PLN Bakal Bangun PLTS Apung di Cirata - Purwakarta

Pelaksana Tugas (Plt.) Executive Vice Presiden Corporate Communications dan CSR PLN Dwi Suryo Abdullah (jaket coklat) saat kunjungan ke PLTA Cirata, Purwakarta, Minggu (7/7). (Foto; Irma Yulia/Rakyat Merdeka).
Klik untuk perbesar
Pelaksana Tugas (Plt.) Executive Vice Presiden Corporate Communications dan CSR PLN Dwi Suryo Abdullah (jaket coklat) saat kunjungan ke PLTA Cirata, Purwakarta, Minggu (7/7). (Foto; Irma Yulia/Rakyat Merdeka).

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero), melalui anak usahanya PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) akan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 200 Megawatt (MW).
Rencananya, PLTS tersebut berkonsep terapung di atas Waduk Cirata, Jawa Barat, yang saat ini sudah beroperasi delapan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas total mencapai 1.008 MW.

Akhir pekan lalu, Rakyat Merdeka berkesempatan mengunjungi Waduk Cirata yang sumber airnya berasal dari sungai Citarum yang dibendung hingga mampu menghasilkan listrik di sekitar area kerja waduk Cirata, terdapat ruang pusat kontrol, hingga melihat turbin dari PLTA yang dibangun di bawah gunung.

Meski sudah beroperasi selama 31 tahun, PLTA Cirata memiliki peran besar dalam sistem kelistrikan Jawa Bali, khususnya saat beban puncak listrik terjadi. "Di sistem Jawa Bali berperan sebagai pengendali frekuensi pada sistem 500 kv (kilo volt) dan‎ penyangga beban puncak," tutur Manager Keuangan UP Cirata, Priyono.

Baca Juga : Komisi VII DPR Akan Cari Jalan Keluar Masalah Larangan Ekspor Nikel

PLTA yang dibangun pada 1983 dan beroperasi komersial pada 1988 sebanyak empat unit, dua unit beroperasi pada 1997 dan 2 unit beroperasi pada 1998 ini, menjadi salah satu andalan untuk memenuhi kebutuhan listrik. Pasalnya, dengan adanya fasilitas khusus yakni Automatic Generation Control dan Black Start untuk line charging, membuat pasokan listrik dari PLTA Cirata bisa cepat masuk ke sistem interkoneksi Jawa-Bali.

"Saat mensuplai listrik ke sistem Jawa Bali, prosesnya cepat hanya butuh 5-6 menit karena punya line charging. Jadi, di sini ada delapan unit pembangkit, dengan total kapasitas 1008 MW. Masing-masing unit memiliki 126 MW,"‎ tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt.) Executive Vice Presiden Corporate Communications & CSR PLN Dwi Suryo Abdullah menerangkan, PLTS Apung Cirata semula ingin dibangun dengan kapasitas 200 MW. Namun, setelah dilakukan feasibility study (FS/studi kelayakan) luas area waduk Cirata hanya bisa mendapatkan cahaya matahari untuk dikonversikan sebagai daya listrik hanya sebesar 145 MW.

Baca Juga : Wamen PUPR Keluhkan Pembangunan Di Daerah Lambat

"Ketika dilakukan prasurvey ternyata hanya luasan itu yang mendapatkan sinar yang paling optimal, kalau dikonversi dalam bentuk daya hasilnya 145 mw," katanya. Artinya, penurunan kapasitas tersebut, tak berkaitan dengan dana investasi yang juga diperkirakan berubah dari semula 300 juta dolar Amerika Serikat (AS) menjadi lenih rendah antara 150 -200 juta dolar AS. Sehingga, kelebihan dana yang telah disiapkan sejak awal bisa dialokasikan untuk kegiatan lain.

"Investasinya sendiri memang belum pasti berapa. Masih dalam kajian. Sekarang juga kan prosesnya sedang tender, cari mitra untuk membangunnya. Mungkin, masih belum terealisasi tahun ini, butuh waktu," akunya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengaku, ada penyesuaian kapasitas dan juga besaran nilai investasi proyek PLTS terapung Cirata.

Baca Juga : Toyota Sudah Siapkan Strategi Antisipasi Dampak Corona

Semula, PLTS terapung pertama di Indonesia ini akan dibangun dalam dua tahap, yakni tahap pertama dibangun sebesar 50 mw dan ditarget beroperasi pada kuartal II-2019. Sementara, tahap kedua hingga tahap ke empat akan dibangun dengan total 150 mw dan rencananya akan beroperasi pada 2020. "Sekarang kapasitasnya jadi 145 mw, langsung dibangun satu tahap dan ditargetkan COD (beroperasi) di 2021," tutur Rida.

Untuk proses beauty contest (pemenang tender) bakal diumumkan keputusannya pada 19 Agustus 2019. Terdapat 8 perusahaan yang mendaftar di antaranya3 perusahaan asal Jepang, 2 perusahaan asal Arab Saudi, satu perusahaan asal Tiongkok, satu perusahaan asal Korea, dan satu perusahaan asal Uni Emirat Arab yakni Masdar. [IMA]