.

Di halaman museum, banyak spanduk, banner, dan pernak-pernik kreatif bertuliskan informasi tentang apa itu mineral tambang, dan manfaatnya untuk manusia. Juga ada sejumlah booth, yang instagramable dengan hiasan batu-batu dan hasil eksplorasi geologi. Cukup menarik, sekaligus memberi pencerahan dan pengetahuan kepada masyarakat tentang dunia pertambangan.

Ido Hutabarat, Ketua IMA yang juga Presdir Arutmin, dalam sambutannya mengatakan, event Mining For Life digelar untuk memberi gambaran positif tentang dunia pertambangan. Praktek-praktek yang benar, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Selain di halaman, masyarakat juga memenuhi bagian dalam Museum Geologi Bandung, yang kini sudah banyak sekali perubahan. Rupanya, telah dilakukan renovasi dan rehabilitasi museum. Jadi lebih indah, bersih, informatif, dan membanggakan.

Kepala Badan Geologi ESDM Rudy Suhendar mengatakan, setiap tahun pengunjung Museum Geologi mencapai 1 juta orang. Memeriahkan event itu, ada pameran dan sejumlah lomba terkait dunia pertambangan Indonesia.

Salah satu event yang penting dalam perhelatan itu adalah Mining Life Talk. Dialog pemimpin media massa dengan sejumlah pengusaha pertambangan Indonesia. Hadir sebagai pembicara, selain Budi Gunadi Sadikin, ada Tony Wenas (Direktur Utama PT Freeport Indonesia), Sukmandaru Prihatmoko (Ketua Ikatan Ahli Geologi) dan Hendra Sinadia (Pengamat Pertambangan yang juga Executive Director Indonesian Coal Mining Association).

Dari Kementerian ESDM, ada Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Muhammad Hendrasto, tampil sebagai keynote speech. Di tengah seminar juga hadir Nico Kanter (Presdir Vale Indonesia) dan sejumlah pimpinan dari perusahaan tambang lainnya. Dari PT Bukit Asam, PT Timah, Antam, Adaro, Kaltim Prima Coal (KPC), dan lain-lain.

Budi Sadikin dicandai Suryopratomo, Direktur Utama MetroTV yang menjadi pemandu diskusi hari itu. Katanya, “Sekarang ini, Anda jadi orang terkaya karena baru saja membeli saham Freeport sebesar 51 persen".

Budi Gunadi tertawa. Inalum yang dipimpinnya, memang baru saja menyelesaikan proses divestasi yang amat rumit, yaitu amanat agar Freeport kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tentang bagaimana pertambangan bisa menaikkan pertumbuhan Indonesia, dia tak asal ngomong. Ada banyak angka, asumsi dan prediksi teknis yang disampaikan.

Semuanya sangat beralasan dan rasional. Kuncinya, regulasi, konsisten, komitmen dan ada atensi tinggi dari semua pihak terhadap dunia pertambangan. Budi bercerita, orang tahunya dunia tambang itu cuma merusak. Gali, gali, gali, lingkungan hancur, monyet hilang. “Kasian kan orang tambang,” katanya.

Padahal yang mereka kerjakan itu luar biasa. Masuk ke belantara, terpencil, mungkin belum ada kehidupan. Atau masuk ke tempat dimana orang hidupnya susah. Mereka cari mineral tapi juga membangun jalan, bangun pelabuhan, bangun airport sehingga ada kehidupan.

“Tanpa tambang, tak mungkin ada Kota Sawahlunto. Tak akan ada Bukit Tinggi. Tanpa PT Timah, tak akan lahir Bangka Belitung. Tanpa minyak, tak mungkin ada Balikpapan. Tak akan ada Soroako, kalau tak ada perusahaan nikel Vale. Dan tanpa Freeport, mungkin tak ada Koala dan Kencana di Timika," kata Budi.

Jadi, orang tambang itu, lanjutnya, we are not building cities, but life. “Jadi nggak fair kalau kita hanya melihat dampak, tanpa melihat apa yang mereka kerjakan. Mereka membangun kehidupan,” tegasnya.

Bahkan harusnya, dunia pertambangan itu diberi insentif agar bisa berkontribusi lebih besar untuk negara. Data Kementerian Keuangan menunjukkan, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor minerba pada Desember 2018 mencapai Rp 46,6 triliun.

Tony Wenas, Sekjen IMA yang juga Presdir PT Freeport Indonesia mengatakan, masyarakat perlu mengetahui bahwa kegiatan pertambangan bukanlah semata eksplorasi dan eksploitasi. Tapi juga diikuti dengan reklamasi, rehabilitasi lingkungan yang memberi manfaat ke masyarakat.

“Perusahaan tambang itu wajib tunduk pada rangkaian prosedur pertambangan berkelanjutan, yang diawasi ketat pemerintah. Juga ada standar internasional yang berlaku di seluruh dunia,” katanya.

Di Indonesia, lanjut Tony, perusahaan tambang memiliki komitmen tinggi atas penjagaan kelestarian lingkungan. Cerita Tony, orang cuma lihat, seolah orang tambang itu enak. Seperti dapat harta karun. Padahal itu “harta” nggak kelihatan dan harus dicari. Bukan perkara mudah dan cepat. Bahkan biayanya mahal, dengan probabilitas yang kecil.

Kalau ngobrol sama explorer, misal mau menggali sebuah wilayah. Kita tanya, berapa persen kemungkinannya dapat mineral? Mereka mungkin jawab, “Oh cukup besar ya sekitar 3 persenan lah". Bayangkan, itu dengan kemungkinan hanya 2-3 persen, biaya menambangnya ratusan ribu dolar AS. Sisa 98-97 persen adalah lose money.

“Jadi, dunia tambang itu, sulit, susah  mahal. Probabilitas kecil, tapi butuh effort yang besar,” tegasnya. Tentang pemulihan lingkungan pasca penambangan, Tony mengatakan, sangat tergantung pada kondisinya.

Di Grassberg (tempat Freeport menambang) lokasinya curam bertebing-tebing. Ketika suatu daerah dinyatakan layak ditambang, memang sementara waktu daerah itu dikorbankan untuk nantinya dipulihkan. Di perusahaan tambang kelas besar, selalu menggunakan standar internasional. Bagaimana cara menutup tambang saat tidak digali lagi. “Ada dokumen penutupan tambang, dan dipikirkan pemanfaatannya,” kata Tony.

Dia menyoroti izin-izin tambang untuk skala kecil. Misal kisaran 100 hektar. “Ukuran segini kalau tambang itu kecil. Sehingga, bagaimana mereka menyiapkan lahan untuk jalanan truk, akses, dan sebagainya. Belum tentu, mereka memikirkan bagaimana nanti memulihkannya.

“Yang seperti ini harus ditertibkan. Biasanya, izin-izin penambangan seluas 50-100 hektar banyak di daerah. Apalagi, pas mau Pemilu. Begitu penambangan selesai, ditinggal begitu saja. Banyak penambangan tidak bertanggung jawab,” papar Tony mengingatkan. [Ratna Susilowati]

RM Video