RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan stok bahan pangan cukup untuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Kondisi itu diharapkan bisa menjaga stabilitas harga.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Tjahja Widjayanti menyatakan seluruh daerah di Indonesia sudah siap menghadapi potensi lonjakan kebutuhan pangan menjelang Natal dan tahun baru. Dia mengungkapkan, pihaknya sudah melakukan persiapan untuk menghadapi lonjakan kebutuhan pangan jelang akhir tahun sejak awal November 2018.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas dari seluruh Provinsi pada awal November lalu. Kami memberikan arahan agar daerah terus melakukan pemantauan kelancaran distribusi dan kecukupan stok pangan,” ungkap Tjahja kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Berita Terkait : Diversifikasi Pangan Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Selain dengan pemerintah daerah (Pemda), lanjut Tjahja, Kemendag juga sudah melakukan koordinasi dengan pelaku usaha. Sudah meminta pelaku usaha terus meningkatkan stok serta merealisasikan komitmen-nya menjaga kelancaran arus barang ke konsumen.

Dari pantauan di lapangan, menurut Tjahja, koordinasi itu menuai hasil positif. Dari pantauan yang dilakukan pihaknya di berbagai provinsi terutama pada daerah yang berpotensi mengalami kenaikan harga seperti di Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat, Papua, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Hasilnya, stok terpantau cukup sampai akhir tahun. Dan, untuk harganya pun relatif stabil.

Baca Juga : Gerindra: Hasil Swab Test Menteri Edhy Sudah Negatif, Sudah Enak Makan

Hasil pantauan itu sesuai dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Desember inggu I-2018, secara umum harga bapok terpantau masih stabil dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan November.

“Bahkan banyak cenderung turun. Seperti cabe harga turun 3,67 persen sampai 5,88 persen, bawang putih sebesar 2,79 persen, minyak goreng turun 0,16 persen sampai 0,60 persen, dan gula pasir turun 0,23 persen,” papar Tjahja.
 Selanjutnya