RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Mei 2019 terjaga dengan baik. 

Hingga akhir Mei 2019 pendapatan negara tercatat Rp 728,5 triliun, atau tumbuh 6,2 persen dibanding April 2019. 
Sementara belanja negara telah terserap sebesar Rp 855,9 triliun, dan defisit APBN sebesar 0,79 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), atau sebesar Rp 127,5 triliun. 

“Secara umum, pelaksanaan APBN sampai dengan 31 Mei 2019 masih cukup baik. Realisasi defisit sebesar 0,79 persen terhadap PDB dan keseimbangan primer mencapai negatif Rp 0,4 triliun,” kata wanita yang akrab disapa Ani itu di Gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin. 

Ia mengaku, kalau defisit APBN meningkat bila dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Di mana pada Mei 2018 defisit tercatat Rp 93,5 triliun atau 0,63 persen terhadap PDB. 

Baca Juga : Serahkan Sertifikat Kekayaan Intelektual, Kemenkumham Jemput Bola Ke Daerah

“Dibandingkan Mei tahun lalu, memang defisit meningkat. Namun secara persentase semakin lebih rendah dari target APBN 2019 yang sebesar 1,84 persen dari PDB,” ujarnya lagi. 

Keseimbangan primer pun tercatat defisit sebesar Rp 400 miliar, berbalik dari realisasi periode sama di tahun lalu, yang mengalami surplus sebesar Rp19 triliun. 

“Tapi bila dibandingkan realisasi dari bulan-bulan lainnya di tahun ini, maka defisit keseimbangan primer sudah mengalami penurunan,” tambah dia. 

Ani melanjutkan, penerimaan perpajakan juga tercatat meningkat sebesar 5,7 persen lebih baik dibanding pertumbuhan bulan April 2019 yang sebesar 4,7 persen. Sedangkan pertumbuhan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 8,6 persen membaik dibanding bulan sebelumnya yang negatif 14,8 persen. 

Baca Juga : Lindungi Kekayaan Alam, Kemenkumham Serahkan Sertifikat KI ke Daerah

“Untuk penyerapan belanja negara, tumbuh 9,8 persen lebih tinggi dari periode yang sama, tahun sebelumnya sebesar 7,9 persen dan lebih baik dari bulan sebelumnya atau April 2019 8,4 persen,” ujar Ani. 

Pemerintah juga mencatat posisi utang Indonesia pada akhir Mei 2019 sebesar Rp 4.571 triliun. Dengan demikian, rasio utang terhadap PDB pada periode yang sama adalah 29,72 persen. 

“Untuk posisi utang masih pada level di bawah 30 persen yaitu 29,72 persen dari PDB dan tetap terjaga dengan aman,” kata Ani. 

Kemenkeu, kata dia, juga telah melakukan pembiayaan utang hingga 31 Mei 2019 sebesar Rp 159 triliun. Angka tersebut, mencapai sekitar 44,43 persen dari target tahun ini sebesar Rp 359 triliun. 

Baca Juga : AS Dakwa Hacker 5 Asal China dan 2 Malaysia

“Pembiayaan utang hingga Mei 2019 terealisasi sebesar Rp 159,6 triliun dan ini lebih rendah dari tahun lalu sebesar Rp 178,5 triliun. Growthnya 10,6 persen,” jelasnya. 

Menurut data APBN, realisasi Surat Berharga Negara (SBN) hingga akhir Mei 2019 mencapai Rp 186,04 triliun atau 47,83 persen dari target yang ditetapkan pada APBN 2019. 

Angka ini lebih kecil jika dibandingkan dengan realisasi SBN periode Mei tahun 2018 yang mencapai Rp 187,90 triliun. Sementara, realisasi pinjaman neto mencapai negatif Rp 26,41 triliun atau 88,89 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN 2019 dengan rincian penarikan pinjaman dalam negeri sebesar Rp 56,90 miliar dan pembayaran cicilan pokok sebesar Rp 421,7 miliar, serta penarikan pinjaman luar negeri mencapai Rp 11,27 triliun dengan pembayaran cicilan pokok pinjaman sebesar Rp 37,32 triliun. Dengan kondisi ini, Sri optimistis perekonomian pada kuartal III-2019 dan kuartal IV-2019 dapat terjaga dengan baik. [NOV]