Membangun Bisnis Bermodal Rp 5 Juta

Baju Muslim Bunayya Mampu Hasilkan Omzet Rp 800 Juta

Para pembeli saat berkunjung booth Bunayya saat mengikuti bazaar di Bandung, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Para pembeli saat berkunjung booth Bunayya saat mengikuti bazaar di Bandung, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mengaku tak paham dunia fesyen, Asad Askaruddin (30) memulai bisninya benar-benar dari nol. Selama setahun ia berusaha mengenali seluk beluk fesyen. Mulai dari mempelajari bahan baku kain hingga keluar masuk kampung untuk mencari mitra konveksi. Lelahnya kini terbayar. Baju Muslim anak bermererk Bunayya telah meraup penghasilan bersih ratusan juta per bulannya.

Asad menceritakan, dalam membangun bisnisnya, mereka benar-benar memulai dari nol. Yang awalnya sama sekali tak tahu soal industri fesyen, mereka pun belajar soal seluk beluk fesyen. Mulai dari bahan baku kain, proses produksi, produk, model, hingga pemasaran selama setahun penuh. Setelah siap mental dan ilmu, barulah suami istri ini melangkah ke bisnis busana anak.

Nama merek Bunayya dipilih lantaran berarti anak-anak dalam bahasa Arab. Sebelum menikahi Salma Hanifah Wandani (29), Asad merupakan karyawan di sebuah perusahaan di Cikarang, Jabar. Setelah menikah, ia kemudian pindah ke kota kelahiran sang istri di Bandung. Saat menikah, sang istri sebenarnya sudah punya usaha busana Muslimah dengan nama House of Lyca.

Baca Juga : Wabah Corona Sudah Renggut 43 Nyawa, Iran Larang Warganya Keluar Rumah

Bisnis yang sudah berjalan tiga tahun itu sudah berkibar di jagad mode dalam negeri. Pakaian rancangan Salma pernah tampil dalam pekan mode terbesar di Tanah Air, Indonesia Fashion Week (IFW) tahun 2014. Tapi ia memutuskan menutup usahanya, dan mengajak suaminya memulai bisnis baru dari awal. Asad menyetujui ide istrinya ini, karena ia melihat bisnis busana Muslimah sudah banyak pemainnya.

“Melepas usaha merupakan keputusan yang berat tapi ini demi kebaikan. Walaupun istri saya paham dunia mode, saya memilih belajar sendiri seluk beluk dunia mode. Masa belajarnya juga berat, karena saya harus menumpang di rumah mertua di tahun-tahun awal usaha,” cerita Asad kepada Rakyat Merdeka.

Asad kemudian ikut berbagai pelatihan kewirausahaan. Dalam masa pengenalan dunia fesyen tersebut, Asad juga sering keluar masuk pasar tekstil di Bandung untuk menimba ilmu soal kain, sembari mencari pemasok yang tepat untuk usahanya kelak. Ia juga kerap berkeliling mencari penjahit untuk belajar produksi, sekalipun mertuanya punya konveksi.

Baca Juga : Tingkatkan Jumlah Penumpang, MRT Dorong Integrasi dengan Transjakarta

Asad dan sang istri pernah ingin memproduksi baju tidur khusus wanita. Dengan pertimbangan, pasarnya luas dan banyak peminatnya. Tapi, keluarga istrinya menentang, lantaran saat menjual baju itu akan memajang foto model yang mempertontonkan aurat. Nah, karena baru punya bayi, keduanya pun kepikiran untuk membuat busana Muslim anak usia di bawah dua tahun. “Pakaian anak yang beli kan bukan anaknya, tapi orangtuanya. Dan, orangtua pasti akan membelikan apa pun yang bagus buat anak-anak mereka,” katanya.

Untuk pembagian kerja, sang istri mengurus desain, produksi dan perencanaan penjualan. Sementara Asad mengurusi pemasaran. Kebetulan waktu masih berstatus karyawan, ia bekerja sebagai pemasar. Akhir 2015, Asad memulai usaha busana Muslim anak dengan merek Bunayya, yang artinya anak-anak dalam Bahasa Arab. Karena modalnya pas-pasan, mereka menjalani usaha dengan sistem purchase order (PO). 

Jadi, mereka baru memproduksi pakaian sesuai model yang dia tawarkan begitu ada order masuk dan pemesan sudah melunasi pembayaran. Sistem tersebut, katanya, masuk akal buat yang modalnya tak lebih dari Rp 5 juta. “Pekerjaan selanjutnya, bagaimana caranya agar calon pelanggan percaya? Ya kami harus memberikan produk yang bagus, berkualitas dan sesuai dengan apa yang mereka harapkan,” tuturnya.

Baca Juga : Sinergi Perusahaan Anak BNI Dukung BNI Java Jazz Festival 2020

Kemudian Asad memasarkan produknya secara online lewat Facebook dan Instagram. Untuk mempromosikan Bunayya, ia beriklan lewat Google Ads dan menggunakan jasa endorsement bertarif murah. Meski pelan-pelan, namun orangnya kenal Bunayya. Di Hari Raya Idul Fitri misalnya, selalu jadi puncak permintaan.

Di tahun awal berbisnis, ia pun bisa mengantongi omzet Rp 50 juta selama Lebaran. Angkanya melonjak menjadi Rp 300 juta pada tahun kedua. Bahkan di Lebaran tahun lalu, ia bisa mengantongi omzet bahkan hingga Rp 800 juta. “Pembeli saya bukan hanya di Jawa saja, tapi sudah meluas dari Sabang sampau Merauke. Ini juga berkat reseller yang tersebar,” tuturnya. [DWI]