RMco.id  Rakyat Merdeka - Permintaan produk makanan halal yang kian tinggi, jadi peluang manis bagi pengusaha katering. Salah satunya Halalfood.co, yang sukses dalam bisnis katering halal.

Darah wirausaha menurun di tubuh Riezka Sari (38), pemilik Halalfood.co. Sang ayah merupakan pengusaha yang juga memiliki sejumlah restoran di beberapa wilayah di Indonesia.

Namun di 2012, Riezka awalnya justru membangun usaha salon kecantikan. Dengan pengetahun seadanya, ia nekat mendirikan usaha salon.

Akibatnya, ia tak mampu menangani beragam kendala yang dihadapinya. Apalagi salon milik Riezka menerapkan cara pijat yang berbeda dari salon kebanyakan, yakni memijat namun tetap ditutupi oleh selembar kain. Konsep ini ternyata tidak disukai pelanggan, yang akhirnya membuat salonnya tutup.

“Nah dari situ, saya mulai bingung karena biasanya terima uang banyak dan ini nggak. Terus saya ada empat asisten yang saya pikir harus dikurangi tiga orang. Ibu saya bilang harus percaya sama hitungan Allah, harus yakin mereka bisa dibayar,” kenangnya kepada Rakyat Merdeka.

Lantaran ujian tersebut, membuat Riezka makin mendekatkan diri kepada Allah. Ia semakin rajin datang ke masjid untuk berdoa dan meminta petunjuk. 

Hingga akhirnya, beberapa hari kemudian Riezka ingin sekali makan durian. Ia mendatangi penjualnya dan mendapatkan durian satu pack seharga Rp 120 ribu. Menurut Riezka, harga tersebut terlalu mahal. 

Baca Juga : Melalui FGD, Fadel Gali Pandangan Akademisi dan Birokrat Soal Haluan Negara

“Duriannya sudah dikupas, tapi kayaknya mahal banget kalau harganya Rp 120 ribu. Akhirnya saya tanya kalau saya mau jual lagi berapa? Dikasihlah saya harga Rp 80 ribu. Karena mau cepat laku, saya jual Rp 100 ribu, jadi saya masih untung Rp 20 ribu,” imbuh wanita yang memiliki pendidikan psikologi ini.

Dari hal-hal seperti itu Riezka mulai mengumpulkan keuntungan untuk modal selanjutnya. Ia selalu berusaha jeli melihat peluang yang ada di sekitarnya. 

Misalnya, ketika Riezka mengantar anaknya sekolah, ia melihat peluang usaha dengan menjual pempek yang rasanya enak namun dengan harga murah. 

Saat itu ia memiliki ide dengan menjadi reseller penjual pempek tersebut. Ia menjual satu paket pempek seharga Rp 45 ribu per 10 buah dengan kemasan yang menarik. 

“Saya jualin dengan packaging bagus agar tidak kelihatan murahan. Ibu pempek itu juga sudah saya kasih keuntungan. Jadi saya dapat untung dan si ibu juga bisa jual lebih banyak setiap harinya, sama-sama untung,” katanya.

Selanjutnya, Riezka mengumpulkan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya untuk berjualan makanan seperti asinan, lemper, risol yang dimasukan ke dalam sebuah wadah atau platform yang ia bentuk yaitu halalfood.co di 2015. Dengan halalfood.co ia berniat untuk syiar dan berusaha memberikan manfaat kepada banyak orang.

“Memang semuanya berangkat dari kebutuhan ekonomi. Waktu itu dengan bergabung di halalfood.co, mereka tidak pernah menyangka jika kebanjiran order dari yang dulu 250 biji seminggu, jadi 250 sehari,” ujar dia. 

Baca Juga : PBB: Myanmar Hapus Desa-desa Rohingya dari Peta

Ia pun mulai serius untuk memulai usaha. Modal awal yang digelontorkan justru fokus untuk pemasaran melalui media online. 

