Dinilai Tak Penuhi Standar Pelayanan Minimal

YLKI: Tarif Tol Sedyatmo Nggak Layak Dinaikkan

Klik untuk perbesar
Jalan Tol Sedyatmo, yang merupakan akses menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Tulus memprediksi, keandalan Tol Sedyatmo akan makin menurun, jika kapasitas penumpang bandara semakin meningkat. Saat ini, penumpang Bandara Soekarno Hatta (Soetta) mencapai 65 juta lebih. Ditargetkan, akan mencapai 100 juta pada 2025. Hal ini seiring dengan pembangunan runway 3, dan bahkan Terminal 4 Bandara Soetta.

Jika jumlah penumpang 100 juta ini tercapai, artinya trafik di Tol Sedyatmo akan semakin padat. Keandalannya akan semakin menurun.

Berita Terkait : YLKI Minta Tarif MRT Sesuai Kemampuan Bayar Konsumen


"Artinya, PT Jasa Marga selaku operator Tol Sedyatmo, tidak akan mampu memenuhi berbagai indikator untuk meningkatkan pelayanan yang tercakup dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) Jalan Tol. Kecuali, jika pemerintah bisa memindahkan 30 persen pengguna tol Sedyatmo menjadi pengguna KA bandara, yang sampai sekarang masih kembang kempis, karena sepi penumpang," papar Tulus.

"Bisa kita bayangkan, jika 100 juta penumpang Bandara Soetta semuanya menggerojog via jalan Tol Sedyatmo. Alamaaak, macam mana pula keandalan jalan tol Sedyatmo?" imbuhnya.

Berita Terkait : YLKI Kritisi Kebijakan Aprindo Soal Kantong Plastik Berbayar

Dengan demikian, mengacu pada kondisi empirik seperti itu, Tulus menilai, tarif tol Sedyatmo tidak layak lagi untuk dinaikkan. "Benar, operator tol memang punya hak yang cukup kuat untuk menaikkan tarif tol per 2 tahun. Tapi ingat, hal itu bisa dilakukan, jika keandalan dan kemampuan jalan tol dapat dipenuhi, melalui standar pelayanan minimal sebagai prasyarat untuk kenaikan tarif tol," tegas Tulus.

Ia menambahkan, tanpa adanya rekayasa lalu lintas yang mumpuni untuk mengembalikan keandalan jalan tol, maka kenaikan tarif Tol Sedyatmo adalah bentuk perampasan hak konsumen sebagai pengguna jalan tol. [HES]

RM Video