Pengaduan Belanja Online Masih Ranking Satu

YLKI Desak Pemerintah Sahkan RPP Belanja Online

Klik untuk perbesar
Ilustrasi belanja online

RMco.id  Rakyat Merdeka - Diskon gede-gedean yang ditawarkan berbagai situs belanja dalam rangka Hari Belanja Nasional (Harbolnas) 12 Desember, memang sangat menggiurkan. Rasanya, ingin segera mengakses situs belanja, dan borong seketika. Tapi, tunggu dulu. Jangan gegabah. Jangan sampai Anda jadi korban belanja online. Apalagi, menurut data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), pengaduan belanja online masih menduduki urutan teratas.

Baca Juga : Wapres Maruf Minta Nadiem Cari Pengganti UN

Agar tak terjebak, Anda tentu harus tahu aturan mainnya. Pertama, Anda harus memastikan bahwa diskon yang diberikan adalah diskon yang sesungguhnya. Bukan diskon abal-abal dengan cara menaikkan harga terlebih dahulu. Kedua, pastikan Anda berinteraksi dengan pelaku belanja online yang kredibel, dengan identitas jelas. Carilah situs belanja atau pedagang online yang tidak banyak dikomplain konsumen.

Baca Juga : Kosgoro, AMPG, dan KPPG Dukung Airlangga Jadi Ketum Lagi

Ketiga, pastikan situs belanja atau pedagang online memiliki mekanisme penanganan pengaduan yang jelas. Hal ini penting diketahui, mengingat salah satu keluhan utama konsumen adalah sulitnya konsumen mengakses pengaduan, jika produknya bermasalah. Yang tidak kalah penting, pelaku pedagang online harus mengedepankan itikad baik dalam bisnis. Jangan jadikan konsumen sebagai obyek pemasaran yang unfair.

Baca Juga : Wapres Ma`ruf: Pemberian Grasi Tak Berkaitan dengan Komitmen Pemberantasan Korupsi

Karena itu, YLKI mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Terkait Perdagangan Melalui Sistem Elektronik, yang hingga kini masih mangkrak. "Ini ironis. Regulasi perlindungan konsumen kita masih lemah. Padahal, ekonomi digital kita terus bergerak. Salah satunya ditandai dengan aktivitas belanja online.  Makanya, pemerintah harus segera mengesahkan RPP Belanja Online," ujar Tulus. [HES]