Lalu ia membuat website dan brosur dengan harga Rp 3 juta. Sedangkan untuk masakan ia mengandalkan sistem preorder untuk menekan permodalan. 

“Karena tidak ada modal, jadi pakai sistem preorder dulu. Harga yang saya berikan juga murah Rp 15 ribu per porsi, setelah mereka bayar saya masak dan kirim. Dari situ saya mulai dapat keuntungan dan uangnya diputar untuk pesanan berikutnya, Alhamdulillah ini berjalan baik,” kata ibu tiga anak ini.

Riezka akhirnya mantap memulai usaha kateringnya tersebut. Bermodalkan media sosial dan informasi dari mulut ke mulut, kini halalfood.co sudah mampu memproduksi makanan dalam jumlah cukup besar. Setiap paket katering dibandrol mulai dari Rp 19-27 ribu, harga akan berbeda jika pembeli menjadi pelanggan bulanan. 

Kini omzet rata-rata Rp 100-120 juta per bulannya. Angka itu belum dihitung dengan pesanan prasmanan. “Alhamdulillah omzet sebulan di luar profit itu sudah besar. Saya selalu melayani pesanan meskipun tidak dalam jumlah besar asalkan lokasinya masih terjangkau. Jadi tidak melulu yang ratusan paket, 50 paket juga saya layani,” katanya.

Ia juga melayani katering untuk pesanan Ramadan. Setiap harinya ia menyiapkan 150 paket makanan untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya yang tidak menjalankan ibadah puasa. Sehingga di bulan Puasa, ia kirim masakan sebanyak dua kali, yaitu di jam 9 dan jam 2 siang. 

Untuk menjaga kualitas kateringnya, ia rajin memeriksa akun Instagram atau sarana promosi katering besar lainnya. Ia mempelajari sedikit demi sedikit apa saja yang dilakukan oleh usaha katering lainnya. 

Baca Juga : PSBB Jakarta, LIB Gelar Medical Workshop 2020 Secara Virtual

Selain itu, ia juga senang mengajak teman-teman memasaknya makan di restoran sebagai sarana belajar masakan baru. Jadi sambil refreshing sambil cari referensi menu baru. 

Bagi yang ingin memulai usaha, ia berpesan, dalam bisnis jangan mudah menyerah ketika membuka usaha. Jika ditekuni maka usaha tersebut akan berjalan baik. Yang terpenting juga memiliki cara khas untuk berkomunikasi dengan pelanggan. Hal ini dilakukan agar pelanggan merasa nyaman dan suka dengan pelayanan yang diberikan.

“Dan jangan berhenti mempelajari jenis masakan baru. Ini sangat pengaruh untuk usaha ke depannya,” tuturnya.

Menyoal ini, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis UIama Indonesia (LPPOM) MUI Lukmanul Hakim mengatakan, pihaknya menyambut makin banyaknya pengusaha restoran dan katering halal, khususnya di kota besar seperti Jakarta.

Hal ini terbukti dengan antusiasme para pengusaha tersebut untuk mengajukan sertifikasi halal ke LPPOM MUI DKI. Ia juga meminta, upaya yang dilakukan para pengusaha makanan tersebut bukan sekadar profit-oriented, tapi juga salah satu ikhtiar menyadarkan umat Muslim, pentingnya mengkonsumsi produk-produk halal yang bernilai ibadah.

“Hingga kini tercatat ada 59 perusahaan restoran di Indonesia yang memiliki sertifikasi halal MUI. Tapi memang masih ada restoran yang belum melakukan sertifikasi halal, karena keengganan proses sertifikasi yang lama,” ujarnya.

Proses pemeriksaan kehalalan produk memang butuh waktu yang tak sebentar, mengingat banyaknya hal yang harus dipersiapkan. Padahal, memenuhi standar halal LPPOM MUI dalam penerapan Sistem Jaminan Halal (SJH) menjadi dasar dari mulainya proses Sertifikasi Halal. [DWI]