Di Kampung Tuday, Pertamina EP Sulap Limbah Kerang Jadi Bernilai

Klik untuk perbesar
Masyarakat Kampung Tuday sedang membuat kerajinan dari limbah kerang. (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sudah sejak lama, kawasan RT 4, Desa Kutai Lama, Anggana dikenal dengan sebutan Kampung Tuday. Hampir seluruh penduduknya merupakan, pencari kerang tuday. 

Limbah kerang tuday di sana melimpah hingga ratusan kilogram (kg) per hari. Kreativitas pun akhirnya muncul untuk menyulap limbah kerang menjadi berbagai hasil kerajinan.

Sarifah, Ketua Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Bukwiskula di Kecamatan Anggana sedang asik berdiskusi dengan anggota kelompoknya Kamis (9/5) lalu. Bukwiskula merupakan kependekan dari bubuhan kreatif wisata kutai lama. 

Berita Terkait : Pertamina Cairkan Kompensasi Dampak Tumpahan Minyak

Rumahnya Sarifah disulap menjadi galeri UMKM yang menampung hasil produk para pengusaha UMKM. Tak hanya makanan, tetapi juga kerajinan tangan hasil kreatifitas tangan-tangan kreatif warga.

Jumlah anggota kelompoknya yaitu lebih dari 40 orang. Yang tertua bisa mencapai hingga usia 70 tahun. Salah satu produk dari anggota kelompoknya adalah pengolahan kerang tuday menjadi kerajinan bernilai tinggi. Bahan baku kerang pun tak sulit ditemui. Pasalnya, di salah satu RT di Kutai Lama, terdapat kelompok masyarakat yang merupakan pencari kerang tuday.


Di kampung tersebutlah, kata Sarifah, sejak puluhan tahun silam, cangkang kerang hanya dibuang dan menjadi limbah tak bernilai. Oleh warga, sebagian hanya ditaruh di teras rumah sebagai pengeras permukaan tanah. Jumlahnya kian bertambah namun tak memiliki nilai ekonomis.

Berita Terkait : Atasi Karhutla Riau, Pertamina Dukung BNPB

Hingga akhirnya, melalui pendampingan serta pelatihan dari PT Pertamina EP Asset 5 Sangasanga Field, kerang tersebut akhirnya disulap menjadi sejumlah souvenir yang bernilai tinggi. “Jadi saking banyaknya limbah kerang tuday di kampung ini, akhirnya kerang tersebut hanya dibuang-buang saja. Oleh UMKM kami, akhirnya selama setahun terakhir bisa menjadi bahan kerajinan,” kata Sarifah.

Rafeah, salah satu pengrajin kerang tuday tersebut mengatakan, dalam satu hari, ia bisa mengolah sedikitnya 40 kerajinan dari limbah kerang tersebut. Nilai jualnya dari Rp 10 ribu hingga lebih dari Rp 100 ribu rupiah. Seperti tiraih, hiasan rumah dan tempat tisu.

“Kebetulan Kutai Lama ini juga memiliki banyak event pariwisata dan sering dikunjungi wisatawan. Makanya, souvenir dari kerang ini bisa menjai salah satu oleh-oleh. Apalagi kerang juga menjadi khas di kampung pesisir,” tambahnya lagi.

Berita Terkait : Pertamina EP Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan

Bahkan, Bupati Kukar Edi Damansyah juga memberi sinyal agar kerang hasil buatan UMKM ini menjadi souvenir tamu Festival Erau tahun ini. “Dalam satu karung kerang, bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Tadinya kami hanya ibu rumah tangga saja, tapi Alhamdulillah sekarang bisa menghasilkan rupiah juga,” terangnya.

Terpisah, Public Relation Manager Pertamina EP Hermansyah Y Nasroen mengungkapkan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah salah satu wujud nyata atas kepedulian perusahaan terhadap perekonomian masyarakat yang berada di wilayah kerja Perusahaan. “Kami berharap dengan adanya program-program CSR dapat mendukung kemandirian masyarakat lokal dan memajukan potensi daerah”, tutupnya. [DIT]