Gara-gara Harga Tiket Ditekan

Saham Garuda Indonesia Sempat Anjlok 5,85 Persen

Klik untuk perbesar
Bandara Soekarno-Hatta.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bongkar pasang batas atas tarif pesawat rupanya berdampak buruk bagi saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Kemarin, harga saham maskapai pelat merah ini sempat anjlok hampir 5,85 persen, sebelum sedikit membaik dari sesi penutupan. 

Harga saham Garuda Indonesia, juga berada di zona merah sejak pembukaan perdagangan. Harga sahamnya sempat menyentuh Rp 388 atau anjlok 5,85 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya. 

Namun, harganya sedikit membaik menjadi Rp 400 pada penutupan sesi pertama, sehingga koreksinya menipis menjadi 2,93 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

Analis Valbury Sekuritas, Suryo Narpati mengatakan, penurunan TBA memberikan pengaruh besar pada saham Garuda. Terutama neraca keuangan Garuda Indonesia. Dampak khususnya, akan terjadi pada pendapatan perusahaan dari penjualan tiket pesawat.

Namun, kata Suryo, bukan berarti prospek bisnis Garuda Indonesia, langsung meredup setelah TBA diturunkan. Prospek bisnis tersebut masih bergantung pada respon pelanggan.

"Frekuensi penerbangan seperti apa, detail pendapatan per rute juga berbeda. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan," ujarnya di Jakarta kemarin.

Berita Terkait : Menpora Harap Santri Indonesia Warnai Pasar Dunia

Menurutnya, bukan hanya terkait TBA, pergerakan harga saham memang tengah tertekan oleh sentimen global di tengah memanasnya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.


Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, pelemahan saham Garuda Indonesia seharusnya tidak signifikan. Karena, kinerja perusahaan tetap akan terjaga ke depannya.

"Meskipun mahal, Garuda kan punya pasar sendiri, Garuda punya image tersendiri terhadap penumpang setianya," katanya.

Apalagi, koreksi harga saham Garuda Indonesia tak semata-mata karena kebijakan baru pemerintah terkait harga tiket. Saham perusahaan itu ikut merosot sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang meradang.

"IHSG juga lagi melempem, khususnya hari ini akibat kenaikan tarif impor China oleh Amerika Serikat," jelasnya.

Namun pihak Garuda Indonesia saat dihubungi Rakyat Merdeka enggan memberikan penjelasannya. 

Berita Terkait : Menpora Harap Pemuda Tani Bangun Masa Depan Pertanian Indonesia

Masih Kemahalan

Sementara Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meminta Kementerian Perhubungan agar berani lagi memangkas TBA tiket pesawat untuk maskapai penerbangan murah atau Low Cost Carrier (LCC) seperti Lion Air dan Citilink. 

Saat ini, Kemenhub baru menurunkan TBA tiket pesawat untuk maskapai penerbangan dengan layanan penuh atau full service seperti Garuda Indonesia dan Batik Air.


Arief menilai, cara ini dilakukan agar bisa mengangkat sedikit industri pariwisata yang terkena dampak dari tingginya harga tiket pesawat. Arief mengaku, sudah mengusulkan dan sudah membicarakan hal ini kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Sudah berkali-kali (dibicarakan), terakhir Jumat yang lalu. Saya rasa kemungkinan bisa, jadi terima kasih dulu kepada Pak BKS. Terakhir Jumat kemarin sebelum diputuskan, saya ketemu beliau secara khusus kita bicara. Saya rasa bisalah untuk yang LCC," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Arief menjelaskan, penurunan TBA untuk LCC harusnya jangan berupa himbauan tetapi kewajiban seperti yang diberlakukan untuk penerbangan full service. Apalagi pasar LCC di Indonesia, sangat besar. Sehingga dampaknya bisa besar jika tarif batas atas LCC diturunkan setidaknya sampai 40 persen.

Berita Terkait : Meski Kalah, Gaya Main Garuda Muda Tetap Oke

"Saya harap untuk LCC terutama tarif batas atasnya masih bisa diturunkan lebih besar lagi. Kalau pun tidak mau terlalu besar, itu bisa 20 persen dari yang dulu, itu masih oke. Jadi kira-kira 40 persen dari tarif batas atas," ujarnya.

Arief mencatat industri pariwisata Indonesia, terpukul akibat tiket pesawat mahal. Yang paling terasa adalah pariwisata di timur Indonesia. Dengan turunnya TBA untuk penerbangan full service bisa sedikit mendongkrak laju negatif industri pariwisata.

Untuk diketahui, pemerintah memutuskan menurunkan TBA tiket pesawat tujuan domestik sebesar 12-16 persen. Keputusan ini diambil pemerintah bersama dengan maskapai untuk menjaga kepentingan antara maskapai dengan masyarakat. Penurunan patokan harga tiket hanya berlaku untuk maskapai full service.

Penurunan TBA akan berlaku, mulai Rabu (15/5). Nantinya Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan menerbitkan aturan resmi berupa Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub). [KPJ]

RM Video