Salip Kinerja Perusahaan Pelat Merah Malaysia

BUMN Kita Di Atas Angin

Klik untuk perbesar
Managing Director Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Toto Pranoto (kanan). (foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka -
Di tengah ketidakpastian global, kinerja BUMN tahun lalu cukup kinclong. Bahkan, berhasil asapi kinerja perusahaan pelat merah Malaysia. BUMN kita di atas angin.  
    
Hal tersebut terkuak dalam Seminar BUMN 2019 yang bertema Prospek BUMN di Tahun Politik di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin. 

Managing Director Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, ini merupakan pertama kalinya BUMN indonesia sejak reformasi berhasil menggungguli BUMN negara tetangga, Malaysia. Kinerja Khazanah atau BUMN Malaysia pada tahun lalu mengalami penurunan. 

“Tahun lalu, pertama kalinya mereka mencatat kerugian 6,3 miliar ringgit Malaysia, atau Rp 21 triliun,” ujar Toto.

Dia mengatakan, dinamika bisnis dan daya saing global telah merontokkan kinerja Khazanah. Salah satu yang paling mempengaruhi kinerja Khazanah adalah perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Berita Terkait : Piala FA, Setan Merah Di Atas Angin

Kondisi itu berbeda 180 derajat dengan BUMN Indonesia. Sebanyak 114 perusahaan pelat merah, termasuk holding company, ternyata justru membuatnya memiliki daya saing. 

“Data kinerja perusahaan pelat merah yang dirilis Kementerian BUMN beberapa waktu lalu, menunjukan daya saingnya naik terhadap BUMN Malaysia dan Singapura,” tambahnya.

Kendati begitu, dia meminta, BUMN tak langsung cepat puas. Dia mengimbau perusahaan pelat merah bisa belajar dari Temasek agar kinerjanya lebih moncer. Tercatat revenue yang dikantongi BUMN Singapura itu naik 10,4 persen. Sedangkan asetnya tumbuh 12,3 persen.

Toto memandang beberapa faktor menjadi kunci keberhasilan Temasek, hingga kinerjanya stabil setiap tahun. Salah satu contohnya adalah memiliki talent management yang baik. Diakuinya, saat ini talent managament BUMN Indonesia sudah mendekati Temasek.

Berita Terkait : Pelat Merah Makin Kuat

“Ini bisa menyaring the best talent, itu menjadi hal yang positif yang kalau BUMN mendapatkan sumber daya yang semakin luas,” cetusnya.

Selain itu, Toto memandang kesuksesan Temasek tidak terlepas adanya otonomi penuh pada model management investment holding. Perusahaan plat merah Indonesia sendiri saat ini mulai melakukan hal serupa dengan pembentukan holding BUMN di berbagai sektor.

Menurut dia, tren pemberitaan negatif yang belakangan sering terpublikasikan tidak menganggu kinerja BUMN. “Tanpa kita sadari, tone negatif pemberitaan BUMN telah mengaburkan capaian prestasi kinerja BUMN dalam satu tahun terakhir ini,” kata Toto  

Toto menilai, tahun politik membawa nuansa yang berbeda terhadap penilaian kinerja BUMN. Ia mengatakan, masyarakat disajikan data tentang kinerja BUMN yang dianggap loyo, dihinggapi hutang menumpuk, dan dianggap mematikan sektor swasta.

Berita Terkait : HUT Ke-21, Kementerian BUMN Gelar Event Sepanjang Maret-April 2019

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, hingga akhir 2018, aset BUMN mencapai Rp 8.092 triliun. Jumlah ini meningkat tajam dibanding 2015 yang mencapai Rp 5.760 triliun. 

Kenaikan aset juga dibarengi dengan kenaikan laba BUMN. Pada tahun lalu, BUMN berhasil kantongi laba Rp 188 triliun. “Jumlah ini naik dari 2015 yang sebesar Rp 150 triliun,” ujarnya.

Rini menambahkan, kontribusi BUMN terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun melonjak menjadi Rp 422 triliun. Naik Rp 119 triliun dibandingkan 2015 yang hanya Rp 303 triliun. 

Besarnya kontribusi BUMN dalam pembangunan infrastruktur terlihat dari belanja modal (capex) yang meningkat sepanjang 2018, yakni Rp 487 triliun. Meningkat dari empat tahun lalu yang sebesar Rp 221 triliun.  “Tetap didominasi sektor infrastruktur,” katanya. [MEN]
 

RM Video