Hadapi Revolusi Industri 4.0

JK Yakin Tak Semua Profesi Diganti Robot

Klik untuk perbesar
Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali mengingatkan agar semua pihak siap menghadapi Revolusi Industri 4.0. Perubahan sudah mulai terjadi, mulai dari industri hingga gaya hidup masyarakap.

JK, sapaan akrab Jusuf Kalla mengatakan, munculnya Revolusi Industri 4.0 dan perubahan gaya hidup masyarakat yang hampir seluruhnya berbasis teknologi digital atau dikenal Society 5.0 bukan hal yang menakutkan. Tidak horor jika setiap orang sudah memahami, sehingga memiliki bekal dalam menghadapi perubahan zaman yang tak bisa dibendung.

“Ya memang kemajuan teknologi berkembang akan merubah society. Semua dari teknologi ini akan menimbulkan akibatnya,” ujar JK saat ditemui Rakyat Merdeka  dalam diskusi bertema Making Indonesia 4.0 VS Super Smart Society 5.0 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, di Jakarta, kemarin.

Adanya Revolusi Industri 4.0 akan mengubah banyak hal. Dampak yang paling terasa adalah dari dunia usaha. Pelaku usaha mesti mengikuti perkembangan teknologi, jika tidak maka akan tergerus dengan keadaan. Dari sisi perdagangan juga memiliki dampak. Misalnya, dahulu awal munculnya toko seperti mematikan warung kecil. Meski warung kecil saat ini tetap ada.

Berita Terkait : Kualitas Prajurit TNI Harus Sejalan Revolusi Industri 4.0

“Ada mall lalu mall mematikan toko, sekarang ada e-commerce yang mematikan mall. Semuanya itu ada tahapannya dan berubah sendiri,” katanya.

Tapi di sisi lain era digital telah memberikan peluang yang tak terbatas untuk para pengusaha. Terutama, bagi mereka yang memiliki inovasi dan melek teknologi. “Jadi kita harus siap pada perubahan, saya yakin semua akan ada jalannya,” katanya.

Perubahan ke arah digital memang ada tapi bukan berarti semua profesi dan pekerjaan diambil alih robot. Menurutnya, sampai kapan pun tenaga manusia tetap dibutuhkan. Jika semua menggunakan robot yang dia lihat justru berpotensi bisa merusak perekonomian.

“Dalam seminar di Jepang saya pernah bilang begini, kalau anda semua gunakan otomatisasi dengan robot tanpa manusia, lalu siapa yang nanti akan berpendapatan, siapa nanti yang bekerja,” tegasnya.

Berita Terkait : Kontribusi Industri Terhadap PDB Nyaris 20 Persen, RI Hampir Sejajar Dengan Jerman

Dia bilang, kalau sampai mayo ritas pekerja adalah mesin atau robot maka bisa menipis jum lah orang yang bekerja. Sedikit orang bekerja jelas tidak akan ada penghasilan. Kalau tidak ada penghasilan maka tidak ada yang membeli barang hasil industri. Kondisi ini yang berpotensi merusak perekonomian. Untuk itu dia yakin tenaga manusia tetap akan digunakan.

“Kalau tidak ada yang membeli barang maka ekonomi hancur, jadi kondisinya nanti tidak seperti itu. Tidak semuanya digantikan robot. Tenaganya manusia akan tetap dibutuhkan,” tutur dia.

Dia menegaskan lagi bahwa tren perubahan ini akan terus ber- jalan. Seluruh pihak mesti menyiapkan atau mengantisipasinya. Kemajuan teknologi itu ada dampaknya dan bisa menumbuhkan peluang-peluang pekerjaan baru dan peluang usaha baru. Wapres yakin perubahan ini mendorong manusia untuk menyesuaikan.

“Dahulu ada warung telepon atau wartel tapi tutup karena banyak handphone. Wartel tutup muncul penjual voucher pulsa untuk pulsa handphone. Sekarang penjual voucher mulai berkurang karena ada pembelian melalui smartphone tapi tetap masih ada peluang berbisnis,” jelasnya.

Berita Terkait : Terobosan Pendidikan, Kunci Sukses Revolusi Industri 4.0

Pemerintah juga sudah menegaskan bahwa nggak sepenuhnya tenaga manusia akan diganti mesin. Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf menjelaskan, meski berbagai perusahaan mulai menggunakan mesin atau otomatisasi dalam banyak bidang, tapi sumber daya manusia (SDM) tetap diperlukan.

Karena tak semua pekerjaan bisa dilakukan oleh mesin. “Otomatisasi ataupun digitalisasi tidak bisa dibendung, tetapi juga tak bisa mematikan seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga manusia,” kata Triawan.

Dia bilang pemerintah juga mengapresiasi para generasi milenial yang kreatif dalam me manfaatkan internet untuk berbisnis. Tidak hanya berbisnis dalam arti menjual produk, tapi juga mereka yang menciptakan pundi-pundi uang dari konten- konten kreatif melalui media sosial (medsos). “Kita mengapresiasi juga para milenial yang makin kreatif,” ucapnya. [JAR]

 

RM Video