Jadi Lawan Berat Seoul & Jepang

Startup Indonesia Makin Diperhitungkan

Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Tren digital mendorong lahirnya banyak startup di Indonesia. Bahkan perkembangan ekosistemnya di Jakarta disebut-sebut sudah setara dengan Seoul, Korea Selatan dan Tokyo, Jepang. Sehingga wajar Jakarta jadi lawan berat bagi dua kota besar tersebut.

Ketua Umum Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), Joddy Hernady mengungkapkan secara keseluruhan dari data yang dihimpun saat ini Indonesia memiliki 2000 startup. Potensi pertumbuhan startup dengan ekosistemnya bisa semakin tinggi karena didorong oleh banyak faktor. Seperti dukungan pemerintah dan termotivasi dari keberhasilan unicorn.

“Kita benar-benar mendata langsung dan potensinya masih sangat besar karena mereka termotivasi dari startup yang sudah berstatus unicorn. Ada juga program dan dukungan pemerintah yang sangat besar untuk startup,” kata Joddy saat ditemui Rakyat Merdeka di Jakarta.

Dia memaparkan laporan berjudul Global Startup Ecosystem Report 2019 (GSER) yang dirilis oleh Startup Genome pada Mei 2019. Dalam laporan itu, Jakarta dianggap penantang kuat sebagai kota dengan ekosistem startup potensial di kancah global atau The Next Top 30 Global Startup.

“Jakarta itu setara dengan kota-kota besar seperti Seoul, Moskow, dan Tokyo,” katanya.

Berita Terkait : BNI Mudahkan Akses Perbankan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri

Salah satu indikasi pertumbuhan positif tersebut karena Jakarta merupakan rumah bagi 4 perusahaan startup dengan nilai valuasi lebih dari 1 miliar dolar (unicorn), yakni: Tokopedia, GoJek, Traveloka, dan Bukalapak. Bahkan sudah ada yang dinyatakan menjadi decacor.

Artinya, perusahaan sudah memiliki valuasi sebesar 10 miliar dolar AS yaitu Gojek. Lahirnya empat unicorn ini merupakan jumlah yang cukup signifikan mengingat di Asia Tenggara hanya tujuh startup yang berhasil masuk ke jajaran unicorn (termasuk empat dari Indonesia tersebut).

Startup Genome memposisikan Jakarta sebagai ekosistem startup dalam fase “Late-Globalization”. Ini berarti Jakarta sebagai sebuah ekosistem startup digital memiliki posisi yang lebih baik jika dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang berada pada fase “EarlyGlobalization” dan fase “Activation”.


Menurut dia, startup di Jakarta sangat bervariasi tidak hanya e-commerce tapi juga ada dari tourism, fintech, atau layanan jasa transportasi online. Tapi dari laporan GSER menyebutkan sub-sektor paling unggul di Jakarta adalah industri fintech. “Kecenderungannya memang paling banyak e-commerce dan fintech,” tuturnya.

Fenomena ini mulai merembet ke banyak daerah di Tanah Air tak hanya di Jakarta. Selain ekosistem yang mendukung faktor talent di Jakarta memang sangat besar. “Memang Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Makasar itu adalah sumber talent,” terangnya.

Berita Terkait : Pupuk Indonesia Amankan 1,3 Juta Ton Pupuk Subsidi

Ekosistem perusahaan startup terus mengalami pertumbuhan positif dan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi di banyak negara. Untuk mendukung hal tersebut, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bersama MIKTI, memulai inisiatif untuk membawa kota-kota di Indonesia masuk ke jaringan ekosistem startup global.

Salah satunya melalui Laporan “Accelerating Indonesia To Global Startup System” dan juga rencana kajian Indeks Kota Startup Indonesia startup city, yakni kajian indeks yang menunjukkan level kesiapan kota-kota di Indonesia sebagai ekosistem mendukung pertumbuhan startup digital.

“Indonesia memiliki empat unicorn yang telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Indonesia perlu membangun ekosistem startup bertaraf global untuk menghasilkan lebih banyak startup yang akan memberikan kontribusi kepada ekonomi. Khususnya ekonomi kreatif dan ekonomi digital,” ujar Hari Santoso, Deputi Infrastruktur Bekraf.

Menurutnya, Indonesia perlu membangun ekosistem startup bertaraf global untuk menghasilkan lebih banyak startup yang akan memberikan kontribusi terhadap ekonomi, khususnya ekonomi kreatif dan ekonomi digital.

“Pemerintah, dalam hal ini Bekraf, bersama MIKTI dalam mengembangkan ekosistem ekonomi digital, dan juga melibatkan Bank BRI untuk bersama mendukung perkembangan ekosistem startup global itu,” jelas Hari.

Berita Terkait : Rayakan Era Reiwa Bersama Tokoh Islam

Menanggapi hal ini, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BRI, Indra Utoyo mengklaim pihaknya punya peranan penting mewujudkan ekosistem startup global.

“BRI memberikan dukungan terhadap ekosistem startup global. Seperti, membina talenta kreatif dengan mindset digital kami aktif sebagai anggota Aftech (Asosiasi Fintech Indonesia). Lalu, mewujudkan kolaborasi antara startup dengan program inkubasi UMKM bernama BRIncubator,” katanya. [JAR]