E-Commerce Banyak Sampah Digital

Industri Periklanan Rugi Rp 1,7 Triliun

Klik untuk perbesar
ilustrasi/Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Perkembangan bisnis belanja online atau e-commerce belum berdampak positif untuk industri periklanan di Tanah Air. Industri periklanan malah rugi hingga Rp 1,7 triliun karena e-commerce banyak sampah digitalnya.

Managing Director Integral Ad Science (IAS) di Asia Tenggara Laura Quigley mengatakan, pengeluaran untuk iklan digital di Indonesia akan mencapai 639 juta dolar AS atau Rp 9 triliun pada 2019. “Akan tetapi, pengeluaran iklan digital itu terancam oleh kehadiran sampah digital berupa penipuan iklan (ad fraud),” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, sampah digital membuat iklan muncul di situs abal-abal. “Situs demikian sengaja dirancang dengan menampilkan pengunjung atau engagement palsu agar pemiliknya mendulang untung lewat iklan digital,” ungkapnya.

Otomatis pihak perusahaan atau brand menjadi rugi. Pasalnya, iklan milik perusahaan tak akan mencapai target meski uang iklan sudah digelontorkan. “Itu menjadikan pasar khawatir untuk berinvestasi secara digital,” tuturnya.

Berita Terkait : Soal Impor Sampah Bekas, Industri Minta Keringanan

Laura mengatakan, hanya 43 persen dari pasar yang menyadari adanya ad fraud. “Kerugian iklan digital Indonesia tahun ini mencapai 120 juta dolar (Rp 1,7 triliun),” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pembelian iklan sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara programmatic (otomatis ke situssitus melalui software) dan publisher direct (pihak perusahaan langsung mengurus dengan situs tujuan). “Iklan secara programmatic itulah yang membawa potensi ad fraud,” katanya.

Ia mengatakan, masalah lain dari programmatic adalah brand safety. Itu terjadi ketika iklan perusahaan muncul di situs-situs bermuatan negatif atau tidak cocok dengan target situs tersebut. “Misalnya, iklan susu bayi muncul di situs dewasa,” ujarnya.


Meski ada risiko di iklan secara programmatic, Laura masih menyarankan menggunakan metode itu. Syaratnya lakukan lewat publisher iklan yang terpercaya. “Saya menyarankan dua-duanya dilakukan, karena ada publisher yang juga menyediakan programmatic,” jelas Laura.

Berita Terkait : BAKTI Dukung Siaran Digital Di Wilayah Perbatasan

Global Director Accesstrade Global Shoei Fujita mengatakan, berkembangnya e-commerce membuat industri periklanan harus diimbangi dengan inovasi. “Para pengiklan tak hanya ingin mendapatkan perhatian (awareness) dari konsumen tetapi juga ingin mendapatkan penjualan ataupun return of investment (ROI),” ujarnya.

Ia mengungkapkan, saat ini para pengiklan kian selektif untuk memilih strategi marketing. “Salah satu model marketing yang jadi alternatif yakni affiliate marketing,” katanya. Affiliate marketing merupakan suatu program revenue sharing atau pay per sale model, dalam garis besar CPA model. Di mana dalam ekosistem ini terdapat publisher dan advertiser/ merchant.

“Publisher merupakan orang yang mempromosikan iklan di website mereka dan advertiser merupakan orang yang memasang iklan,” jelasnya.

Ia menjelaskan, saat ini jumlah advertiser dan publisher di Indonesia masih kecil dibanding negara lain seperti Jepang. Meski demikian secara potensi jumlah populasi bisnis dan masyarakat di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di Asia Pasifik.

Berita Terkait : Era Digital 4.0, Petani Butuh Sentuhan Milenial 

“Karena itu kami ingin memperkenalkan lebih lanjut soal manfaat affiliate marketing secara lebih luas,” kata Shoei.

CEO Accesstrade Indonesia Prayudho Rahardjo mengatakan, pihaknya juga memperkenalkan program-program baru guna untuk menunjang kebutuhan para publisher mereka. Program tersebut telah disiapkan untuk mempermudah publisher mendapatkan komisi.

“Karena terkadang untuk melakukan proses apply campaign juga memerlukan waktu, makanya kita siapkan automatic self back bagi para publisher baru yang ingin segera mencoba pengalaman untuk menjadi publisher accesstrade,” kata Prayudho.


Prayudho menambahkan, automatic self back memungkinkan si publisher melakukan self conversion (belanja sendiri) untuk mendapatkan komisi di accesstrade karena wallet-nya akan menyatu dengan wallet dashboard accesstrade sendiri. “Kami berharap bahwa dengan menambahkan program program baru ini para publisher lebih terbantu untuk melakukan promotion serta meningkatkan pendapatannya,” pungkasnya. [ASI]