Perkembangan Startup Jakarta Setara Seoul Dan Tokyo

Klik untuk perbesar
Pembicara berfoto usai diskusi Indonesia Menuju Startup Ekonomi Global di Jakarta. (Foto: Fajar/Rakyat Merdeka)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perusahaan rintisan (startup) berbasis digital terus bermunculan. Perkembangan ekosistemnya di Jakarta disebut-sebut sudah setara dengan Seoul di Korea Selatan dan Tokyo Japan.

Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), Joddy Hernady memaparkan, laporan berjudul Global Startup Ecosystem Report 2019 (GSER) yang dirilis oleh Startup Genome pada Mei 2019.

Dalam laporan itu Jakarta dianggap penantang kuat (challenger) sebagai kota dengan ekosistem startup potensial di kancah global atau The Next Top 30 Global Startup. “Jakarta itu setara dengan kota-kota besar seperti Seoul, Moscow, dan Tokyo," katanya saat ditemui di Jakarta, seperti ditulis Sabtu (20/8).

Salah satu indikasi pertumbuhan positif tersebut karena Jakarta merupakan rumah bagi 4 perusahaan startup dengan nilai valuasi lebih dari 1 miliar dolar (unicorn), yakni: Tokopedia, Go-Jek, Traveloka, dan Bukalapak. Bahkan sudah ada yang dinyatakan menjadi decacorn artinya perusahaan sudah memiliki valuasi sebesar 10 miliar dolar AS, yaitu Gojek.

Dia menuturkan, secara keseluruhan dari data yang dihimpun saat ini Indonesia memiliki 2000 startup.

Potensi pertumbuhan startup dengan ekosistemnya bisa semakin tinggi karena didorong oleh banyak faktor. Seperti dukungan pemerintah dan termotivasi dari keberhasilan unicorn.

Berita Terkait : Tuding Iran Bom Kilang Minyak, Saudi-Amerika Seiya Sekata

"Kita benar-benar mendata langsung dan potensinya masih sangat besar karena mereka termotivasi dari startup yang sudah berstatus unicorn. Ada juga program dan dukungan pemerintah yang sangat besar untuk startup," kata Joddy.

Dia bilang Lahirnya empat unicorn ini merupakan jumlah yang cukup signifikan mengingat di Asia Tenggara hanya tujuh startup yang berhasil masuk ke jajaran Unicorn (termasuk empat dari Indonesia tersebut). Startup Genome memposisikan Jakarta sebagai ekosistem startup dalam fase “Late-Globalization”. 

Ini berarti Jakarta sebagai sebuah ekosistem startup digital  memiliki posisi yang lebih baik jika dibandingkan dengan  ekosistem lainnya yang berada pada fase “Early-Globalization”  dan fase “Activation”. Startup Genome menilai Indonesia memiliki tingkat adopsi teknologi internet dan mobile yang sangat tinggi yang terlihat dari 75 persen dari transaksi belanja online dilakukan dengan menggunakan perangkat mobile. 

Menurut dia startup di Jakarta sangat bervariasi tidak hanya e-commerce tapi juga ada dari tourism, fintech, atau layanan jasa transportasi online. Tapi dari laporan GSER menyebutkan sub-sektor paling unggul di Jakarta adalah industri fintech. 


"Kecendrungannya memang paling banyak e-commerce dan fintech," tuturnya.

Fenomena ini mulai merembet ke banyak daerah di tanah air tak hanya di Jakarta. Selain ekosistem yang mendukung faktor talent di Jakarta memang sangat besar.  "Memang Jakarta, Jogjakarta, Bandung, dan Makasar itu adalah sumber talent," terangnya.

Berita Terkait : JK Dorong Milenial Bangun Startup

Ekosistem perusahaan startup terus mengalami pertumbuhan positif dan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi di banyak negara. 

Untuk mendukung hal tersebut, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersama MIKTI, memulai inisiatif untuk membawa kota-kota di Indonesia masuk ke jaringan ekosistem startup global.

Salah satunya melalui Laporan “Accelerating Indonesia To Global Startup System” dan juga rencana kajian Indeks Kota Startup Indonesia startup city, yakni Kajian Indeks yang menunjukkan level kesiapan kota-kota di Indonesia sebagai ekosistem mendukung pertumbuhan startup-startup digital.

“Indonesia memiliki empat unicorn yang telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Indonesia perlu membangun ekosistem startup bertaraf global untuk menghasilkan lebih banyak startup yang akan memberikan kontribusi kepada ekonomi. Khususnya ekonomi kreatif dan ekonomi digital,” ujar Hari Santoso, Deputi Infrastruktur Bekraf.

Menurutnya, Indonesia perlu membangun ekosistem startup bertaraf global untuk menghasilkan lebih banyak startup yang akan memberikan kontribusi terhadap ekonomi, khususnya ekonomi kreatif dan ekonomi digital.

Dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif, termasuk untuk subsektor aplikasi dan pengembang permainan, pemerintah selalu melibatkan aktor lain dari akademisi, pelaku bisnis, dan komunitas terkait.

Berita Terkait : KPK: Suap Meikarta untuk Untungkan Lippo

"Pemerintah, dalam hal ini Bekraf, bersama MIKTI dalam mengembangkan ekosistem ekonomi digital, dan juga melibatkan bank BRI untuk bersama mendukung perkembangan ekosistem startup global itu," jelas Hari.

Menanggapi hal ini, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BRI, Indra Utoyo mengklaim pihaknya punya peranan penting mewujudkan ekosistem startup global. 

“BRI memberikan dukungan terhadap ekosistem startup global. Seperti, membina talenta kreatif dengan mindset digital kami aktif sebagai anggota Aftech (Asosiasi Fintech Indonesia). Lalu, mewujudkan kolaborasi antara startup dengan program inkubasi UMKM bernama BRIncubator.," katanya.


Pihak BRI juga mengembangkan komunitas guna mendukung ekosistem startup. Bank BRI bersama beberapa universitas di Indonesia bekerjasama membuat coworking space di dalam area kampus. [JAR]