Turunin Harga Tiket, Saham Tergelincir

Garuda Pede Bisnisnya Tak Akan Terganggu

Klik untuk perbesar
Garuda Indonesia.( Foto : Istimewa).

RMco.id  Rakyat Merdeka - Garuda Indonesia menganggap wajar aksi investor saat mendengar perseroan menurunkan tarif hingga 20 persen. Mereka justru mengimbau inilah waktu yang tepat untuk membeli saham perseroan. Sebab, fundamental bisnis perseroan kini lebih baik.

"KAMI melihat respons investor adalah respons yang wajar atas penurunan harga tiket ini. Buat kami, this is the right time to buy (ini adalah waktu yang tepat untuk membeli)," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia IGN Askhara Danadiputra kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Penurunan itu dimulai Kamis (14/1). Pada sesi pembukaan saat itu, emiten berkode GIAA berada di level 480. Namun terkoreksi 7,14 persen ke level 442 pada penutupan perdagangan. Tak lama setelah dibuka pada Jumat (15/1), saham sempat naik ke level 454 sebelum akhirnya terjun bebas. Nahas, saham emiten yang berkode GIAA turun 2,26 persen, dan ditutup ke level 432.

Ari akan meluangkan waktu untuk menjelaskan kepada pemegang saham terkait strategi perseroan ke depan. Sebab dirinya sangat yakin fundamental bisnis Garuda Indonesia sudah berubah ke arah yang lebih baik.

Berita Terkait : Garuda Indonesia Luncurkan Aplikasi Carter Pesawat Cepat


Saking pedenya, Ari menyebut akan ada beberapa aksi yang bisa mengerek pundi-pundi rupiah bagi perseroan. "Selanjutnya, akan ada beberapa hal yang belum bisa kami share sekarang, akan menjadi support bagi naiknya pendapatan buat Garuda Indonesia Group," cetusnya.

Dia menegaskan, optimis target laba sebesar 7 juta dolar AS (Rp 98 miliar) tahun ini bisa tercapai. Sebab, masih banyak cara untuk meraih target tersebut.

Di antaranya, menggenjot pendapatan dari bisnis kargo. Sebab bisnis ini merupakan sumber pendapatan kedua terbesar Garuda. Selain itu, perseroan juga tengah melakukan negoisasi dengan beberapa lessor untuk menurunkan harga sewa pesawat perseroan.

"Kami akan menggenjot pendapatan dari kargo yang merupakan sumber pendapatan terbesar kedua di Garuda. Selain itu kami sedang dalam proses negosiasi dengan beberapa lessor untuk mendapatkan penurunan harga sewa pesawat," ungkapnya.

Berita Terkait : Saham Garuda Indonesia Sempat Anjlok 5,85 Persen

Artinya, apa yang dilakukan Garuda sudah memiliki hitung-hitungnya. Terkait penurunan tarif 20 persen, Ari mengaku hal itu dilakukan untuk menyeimbangkan permintaan, dan penurunan komponen biaya perseroan.


"Kami berharap akan terjadi keseimbangan di pasar yang memberikan win-win solution kepada seluruh stakeholders. Dengan penurunan ini, diharapkan tidak terjadi lagi polemik di masyarakat, sekaligus mengedukasi semua stakeholders atas situasi di industri penerbangan," tuturnya.

Harga Avtur
Ari juga menyambut baik keputusan PT Pertamina yang menurunkan harga avtur dari sebelumnya Rp 8.210 per liter menjadi Rp 7.960 per liter. Harga ini lebih rendah sekitar 26 persen dibandingkan harga avtur (published rate) di Bandara Changi Singapura yang terpantau per tanggal 15 Februari 2019 sebesar Rp 10.769 per liter.

"Bentuk penurunan komponen biaya memberikan efek positif buat maskapai penerbangan," ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) ini.

Berita Terkait : 30 Pesawat Mau Dipasang WiFi, Garuda Manjakan Konsumen

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2018, Garuda membukukan pendapatan usaha 3,21 miliar dolar AS atau Rp 44 triliun. Jumlah tersebut naik dari 3,11 miliar dolar AS atau sekitar Rp 43 triliun pada kuartal III-2017.

Pada periode tersebut, Garuda melaporkan terjadi kenaikan beban bahan bakar sebesar 17,4 persen secara tahunan. Pengeluaran bahan bakar perseroan naik dari 863,3 juta dolar AS atau Rp 12 triliun pada kuartal III-2017 menjadi 1,01 miliar dolar AS atau Rp 14 triliun pada kuartal III-2018.


Di sisi lain, biaya sewa pesawat juga tercatat naik 1,5 persen secara tahunan. Pengeluaran perseroan naik dari 799 juta dolar AS atau Rp 11 triliun pada kuartal III-2017 menjadi 811 juta dolar AS atau Rp 11,4 triliun pada kuartal III-2018. [MEN]

RM Video