Teknologi Berkembang

JK : Google Cs Monopoli Dunia

Klik untuk perbesar
Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoroti perkembangan teknologi yang membuat Google Cs mampu memonopoli dunia. Pelaku usaha pun didorong untuk mengikuti perkembangan teknologi agar bisnis bisa terus berjalan.

JK mengatakan, perusahaan seperti, Google, Facebook hingga Amazon sangat diuntungkan dengan berkembangnya teknologi. “Jadi ada monopoli oleh empat perusahaan ini dan akan berlanjut lebih maju lagi,” ujar JK saat memberikan pidato kunci di seminar Market Outlook Mandiri Beyond Wealth di Ballroom Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, kemarin.

Karena itu, JK mendorong dunia usaha mengadaptasi teknologi agar bisa bersaing. Menurutnya, tanpa teknologi bisnis tidak akan berjalan baik. JK juga bercerita soal pengalamannya mengembangkan bisnis yang harus menderita rugi besar karena masyarakat ke arah digital.

Salah satu bisnisnya yang terkena dampak dari perubahan gaya hidup ke digital adalah barber shop atau potong rambut di Makassar, Sulawesi Selatan. “Sebelumnya bisnis ini berjalan dengan baik tetapi perubahan gaya hidup langsung mati karena muncul digital, semua orang jadi rambut gondrong. Cukur nggak laku lagi. Mati barber shop,” ujarnya.

JK juga mencontohkan bisnis telepon kabelnya. Bisnis ini mati setelah kehadiran telepon genggam di tahun 2000-an. Padahal investasi dalam bisnis ini cukup besar, hingga jutaan dolar AS.

Berita Terkait : Perkembangan Startup Jakarta Setara Seoul Dan Tokyo

“Saya ikut seminar di Bandung di ITB, ada profesor Amerika mengatakan transaksi semua terjadi di kantong. Apa maksudnya saya nggak paham, karena waktu itu kami sudah bangga dengan adanya telepon jinjing. Saya jalani terus usaha telpon yang pakai kabel, begitu masuk gadget, tahun 2000-an saya rugi,” terangnya.

JK mengatakan, sekarang orang tidak berbicara soal keuntungan tetapi nilai atau valuasi perusahaan. “Seperti Anda semua tahu bahwa orang enggak bicara lagi keuntungan tapi nilai. Rugi terus tetapi nilai naik terus. Terjadi perubahan teknologi luar biasa dan cara mengatur bisnis yang berbeda dengan mengatur perusahaan 30 tahun lalu,” ujar JK.

Belakangan memang muncul fenomena perusahaan startup teknologi di dunia. Perusahaan ini memiliki valuasi yang terus meningkat padahal bisnisnya terus merugi. Mereka mengeluarkan dana yang besar untuk promosi demi user experiences (pengalaman konsumen).


Mereka berharap dengan semakin terbiasa masyarakat pada layanan di aplikasi menciptakan ketergantungan konsumen. Bila sudah tergantung dan menguasai pasar, mereka akan merubah skema bisnis dari merugi menjadi untung.

Hal ini pernah dilakukan oleh Google, Facebook dan Amazon. Awalnya ketiga perusahaan mengalami rugi dalam jumlah besar selama bertahun-tahun tapi kini ketiga perusahaan tersebut mencetak laba dalam jumlah besar pula.

Baca Juga : Kantor PLN Wamena Jadi Korban Demo Rusuh

Indonesia sendiri memiliki empat startup rugi tetapi valuasinya tinggi. Yakni, Gojek dengan valuasi 10 miliar dolar AS, Tokopedia 7 miliar dolar AS, Bukalapak dan Traveloka 1 miliar dolar AS. JK menambahkan, teknologi juga sudah menguasai gaya bisnis perbankan. “Tanpa teknologi, bank enggak ada lagi dewasa ini,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunadi mengatakan, digital disruption merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari. Namun, dengan penggunaan teknologi yang tepat, produktif, dan efisien hal tersebut justru bisa dijadikan keunggulan daya saing (competitive advantage) bagi perusahaan.

“Fenomena digital disruption mulai terlihat jelas salah munculnya perusahaan berbasis teknologi,” ujarnya.

Ia mengutip sebuah riset internasional dari MIT Sloan Management di tahun 2017 yang menunjukkan jika perusahaan yang mendapatkan 50 persen persen dari ekosistem digital mampu mencapai pertumbuhan pendapatan 32 persen lebih tinggi dari perusahaan yang tidak memanfaatkan keunggulan teknologi.

Di samping itu, margin laba perusahaan tercatat 27 lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang sama sekali tidak menggunakan teknologi digital. Oleh sebab itu, lanjutnya, Bank Mandiri memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan bisnisnya.

Baca Juga : Petani Minta Kenaikan Cukai Rokok Ditunda

“Bank Mandiri juga terus berbenah maju mengikuti inovasi teknologi bisnis yang ada. Wealth Management Group melalui Mandiri Private dan Mandiri Prioritas tentunya tidak ketinggalan dalam memanfaatkan teknologi tersebut,” imbuhnya.

Ia menyebut dana kelolaan lini bisnis Wealth Management Bank Mandiri mencapai Rp 205 triliun pada Juni 2019. Nilai tersebut meningkat 6,75 persen dibandingkan akhir Juni 2018. Angkanya konsisten tumbuh 8 persen-10 persen tiap tahun. Sementara itu nasabah high net worth individuals (HNWI) tercatat 55 ribu nasabah. [ASI]